
وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (6) يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
”(Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janjinya, tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (Ar-Rum: 6-7)
Ayat ini menurut Al-Qurthubi berbicara tentang kriteria umum orang-orang kafir atau kaum musyrik Mekkah yang hanya memperhatikan satu kehidupan saja, yaitu kehidupan dunia. Sehingga, siapapun yang bersikap demikian, tidaklah berbeda dengan orang kafir yang jelas mendapat kerugian di akhirat kelak. Mereka mengetahui kehidupan dunia sebatas untuk meraih kesenangan. Pengetahuan mereka tentang urusan duniawi justru disamakan oleh Allah swt. dengan orang-orang yang tidak tahu, karena pengetahuan seseorang yang terbatas hanya tentang dunia adalah sama dengan kebodohan. Bahkan ditegaskan dalam ayat di atas bahwa pengetahuan mereka tentang dunia pun sangat parsial, sebatas memahami sisi lahir dari kehidupan dunia yang luas ini, yaitu tentang kesenangan dan kenikmatannya saja, tidak tentang ujian, tanggung jawab, dan persoalan-persoalan penting dunia lainnya yang menghantarkan pada balasan baik di akhirat kelak.
Pemahaman seperti ini secara bahasa dapat dibenarkan seperti yang diungkapkan oleh Az-Zamakhsyari bahwa kata يَعْلَمُونَ adalah badal dari kata لا يعلمون sehingga keduanya bermakna satu, yaitu kebodohan dan ketidaktahuan. Demikian juga kata zahir dalam ayat ini mengisyaratkan bahwa dunia harus dipahami dengan dua dimensinya secara komprehensif, yaitu dimensi lahir maupun dimensi batin. Dimensi lahir terbatas pada kesenangan dan kenikmatan dunia, sedangkan dimensi batin adalah esensi dunia sebagai tempat beramal menuju kebahagiaan hidup yang sesungguhnya di akhirat kelak. Kata ظَاهِرًا yang disebut dalam bentuk nakirah ‘indifinitive’ menunjukkan bahwa pemahaman mereka terhadap dunia pun masih parsial, tidak menyeluruh, apalagi tentang kehidupan pasca kehidupan dunia.
Kecaman Allah terhadap orang kafir –karena sikap mereka yang melulu hanya mengurusi dunia– tidak berarti bahwa urusan dunia tidak mendapatkan porsi perhatian sewajarnya. Pengetahuan orang kafir tentang dunia yang dikecam oleh Allah adalah karena pengetahuan mereka yang sempit, parsial dan tidak utuh. Sehingga, orang yang beriman harus memperhatikan sisi dunia secara komprehensif sebagai bagian dari mempersiapkan kehidupan akhirat yang lebih baik agar terhindar dari kriteria orang yang lalai yang disebutkan pada petikan terakhir ayat ini وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
Lalai yang dimaksud dalam ayat ini yang dinyatakan dengan kata ‘ghafilun’ menurut Asy-Syaukani adalah dalam arti tidak memberi perhatian dan kepeduliaan tentang urusan akhirat, serta tidak mempersiapkan untuk menghadapi kehidupan tersebut dengan menjalankan ketaatan dan amal shalih sebagai bekal meraih kebahagiaan seperti yang mereka lakukan tentang urusan kehidupan dunia mereka. Dalam sebuah syair Arab disebutkan tentang konsepsi kebodohan dalam terminologi agama:
ومن البليّة أن ترى لك صاحباً … في صورة الرجل السميع المبصر
فطنٍ بكل مصيبة في ماله … وإذا يصاب بدينه لم يشعر
Dan dari kebodohan itu adalah kamu melihat seorang kawan
seakan ia seorang yang mendengar dan melihat
Ia sangat paham tentang musibah yang menimpa hartanya,
namun sangat disayangkan ia sama sekali tidak sadar tentang musibah yang menimpa agamanya
Sikap lalai terhadap urusan akhirat menurut Sayyid Quthb merupakan musibah bagi manusia yang beriman. Karena keimanan seseorang seharusnya akan membimbing dan senantiasa mengarahkan untuk juga memperhatikan dan mempersiapkan kehidupan akhirat. Karena, kelengahan terhadap akhirat akan menjadikan barometer sesuatu menjadi rancu. Segalanya diukur dengan ukuran material. Itulah bukti pemahaman yang sempit tentang kehidupan. Seorang yang memahami kehidupan akhirat akan mengubah pandangannya tentang dunia tidak melulu untuk memuaskan nafsu dan kesenangan materi semata. Tetapi, ia akan bersungguh-sungguh bekerja dan beramal untuk menyelamatkan diri di akhirat kelak. Inilah pertimbangan dan parameter yang benar tentang kehidupan yang sesungguhnya. Dan jika seseorang telah lalai akan akhirat, pasti ia akan lebih melupakan Allah swt. Padahal Allah telah menegaskan, “Dan janganlah kalian seperti orang yang melupakan Allah, maka mereka berarti telah melupakan diri sendiri. Dan itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr: 19). Oleh karenanya, Allah swt. menegaskan di ayat berikutnya tentang dua kelompok manusia, yaitu penghuni surga dan dan penghuni neraka sebagai perumpamaan bagi mereka yang hanya memperhatikan kehidupan dunia dengan mereka yang memiliki orientasi akhirat yang benar, dan itulah hakikat pemahaman yang komprehensif tentang kehidupan ini.
Sikap melalaikan urusan akhirat karena didominasi oleh perhatian yang besar tentang kesenangan dunia merupakan di antara ciri orang-orang kafir yang dikecam oleh Allah swt. Tentu penyebutan sifat mereka di dalam Al-Qur’an merupakan bahan pelajaran yang berharga bagi orang yang beriman agar tidak memiliki sikap seperti mereka. Karena jika tidak, tidaklah dikatakan orang yang beriman apabila hanya mementingkan urusan dunia dengan tidak memiliki kepedulian akan persiapan yang matang untuk kehidupan akhirat yang lebih kekal. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi, Rasulullah saw. menyebutkan ciri orang yang cerdas, ternyata terkait dengan perhatian akan kehidupan akhirat. Rasulullah saw. bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan nafsunya dan hanya berangan-angan terhadap Allah (tidak beramal).”
Demikian pelajaran yang berharga tentang gambaran orang-orang kafir yang harus menjadi pembeda dengan orang yang beriman. Kehidupan dunia ini harus mendapat perhatian sewajarnya sesuai dengan tuntunan Allah swt., karena kehidupan dunia dapat menjadi potret akan keadaan kehidupan seseorang di akhirat kelak. Jika akhir kehidupan dunianya baik, maka begitulah kehidupan yang akan dijalaninya di akhirat kelak. Namun jika penuh dengan dosa dan kemaksiatan, maka tentu hukuman siksa dan azab menjadi makanan yang tidak akan berhenti selama-lamanya di akhirat kelak. Begitu juga, kehidupan dunia harus dipahami secara utuh, terutama berhubungan dengan tugas dan tanggung jawab kemanusiaan, karena Allah menciptakan manusia tidak sia-sia. Maka, hidup di dunia ini tidak boleh disia-siakan dengan melulu mengurusi kesenangan dan kenikmatannya!
dakwatuna

“Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. Al-Hajj: 77)
Ayat ini merupakan ayat kedua terakhir dari surah yang unik dan istimewa, surah al-Hajj. Dikatakan surah yang unik karena sebagian ulama tafsir menggolongkan surah ini ke dalam kategori surah Makkiyah, namun sebagian yang lain justru sebaliknya menggolongkannya ke dalam kategori surah Madaniyah. Surah ini juga unik karena di dalamnya ada dua ayat sajdah, yaitu ayat 18 dan ayat ini seperti yang di pahami dari sebuah riwayat dari Uqbah bin Amir:
”Keutamaan surah al-Hajj karena terdapat dua ayat sajdah padanya. Barangsiapa yang tidak bersujud pada keduanya, janganlah ia membaca surah ini.” (HR. at-Tarmidzi dan Abu Dawud)
Ayat ini menggambarkan secara ringkas manhaj Allah SWT untuk manusia dan beban taklif bagi mereka agar mendapatkan keselamatan dan kemenangan. Ia di awali dengan perintah untuk rukuk dan sujud yang merupakan gambaran gerakan shalat yang tampak dan jelas, dilanjutkan dengan perintah untuk beribadah secara umum yang meliputi segala gerakan, amal dan pikiran yang di tujukan hanya kepada Allah SWT sehingga segala aktivitas manusia bisa beralih menjadi ibadah bila hati ditujukan hanya kepada Allah SWT bahkan Kenikmatan-kenikmatan dari kelezatan hidup dunia yang dirasakannya dapat bernilai ibadah yang di tulis sebagai pahala amal baik .
Ayat ini di tutup dengan perintah berbuat baik secara umum dalam hubungan horizontal dengan manusia setelah perintah untuk membangun hubungan vertikal dengan Allah SWT, dalam shalat dan ibadah lainnya. Oleh sebab itu, perintah ibadah dimaksudkan agar umat Islam selalu terhubung dengan Allah SWT sehingga kehidupan berdiri di atas fondasi yang kukuh dan jalur yang dapat membawa kepada-Nya. Sedangkan perintah untuk melakukan kebaikan, dapat membangkitkan kehidupan yang istiqamah dan kehidupan masyarakat yang penuh dengan suasana kasih sayang.
Perintah ini dipertegas kembali di akhir surah al-Hajj, bahwa umat Islam akan mampu mempertahankan eksistensinya sebagai umat pilihan dan sebagai saksi atas umat yang lain manakala mampu membina hubungan baik dengan Allah SWT dan membina hubungan baik sesama manusia:
”Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (AL-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah pelindungmu, Dialah sebaik-baik pelindung dan Sebaik-baik penolong.” (QS. al-Hajj:78)
Pada ayat di atas, Allah SWT memberi perintah kepada orang beriman agar mampu membangun kesalehan personal dan sosial secara bersamaan agar senantiasa dalam kemenangan, rukuk dan sujud merupakan cermin tertinggi dari pengabdian seseorang kepada Allah SWT, sedang ”berbuatlah kebaikan” merupakan indikasi kesalehan sosial.
Secara redaksional dalam urutan perintah ayat di atas, ternyata Allah SWT mendahulukan kesalehan personal dari kesalehan sosial. Ini berarti bahwa untuk membangun kesalehan sosial, harus dimulai dengan kesalehan personal. Atau kesalehan personal akan memberikan kekuatan untuk saleh juga secara sosial. Bahkan seluruh perintah beribadah kepada Allah SWT dimaksudkan agar lahir darinya kesalehan sosial, seperti shalat misalnya, bagaimana ia bisa mencegah dari perbuatan keji dan munkar:
“Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar.” (QS. Al Ankabut : 45)
Kisah yang diabadikan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya bagaimana seorang wanita yang saleh secara personal yang diwujudkan dengan ibadah shalat, puasa dan ibadah mahdhah lainnya namun ternyata Rasulullah SAW menyatakan bahwa ia dalam neraka. Karena ternyata kesalehan itu tidak membawanya menuju kesalehan sosial, bahkan ia cenderung tidak mampu menjaga lisannya dari tidak melukai hati orang lain.
Dalam tataran tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, terdapat beberapa hubungan dan korelasi (munasabah) yang sangat erat antara kesalehan personal dan sosial dengan nilai-nilai mulia dari ajaran Islam. Untuk menggapai predikat ihsan misalnya, seseorang dituntut untuk mampu sholeh secara individu dan sosial yang diwakili dengan shalat malam dan berinfak,
“Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz-Dzariyat : 16-19)
Ibnu Asyur mengomentari ayat ini dengan menjelaskan bahwa dua bentuk amal inilah yang sangat berat untuk dilakukan karena: pertama, bangun malam merupakan sesuatu yang sangat berat karena mengganggu istirahat seseorang. Padahal amal itu merupakan amal yang paling utama untuk membangun kesalehan personal seseorang. Kedua, amal yang melibatkan harta terkadang sangat sukar untuk dipenuhi karena manusia pada dasarnya memiliki sifat kikir dengan sangat mencintai hartanya. Di sinilah Allah SWT menguji kesalehan sosial seseorang dengan memintanya untuk mengeluarkan sebagian harta untuk mereka yang membutuhkan.
Nilai lain yang terkait dengan dua kesalehan ini, adalah sebab utama yang paling banyak menjerumuskan seseorang ke dalam neraka karena tidak mampu membentengi diri dengan dua kesalehan tersebut, seperti pernyataan jujur penghuni neraka yang diabadikan Allah SWT dalam firman-Nya,
“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab, ’Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat dan kami tidak pula memberi makan orang miskin dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya.” (QS. Al-Mudatsir : 42-45)
Resep agar tidak bersifat keluh kesah lagi kikir juga sangat terkait dengan kemampuan seseorang membangun dalam dirinya dua kesalehan tersebut secara simultan. Allah SWT memberi jaminan,
“Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang miskin yang meminta dan orang yang tidak memiliki apa-apa (yang tidak mau meminta).” (QS. Al-Ma’arij : 22-25)
Berapa banyak dari umat ini yang hanya mementingkan saleh secara sosial tapi lupa akan hubungan baik dengan Allah SWT. Sebaliknya, banyak juga yang saleh secara personal namun ketika berhadapan dengan sosial, ia larut dan tidak mampu membangun kesalehan di tengah-tengah mereka. Sungguh umat ini sangat membutuhkan kehadiran komunitas yang saleh secara personal, dalam arti mampu menjaga hubungan baik dengan Allah SWT. Saleh secara sosial dalam arti mampu memelihara hubungan baik dan memberi kebaikan dan manfaat yang besar bagi kemanusiaan. (Allahu a’lam)
Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA
dakwatuna

Oleh : Saud Alba Radinas, lc2 A. Pendahuluan
Kehidupan sangat terasa hampa dan gersang apabila sesuatu yang bernama spiritual atau ruhiyah itu hilang dari kehidupan kita. Karena memang dia adalah ruh dalam kehidupan, motor utama pergerakan, yang menghidupkan hati yang mati, yang menjadikan orang yang memilkinya mampu bersabar dan tegar dalam menghadapi berbagai tantangan berat.
Ruhiyah atau spiritual adalah hal pertama yang disiapkan oleh Allah bagi para nabi selaku pembawa risalah-Nya. Dan hal serupa juga disiapkan bagi nabi Muhammad Saw. sebagai nabi terakhir. Bekal ini juga diberikan kepada para sahabat rasulullah yang selalu setia membela Allah dan rasul-Nya dalam menyebarkan dakwah islam ke seluruh alam.
Perjuangan aktivis muslim modern untuk menyebarkan dakwah islam dan mengembalikan kejayaan umatnya adalah sebuah amal jamai yang sangat berat, penuh cobaan dan ujian keimanan. Mereka hidup di lapangan ujian yang sebenarnya. Karena memang hidup itu adalah ujian.Allah berfirman:
الم, أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
Artinya: “Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
QS. al-'Ankabut (29) : 3
Ujian keimanan itu butuh kepada bekal. Seorang aktivis muslim butuh kepada persiapan spiritual, sebagaimana para pendahulu yang membawa risalah islam ini memiliki spiritual tersebut. Oleh karena itu spiritual ini perlu dibina dan dikembang pada setiap diri aktivis muslim yang nota benenya melakukan aktivitas amaliyah untuk kepentingan islam dan kaum muslimin, yang selanjutnya pembinaan spiritual ini sering dikenal dengan tarbiyah ruhiyah.
B. Spiritual aktivis
Mari sejenak kita melihat apa itu spiritual dan apa itu aktivis.
1. Defenisi
Spiritual adalah setiap sesuatu yang berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan (rohani, batin)
Adapun Aktivis artinya adalah (1) orang (terutama anggota organisasi politik, sosial, buruh, petani, pemuda, mahasiswa, wanita) yang bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan dl organisasinya; (2) Seseorang yamg menggerakkan (demonstrasi dsb)3 .
Jadi spiritual aktivis kurang lebih adalah Ruhaniyah yang terdapat pada diri seseorang yang bekerja dan bergerak untuk kepentingan organisasinya, yang dalam hal ini adalah jamaah islam, lembaga islam, institusi pelayanan umat, tempat dimana aktivis muslim itu melakukan aktivitasnya, kemudian spiritual itu dibina dalam bingkai tarbiyah ruhiyah dengan pensucian diri dari segala bentuk kesyirikan dan menguatkan diri tersebut dengan tauhid kepada Allah, dengan berpandukan kepada sunnah Rasullullah Saw..
2. Urgensi spiritual bagi seorang muslim
Semua muslim memerlukan kekuatan spiritual dalam menjalani kehidupan ini guna sampai kepada ketaqwaan. Sehingga ia mampu menjalankan tugasnya sebagai makhluk untuk beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya.
Apalagi seorang aktivis muslim, da’I yang mendakwahkan islam dengan bidang spesifikasi yang digelutinya, mempersembahkan hidupnya untuk kemaslahatan islam dan kaum muslimin, maka ia lebih butuh kepada kekuatan ruhiyah tersebut. Karena kekuatan ruhiyah merupakan kunci dalam menentukan berhasil atau gagalnya sebuah dakwah. Setiap da’I, aktivis dan siapa yang berjuang untuk islam ini wajib memilikinya. Allah berfirman
52وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَـٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Artinya: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu sebuah Ruh (al-Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (al-Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
QS. as-Syura (42) : 52
Para aktivis itu akan berhasil bila mereka memiliki spiritual yang membuat mereka sabar dan tegar dalam perjuangannya. Allah berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
Artinya: ”Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” QS. as-Sajdah (32) : 24
3. Karakteristik aktivis muslim
Ada beberapa karakteristik yang membuat seorang aktivis muslim berbeda dari aktivis lainnya di dunia ini. Berikut adalah beberapa karakteristik tersebut.
a. Syumuliah (integralitas)
Aktivis muslim memiliki karateristik yang sangat istimewa. Dia selalu memahami bahwa semua gerak-geriknya adalah ibadah kepada Allah. Dimanapun ia beramal dan kapanpun ia beraktivitas. Dia adalah aktivis kemanusian. Dia adalah aktivis kedokteran, aktivis pertanian, aktivis mahasiswa, aktivis koperasi, aktivis kepemudaan, aktivis remaja masjid, dan apapun bidang spesifikasinya dia adalah aktivis dalam spesifikasinya. Bahkan diatas itu semua dia adalah aktivis dakwah di setiap bidang spesifikasi yang digelutinya. Iya, kita semua adalah da'I, atau aktivis dakwah di setiap bidang spesifikasi yang kita dalami karena kewajiban menyampaikan islam adalah tugas kita semua. Karena dakwah itu adalah ibadah. Karena dakwah itu adalah sebaik-baik aktivitas yang kita lakukan.
b. Tanawwu' (inovativ)
Aktivis muslim itu adalah orang yang kreativ, cerdas dan selalu memiliki inovasi baru yang lebih mantap dan lebih baik dengan tetap menjaga hal-hal yang lama yang masih baik.
c. Istimrar (berkesinambungan)
Dan aktivis muslim itu adalah orang yang tidak kenal kata menyerah seraya berhenti melakukan amalan yang semestinya ia lakukan, ia akan selalu melaksanakan amalan kebaikan dengan tertata rapi dan terorgainisir, berkesinambungan dalam amalan tersebut meskipun itu hanya amalan kecil. Tetapi selama itu selalu dibarengi dengan niat ibadah dan ikhlas karena Allah, maka akan amalan kecil tersebut akan tetap mendapatkan pahala dari Allah. Betapa banyak amalan kecil, niat ikhlas menjadikannya amalan besar. Sebaliknya betapa banyak amalan besar, niat yang salah menjadikan amalan tersebut kmenjadi kecil
d. Indhibath (disiplin)
Harus senantiasa tetap kokoh disiplin dan mengacu kepada ketentuan hukum syara’ yamg ada di dalam al-quran an sunnah. Tidak pernah keluar dari kedisiplinan tersebut Sebagaimana Allah menyebutkan :
إِنَّ هَـٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
Artinya: “Sesungguhnya Al Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.”
QS. al-Isra' (17) : 9
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
Artinya: “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?”
QS. al-Mulk (67) : 14
e. Ikhlas
Inilah standar dimana setiap aktivitas amalan yang dilakukan seorang muslim diterima oleh Allah dan diberi ganjaran sesuai niat yang ia tanamkan. Ketika label ikhlas ini terlepas dari rangkaian amalan maka aktivitas amalan tersebut tidak akan diberi ganjaran pahala oleh Allah bahkan bisa ditolak jika amalan tersebut dilakukan karena selain Allah.
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” QS. al-Bayyinah (98) : 5
f. Berakhlaq jujur, sabar, amanah, adil
Karena seorang Aktivis adalah da’I yang yang menjadi panutan bagi semua orang yang melihatnya, karena dia adalah pionir islam yang menampilkan jati diri keislamannya.
Dia selalu benar dalam beragama, dalam perkataannya dan dalam setiap amalannya. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” QS. at-Taubah (9) : 119
Sabar dala menghadapi segala tantangan dan cobaan. Karena orang yang sabarlah yang akan berhasil mencapai semua cita-citanya. Allah berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
Artinya: ”Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” QS. as-Sajdah (32) : 24
وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا
Artinya: ”Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” QS. al-Muzzammil (73) : 10
8يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: ”Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” QS. al-Mai'dah (5) : 8
g. Memiliki obsesi, visi dan cita-cita untuk maju
Mereka adalah orang yang memiliki nilai-nilai perjuangan dan selalu maju untuk membawa estafeta perjuangan itu. Sehingga dia menjadi orang yang dipilih untuk mengemban tugas berat ini. Allah berfirman:
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
Artinya: ”Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” QS. Fathir (35) : 32
h. Amar ma’ruf dan nahi mungkar dan Memelihara diri dari batasan yang ditetapkan Allah
Karena tugas ini adalah tuas agung yang menjadikan umat islam tetap memilki label khairu ummah. Jika tidak dilakukan, maka label khairu ummah akan hilang dari umat islam sebagaimana hal itu telah hilang dari orang-orang yahudi
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya: ” Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” QS. Ali Imran (3) : 104
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya: ” Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” QS. Ali Imran (3) : 110
الآمرون بالمعروف والناهون عن المنكر والحافظون لحدود الله
4. Menggapai spiritual
Kita hanya membutuhkan komitmen yang kuat untuk mencapi nilai spiritual pada diri kita. Karena amalan yang harus kita lakukan adalah amalan yang selalu kita lakukan. Hanya saja butuh keseriusan dan kesungguhan serta komitmen.
a. Komitmen dengan ibadah fardhu
Allah berfirman: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43)
عن أبي هريرة – رضي الله عنه – قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم - إن الله تعالى قال : من عادي لي وليا فقد آذنته بالحرب ، وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضت عليه ، و لا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه ، فإذا أحببته كنت سمعه الذي سمع به و بصره الذي يبصر به ، و يده التي يبطش بها ورجله التي يمشي بها و لئن سألني لأعطينه ، و لئن استعاذني لأعيذنه -رواه البخاري
Artimya: “dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, dia berkata, “Telah bersabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , “Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman, “Barang siapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku umumkan perang terhadapnya. Tidak ada bentuk taqarrub seorang hamba kepada-Ku yang lebih Aku cintai dibanding (mengerjakan) apa yang Aku wajibkan kepadanya. Dan terus menerus seorang hamba bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada-Ku dengan nawafil (amalan sunnah) sehingga Aku mencintainya. Dan jika Aku mencintai nya maka Aku menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang dia melihat dengannya, menjadi tangannya yang dia gunakan memukul, serta menjadi kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku maka Aku pasti memberinya, dan jika dia minta tolong kepada-Ku niscaya Aku pasti menolongnya.” (HR al-Bukhari)
1. Shalat berjamaah selalu.
Dari Abdullah bin Umar, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda, “Shalat berjamaah lebih utama dari shalat sendirian dengan 27 derajat.” (HR Muttafaq 'alaihi)
Dalam riwayat lainnya, Rasulullah Saw bersabda "Barang siapa shalat Isya' dengan berjamaah, maka ia seperti mendirikan shalat selama setengah malam, barangsiapa shalat Subuh berjamaah, maka ia seperti mendirikan shalat semalam suntuk" (H.R. Muslim )
2. Shubuh selalu menjadi perhatian khusus.
Dari Abu Hurairah Rasulullahbersabda:
ِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّار
ِ
“Shalat yang dirasakan paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 141 dan Muslim no. 651)
3. Zakat, puasa, haji bila mampu,
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43)
Di dalam sebuah hadits disebutkan beberpa amalan sebagai pondasi islam.
عن ابن عمر رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول (بني الإسلام على خمس شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة وحج البيت وصوم رمضان) متفق عليه
Dari Ibnu Umar bin Al-Khottob radiallahuanhuma dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan." (Riwayat Turmuzi dan Muslim)
b. Selalu melaksanakan ibadah nawafil (sunnah)
Selalu melaksanakan shalat sunnat fajar, shalat rawatib, halat dhuha
...و لا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه ، فإذا أحببته كنت سمعه الذي سمع به و بصره الذي يبصر به ، و يده التي يبطش بها ورجله التي يمشي بها و لئن سألني لأعطينه ،ولئن استعاذني لأعيذنه رواه البخاري
روى الشيخان عن أبى هريرة رضى الله عنه قال أوصانى خليلى صلى الله عليه وسلم بثلاث صيام ثلاثة أيام من كل شهر وركعتى الضحى وأن أوتر قبل أن أنام
Artinya : Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abi Hurairah r.a., beliau berkata : Kekasihku s.a.w. memberiku wasiat dengan tiga hal; 1. Puasa selama tiga hari dalam setiap bulan. 2. Dua raka`at Shalat Dhuha. 3. Berwitir sebelum tidur.
روى أبو داود أنه صلى الله عليه وسلم صلى سُبحة الضحى ثمانى ركعات وسلم من كل ركعتين
Abu Daud meriwayatkan bahwa Rasulullah mengerjakan Shalalt Dhuha sebanyak delapan raka`at dan setiap dua raka`at beliau ber-salam.
Puasa pada siang hari yang panas
عن أبي سعيد -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: ما من عبد يصوم يومًا في سبيل الله إلا باعد الله بذلك اليوم عن وجهه النار سبعين خريفًا متفق عليه، واللفظ لمسلم
Dalam sebauh hadits disebutkan bahwa rasulullah bersabda kepada Abu Dzar :
لو أردت سفراً أعددت له عدة؟ قال: نعم، قال: فكيف بسفر طريق القيامة؟ ألا أنبئك بما ينفعك ذلك اليوم؟ قال: بلى بأبي أنت وأمي يا رسول الله، قال: - صم يومًا شديد الحر ليوم النشور. - وصلِّ ركعتين في ظلمة الليل لوحشة القبور.- وحج حجة لعظائم الأمور
c. Cinta qiyamullail
Allah befirman:
يا أيها المزمل قم الليل الا قليلاً، نصفه أو انقص منه قليلاً، أو زد عليه، ورتل القرآن ترتيلا
Dalam surat al-Muzammil terlihat sekali bagaimana Alllah memperhatikan sekali Spiritual kaum muslimin dengan mewajibkan qiyamullail pada awal dakwah islam. Qiyam semalaman dengan sedikit istirahat, atau qiyam setengah malam, atau dua pertiga malam, ataupun sepertiga malam. Demikian kewajiban ini terus berlangsung hingga turun ayat terakhir dalam surat al-Muzammil tersebut menasikhkan kewajiban ini, sebagaimana yang diriwayatkan oleh sayyidah Aisyah tentang hal tersebut.
Beratnya tantangan terhadap dakwah selalu ada sampai zaman sekarang. Ini menuntut setiap aktivis untuk selalu membekali dirinya dengan spiritual yang stabil sehingga berbagai macam tantangan yang dikhawatirkan akan dapat dilalui dengan kesabaran dan ketegaran, setiap amalan akan terlaksana dengan tanpa kejenuhan dan kesulitan. Sehingga menjadiikan para aktivis tetap eksis dan prima selalu dalam setiap aktivitasnya. Tidak berguguran dalam aktivitas kebaikan yang sedang dilakukan.
اقم الصلاة لدلوك الشمس الى غسق الليل، وقرآن الفجر، ان قرآن الفجر كان مشهوداً. ومن الليل فتهجد به نافلة لك عسى ان يبعثك ربك مقاماً محمودا
ان المتقين في جنات وعيون. آخذين ما آتاهم ربهم انهم كانوا قبل ذلك محسنين. كانوا قليلاً من الليل ما يهجعون. وبالاسحار هم يستغفرون
d. Membaca alquran plus tadabburan ayatnya
Dari sayyidah Aisyah Berkata, Rasulullah saw. Bersabda:
الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
Artinya: “Orang yang mahir dalam membaca Al-Qur’an bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Dan barangsiapa membaca Al-Qur’an, sementara ada kesulitan (dalam membacanya), maka baginya dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)
e. Memperbanyak zikir dalam setiap gerak
Allah berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Artinya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” QS. al-Baqarah (2) : 152
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
Artinya: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".QS. Thaha (20) : 124
عن ابي عبد الله قال رسول الله من اكثر من ذكر الله عز وجل احبه الله، ومن ذكر الله كثيراً كتبت له براءتان، براءة من النار، وبراءة من النفاق
قال الله عز وجل : (يراؤون الناس، ولا يذكرون اللّه الا قليلا
وفي حديث عن الصادق الذاكر للّه عز وجل في الغافلين، كالمقاتل في المحاربين
f. Senatiasa bertaubat dan melakukan istighfar
Allah Berfirman:
قُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
…وتوبوا إلى الله جميعاً أيها المؤمنون لعلكم تفلحون
Artinya: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” QS. an-Nur (24) : 31
g. Memperkuat ibadah qalbi
Merasakan muraqabatullah, takut kepada Allah.
من خاف الله تعالى خافه كل شيء ومن خاف غير الله خوفه الله من كل شيء
Mencintai Allah, Allah berfirman:
قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Artinya: “Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” QS. at-Taubah (9) : 24
Mencintai rasul
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” QS. al-Ahzab (33) : 21
1. Mencintai para sahabat
الرسول صلي الله علية وسلم " اصخابي كالنجوم بايهم اقتديتم اهتديتم
h. Bersedekah
Allah Berfirman:
لَن تَنَالُوا البِرَّ حَتَّى تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ومَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فَإنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ} [سورة آل عمران: 92]؟ وقال تعالى: {ومَا تُنفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلأَنفُسِكُمْ} [سورة البقرة: من الآية 272]، وقال تعالى: {ومَـا تُـنـفِـقـُـوا مِن شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إلَيْكُمْ وأَنتُمْ لا تُظْلَمُونَ} [سورة الأنفال: من الآية 60]
إنَّـمَـا المُـؤْمِـنُـونَ الَـذِيـنَ آمَـنُـوا بِاللَّهِ ورَسُـولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ} [سورة الحجرات: 15
5. Penyebab dan indikasi lemahnya spiritual
a. Keringnya hubungan dengan Allah, hati keras, meski tampilan wajah kelihatan lembut.
b. Lemahnya ikatan ukhuwah dan hilangnya solidaritas kesetiakawanan.
c. Kebiasaan tidak disiplin
d. Tidak bisa khusyuk sholat dan beribadah lainnya, karena hati sibukdengan dunia.
e. Tidak bisa menerima nasehat dan kritikan orang lain.
f. Tidak bisa menerima perbedaan pendapat dan idak bisa mengakui kesalahan.
g. Meninggalkan kataatan dan sibuk dengan dunia
h. Menganggap enteng dan tidak sungguh-sungguh dalam beramal
i. Ujub dan takabbur serta tidak mau menerima kebenaran dan pendapat orang lain atau jamaah lain selain pendapat jamaahnya.
C. Penutup
Sangat besar peranan dan pengaruh spiriyual dalam pembinaan, perbaikan dan pembaharuan ummat denan spiritual ini akan tersingkap makna dan hakikat. Terbukalah rahasia-rahasia yang hanya dapat di tangkap oleh orang yang cerdas dan bertakwa. Tidak ada satu batu karangpun yang menghadang kecuali dapat ditembus. Jangankan untuk menguasai Roma, semua dunia akan dapat ditaklukkan. Gunungpun akan dipindahkan jika itu adalah sebuah kemestian.
قال صلى الله عليه وسلم:" إن الله زوى لي الأرض فرأيت مشارقها ومغاربها وإن أمتي سيبلغ ملكها ما زوي لي منها " الحديث ... رواه مسلم وابن ماجه
Artinya: “Sesungguhnya Allah telah memperlihatkan kepadaku bumi ini, maka akupun melihat timur dan barat bumi tersebut. Dan sesungguhnya umatku, akan sampai kerajaan mereka kepada bumi yang aku lihat.(H.R. Muslim dan Ibnu Majah)
Bangkitlah. Masa depan itu milik islam. Berssabarlah menuju kebangkitan. Karena kemenangan itu sangat mahal dan butuh pengorbanan harta bahkan jiwa.
Wallahu A’lam
Dari berbagai sumber
1. Fiqh al-Harakah fi al-Mujtama’, oleh Ustadz Jamal Madhy. Cetakan 2004. Penerbit Dar al-Da’wah dan Dar al-Madain Alexandria –Mesir
2. Ushul al-Amal al-Khairy fi al-Islam, oleh Imam Yusuf al-Qaradhawy. Cetakan ke 2 tahun 2007. Penerbit dar al-Syuruq Cairo-Mesir
3. Qawaib al-Najah fi hayati al-Du’ah, oleh Ustadz Fathy Yakan. Cetakan 2007. Penerbit Muassasah al-Risalah Beirut–LIbanon
4. Al-Thariq ila al-Rabbaniyah, oleh Dr. Majdy al-Hilaly. Cetakan 2009. Penerbit Dar al-Andalus al-Jadidah Cairo –Mesir
5. Al-Mutasaqithun ‘ala Thariq al-Da’wah’, oleh Ustadz Fathy Yakan. Cetakan 2001. Penerbit Muassasah al-Risalah Beirut–LIbanon
6. Shuwar marfudhah ihdzarha akhy al-Da’iyah, oleh Dr. Majdy al-Hilaly. Cetakan 2007. Penerbit Dar al-Andalus al-Jadidah Cairo –Mesir
7. Kekuatn Akhlak Sang Da’i, oleh Ustadz Salman Fahd al-‘Audah. Diterjemahkan oleh H. Harjani Hefni, MA. Cetakan 2005. Penerbit Pustaka Nawaitu Jakarta–Indonesia
8. Fi Zhilal al-Quran, oleh Ustadz Sayyid Quthub. Cetakan ke 33 tahun 2004. Penerbit dar al-Syuruq Cairo-Mesir
Catatan
1 Tulisan ini disampaikan pada acara Pelatihan Leadership pada hari Jumat, 12 Maret 2010 M di Maqar DPD PPMI Zagazig-Egypt
2 Penulis adalah Mahasiswa Program S-2 Pasca Serjana Universitas Al-Azhar Cairo 2009/2010
3 Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi 3 Cetakan 2005 dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Penerbit Balai Pustaka. (Diambil dari KBBI offline di http://steven.blogs.masterweb.net/2009/05/21/kbbi-versi-stardict/)

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (Al-Ashr: 1-3)
Surah ini termasuk golongan Makkiyah yang diturunkan sesudah surah Asy-Syarh dan terdiri dari tiga ayat. Sayyid Quthb memahami aspek i’jazul Qur’an yang ketara pada surah pendek ini yang memang merupakan keistimewaan Al-Qur’an. Sebagai contoh misalnya, irama surah ini menunjukkan satu keserasian dimana pada akhir setiap ayatnya ditutup dengan huruf “ra”. Susunan redaksinya juga indah; berawal dari yang terpendek hingga yang terpanjang. Hanya dalam tiga ayat, tergambar dengan gamblang manhaj dan rambu-rambu kehidupan manusia yang dikehendaki oleh Islam yang berlaku sepanjang zaman dan pada setiap generasi. Memang hanya ada satu manhaj dan jalan keselamatan dari kerugian seperti yang dirumuskan dalam surah ini, yaitu iman, amal shalih, saling menasehati dalam mentaati kebenaran dan saling menasehati dalam menetapi kesabaran.
Surah ini diawali dengan sumpah. Sumpah Allah dengan salah satu makhluknya yang terpenting yang menentukan kehidupan manusia, yaitu waktu, baik seluruhnya maupun sebagiannya. Dalam satu “masa” terdapat beberapa keadaan; sakit dan sehat, suka dan duka, demikian seterusnya saling berpasangan. Bahkan dalam sebuah ‘waktu’ tersimpan segala jenis peristiwa dan kejadian. Karena keagungan waktu inilah maka Allah bersumpah dengannya. Dan memang Allah berhak bersumpah dengan apapun yang dikehendakinya dari seluruh makhlukNya, sedangkan manusia hanya boleh bersumpah dengan Allah dan nama-nama atau sifatNya yang mulia.
Terdapat banyak pemahaman para ulama tentang maksud ‘Al-Ashr’ yang menjadi sumpah Allah dalam surah ini. Hasan Al-Bashri berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ‘Al-Ashr’ adalah waktu petang, karena pada waktu inilah berakhirnya segala aktifitas manusia, sehingga tinggal menghitung untung dan rugi dari apa yang telah dilakukannya semenjak pagi hingga waktu petang. Dalam konteks waktu, sebagian ulama menyimpulkan bahwa biasanya Allah bersumpah dengan waktu dhuha dalam konteks keberuntungan dan dengan waktu petang dalam konteks kerugian.
Makna lain dari kata ‘Al-Ashr’ yang masyhur adalah sholat Ashar. Shalat Ashar merupakan sholat yang utama dan diperintahkan khusus oleh Allah untuk dipelihara dan dijaga melalui firmanNya: “peliharalah oleh kalian shalat-shalat kalian dan shalat wushtho, yaitu sholat Ashar”. (2: 238). Bahkan Rasulullah bersabda mengagungkan shalat yang satu ini dalam salah satu haditsnya: “Barangsiapa yang tertinggal shalat Ashar, maka ia seolah-olah kehilangan keluarga dan hartanya”. Dalam riwayat lain dinyatakan: “maka sia-sialah semua amalnya”. (Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Imam Ahmad). Disini Al-Biqa’i menemukan korelasi yang indah antara lafadz ‘insan’ yang merupakan sebaik-baik jenis makhluk Allah yang diciptakan dalam sebaik-baik kejadian (bentuk) dengan lafadz “Ashr” yang merupakan waktu pilihan, ibarat minuman jus yang dipilah dan diperas dari buah yang segar yang diistilahkan dalam bahasa Arab ‘Ashir.
Secara redaksional, bentuk nakirah (indifinitive) pada lafaz “khusr” menunjukkan besarnya kerugian yang akan diderita oleh setiap manusia dan juga untuk menghinakan manusia yang menderita kerugian tesebut, karena kerugian itu meliputi kebinasaan diri dan usianya. Atau bentuk nakirah juga menunjukkan umumnya kerugian tersebut. Seperti yang dinyatakan oleh Al-Alusi bahwa kerugian yang disebut oleh ayat bersifat umum mencakup segala jenis kerugian; duniawi maupun ukhrawi. Seperti kerugian dalam perniagaan, kerja-kerja manusia maupun pemanfaatan usia yang akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah swt. Apalagi bahwa pernyataan Allah tentang kerugian setiap manusia dalam ayat ini diperkuat dengan dua huruf ta’kid (penegasan), yaitu Inna yg berarti sesungguhnya dan La yg berarti benar-benar.
Keumuman ayat kedua dapat difahami dari lafadz ‘insan’ yang didampingi oleh alif dan lam yang menunjukkan makna yang umum. Meskipun ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ‘manusia’ pada ayat ini adalah segolongan orang kafir seperti Al-‘Ash bin Wa’il, Al-Walid bin Al-Mughirah dan Al-Aswad bin Abdul Muthalib bin Al-Asad, namun tetap umumnya lafadz lebih kuat daripada khususnya ayat yang terbatas pada mereka yang telah menerima kerugian. Sehingga siapapun tanpa terkecuali tidak akan bisa terlepas dari kerugian melainkan jika ia berpegang teguh dengan ajaran yang terkandung pada ayat terakhir surah ini, yaitu iman, amal shalih dan saling menasehati untuk menepati kebenaran serta saling menasehati dalam kesabaran.
Iman dan amal shalih yang menjadi syarat pertama keluar dari kerugian merupakan dua hal yang saling terkait, ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Artinya tidak berguna dan akan mati iman seseorang tanpa amal shalih, begitu sebaliknya sia-sialah amal shalih yang tidak berlandaskan iman. Dari iman berasal setiap cabang kebaikan dan dengannya terkait setiap buah kebaikan. Oleh karena itu, Al-Qur’an dengan tegas menghancurkan nilai seluruh amal perbuatan, selagi amal perbuatan itu tidak didasarkan pada iman yang menjadi pendorong dan penghubung dengan Sang Maha Wujud. “Dan orang-orang yg kafir, amal perbuatan mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yg datar, yg disangka air oleh orang yg dahaga, tetapi bila didatanginya air itu, dia tdk mendapatinya suatu apapun”.(AN-Nur: 39). Secara impelementatif, Iman adalah gerak dan amal, pembangunan dan pemakmuran menuju Allah. Ia bukan sesuatu yang pasif, layu dan bersembunyi di hati nurani. Juga bukan sekedar kumpulan niat yang baik yang tidak tercermin dalam bentuk perbuatan & gerak.
Ayat yang terakhir dan terpanjang dalam surah ini merupakan gambaran kepedulian seorang mukmin dengan saudaranya tentang kebaikan. Saling berpesan dalam kebenaran tentu sangat diperlukan, karena melaksanakan kebenaran itu butuh bantuan orang lain. Saling berpesan berarti mengingatkan, memberi dukungan, memotivasi dan menyadarkan. Dan seseorang tidak akan mungkin mampu melaksanakan kebenaran dan kebaikan yang sempurna secara personal, tanpa keterlibatan orang lain. Demikian juga saling berpesan dengan kesabaran sangat diperlukan karena akan bisa meningkatkan kemampuan, semangat dan perasaan kebersamaan. Apalagi dalam meyakini, menjalankan dan menyeru kebenaran tadi bisa jadi akan menghadapi hambatan, rintangan dan tantangan dalam beragam bentuknya. Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan, “Kesabaran adalah setengah dari (realisasi) iman seseorang”. Disinilah urgensi kepedulian seorang mukmin dengan suadaranya dalam dua hal yang saling berkaitan; kebenaran dan kesabaran.
Yang menarik untuk dicermati mengenai tafsir surah ini adalah pendapat Al-Wahidi dalam kitab tafsirnya Al-Wajiz fi Tafsir Al-Kitab Al-Aziz. Beliau mengemukakan secara spesifik contoh mereka yang telah mendapat kerugian dan keberuntungan berdasarkan urutan dalam mushaf. Abu jahal merupakan representasi dari orang yang merugi. Abu Bakar merupakan sosok yang sesuai dengan implementasi iman. Umar bin Khattab mewakili orang-orang yang beramal shalih. Utsman bin Affan merupakan contoh nyata dari mereka yang saling menasehati dalam kebenaran dan Ali bin Abi Thalib identik dengan golongan yang saling menasehati dalam kesabaran. Lebih lanjut As-Syanqithi dalam tafsir ‘Adhwa’ul Bayan mengemukakan Mafhum mukhalafah dari setiap ajaran dalam surah ini; mafhum mukhalafah dari keberuntungan adalah kerugian, yaitu tdk beriman (kafir), tidak beramal atau beramal buruk, tidak berpesan dengan kebenaran atau berpesan tetapi dengan kebatilan serta tidak berpesan dengan kesabaran atau senantiasa berkeluh kesah.
Sungguh setiap kita mendambakan kesuksesan, keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak. Tidak ada jalan dan manhaj lain melainkan mengamalkan kandungan surah ini secara totalitas seperti yang pernah dicontohkan oleh para sahabat Rasulullah saw. Disebutkan bahwa tidaklah dua orang sahabat Rasulullah bertemu, melainkan salah seorang dari keduanya akan membacakan surah ini sebelum berpisah, kemudian saling mengucapkan salam dan saling berjanji serta berkomitmen untuk tetap berpegang teguh dengan iman dan beramal shalih, saling berjanji untuk senantiasa berpesan dengan kebenaran dan dengan kesabaran dalam menjalani kehidupan mereka.
Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ (207)
dakwatuna.com - “Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk meraih ridha Allah swt. Dan adalah Allah Maha Penyantun terhadap hamba-hamba-Nya”. (Al-Baqarah: 207)
Berdasarkan sebab nuzul yang dikemukakan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Adhim, ayat ini memberi gambaran konkrit tentang seseorang yang rela mengorbankan segala yang dimilikinya semata-mata untuk meraih ridha Allah dalam seluruh totalitas kehidupannya. Karena ia yakin, ridha Allah merupakan target puncak dari sebuah proses panjang keimanan yang merupakan implementasi nyata dari kesempurnaan takwa ‘كمال التقوى ‘, sebuah terminologi agung yan dikemukakan oleh Mufassir Abu Su’ud ketika memahami perilaku sahabat Rasulullah yang menjadi sebab turunnya ayat ini.
Adalah seorang sahabat Shuhaib bin Sinan Ar-Rumi yang rela mengorbankan seluruh yang dimilikinya karena tekanan kaum Quraisy agar ia diperkenankan untuk berhijrah ke Madinah. Shuhaib dihalangi oleh para pemuka Quraisy untuk berhjrah melainkan ia menyerahkan seluruh hartanya kepada mereka tanpa tersisa sedikit pun. Dengan tanpa ragu-ragu, ia meninggalkan hartanya di Mekah semata-mata mengharapkan ridha Allah dari perbuatan hijrahnya yang mulia tersebut. Setelah sampai di Madinah dan bertemu dengan Rasulullah, beliau memujinya dengan ungkapannya yang masyhur : رَبح صهيبُ، ربح صهيب (sungguh telah beruntung Shuhaib). dalam riwayat lain: ربح البيع، ربح البيع (sungguh telah beruntung perniagaannya).
Dalam konteks ayat ini, Ar-Razi menukil riwayat bahwa Umar bin Khattab pernah mengutus pasukan dan berhasil mengepung benteng pertahanan mereka. Karena tidak mampu menembus benteng tersebut, tiba-tiba seseorang berinisiatif untuk menerjunkan dirinya di tengah-tengah musuh untuk membuka pertahanan mereka sampai akhirnya orang tersebut menemui ajalnya. Setelah pertempuran berakhir dengan kemenangan di pihak pasukan Umar bin Khattab atas keberanian sahabat tersebut, beberapa pasukan mengomentari apa yang dilakukan oleh orang tersebut yang dianggap membinasakan diri sendiri. Umar bin Khattab menampik pandangan mereka dan mengatakan: “Kalian telah berdusta dengan ucapan kalian itu. Semoga Allah merahmatinya”. Kemudian Umar membaca ayat ini untuk membenarkan perbuatan yang dilakukan oleh sahabatnya tersebut.
Ar-Razi menutup pembahasan riwayat ini dengan mengemukakan bahwa barometer untuk menentukan seseorang tersebut termasuk dalam ayat ini atau sebaliknya membinasakan diri sendiri dengan perbuatan berani tersebut adalah kesesuaiannya dengan syariat. Jika ia melakukannya sesuai dengan tuntutan syariat maka itu dibenarkan dan masuk dalam kategori ayat ini. Namun jika sebaliknya, maka barulah dikatakan orang tersebut telah membinasakan diri sendiri dengan perbuatan nekad tersebut.
Berdasarkan korelasi pembahasannya, ayat ini merupakan pembanding dari tiga ayat sebelumnya (Al-Baqarah: 204-206) yang berbicara tentang sikap dan perilaku orang-orang munafik yang rela mengorbankan segalanya semata-mata untuk meraih keuntungan duniawi. Maka Allah menghendaki sikap mengagumkan yang harus ditunjukkan oleh orang yang benar-benar beriman yang membedakannya dengan orang munafik, yaitu kesiapannya untuk memenuhi perintah Allah meskipun harus dengan mengorbankan segalanya demi meraih gelar tertinggi di mata Allah. Karena dengan meraih ridha Allah, segala kebaikan, kemuliaan dan keberkahan hidup akan senantiasa menyertainya dan Allah akan senantiasa hadir dengan sifat Penyantun yang ditegaskan oleh kalimat terakhir ayat ini: “Dan Allah Maha Penyantun terhadap hamba-hambaNya (yang rela mengorbankan segalanya untuk Allah)”.
Inilah pelajaran berharga yang ditunjukkan oleh ayat ini menurut Sayyid Quthb dalam tafsir Dzilalnya. Pelajaran tentang dua tipe manusia sepanjang zaman; seorang munafik yang menjadikan seluruh hidupnya demi kepentingan dunia dan seorang mukmin yang benar yang menggadaikan totalitas hidupnya untuk Allah, tanpa tersisa sedikitpun untuk selain-Nya. Maka secara spesifik di ayat selanjutnya Allah mengarahkan orang-orang yang beriman agar menjadikan totalitas hidupnya dalam kerangka berIslam secara utuh tanpa ada keraguan sedikit pun. Allah swt berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (208)
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara kaafah dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kalian”. (Al-Baqarah: 208)
Berislam secara kaaffah seperti yang diperintahkan oleh Allah dalam ayat ini berarti meninggalkan segala bentuk langkah syaitan secara totalitas juga. Terbawa dan hanyut dalam salah satu dari jerat syaitan akan mengurangi totalitas keislaman kita. Karenanya, langkah-langkah syaitan dimaknai oleh para ulama dalam arti setiap perbuatan maksiat kepada Allah swt.
Di sini, berislam secara kaaffah sebagai wujud dari motifasi untuk meraih ridha Allah akan senantiasa berdepan dengan beragam langkah syaitan yang secara sistemik dan berkesinambungan berusaha mereduksi keyakinan untuk berislam secara totalitas dalam beragam bentuk dan tampilannya. Inilah yang harus diantisipasi dan diwaspadai oleh segenap orang yang beriman tanpa harus lengah sedikit pun
Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu Mengetahui.” (Al-Anfal: 27)
Ayat ini menyebutkan secara prioritas tingkatan amanah yang harus ditunaikan oleh setiap orang yang beriman; amanah Allah, amanah Rasul-Nya dan amanah antar sesama orang beriman.
Yang menarik dari redaksi ayat ini adalah bahwa perintah menjaga amanah langsung menyebutkan lawan dari amanah yaitu khianat. Sehingga kata kunci dari ayat ini lebih tertuju kepada larangan mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.
Secara redaksi juga, ayat ini tidak menyertakan kata (لا) pada amanat manusia seperti yang tersebut pada amanat Allah dan Rasul-Nya menurut Ar-Razi bahwa ini merupakan jawaban atas pengabaian amanat Allah dan Rasul-Nya. Artinya, jika kalian mengkhianati amanat Allah dan Rasul-Nya maka kalian berarti telah mengkhianati amanat di antara kalian sendiri. Dalam kata lain, menjaga kepercayaan Allah dan Rasul-Nya merupakan benteng yang paling kokoh agar seseorang mampu menjaga kepercayaan sesamanya.
Lebih ketara lagi bahwa ayat ini diawali dengan seruan kepada orang-orang yang beriman yang seharusnya menjadi contoh bagi umat yang lain dalam hal menjaga kepercayaan. Karena Rasul sendiri mengisyaratkan dalam haditsnya bahwa keimananan seseorang masih perlu dibuktikan dengan ujian menjaga kepercayaan. Bahkan seseorang dicap tidak beriman manakala tidak mampu menjaga amanat. Rasulullah saw. bersabda:
لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَه
“Tidak ada iman bagi yang tidak ada amanat padanya (menjaga amanat) dan tidak ada agama bagi yang tidak ada janjinya baginya (memenuhi janji).” (H.R. Imam Ahmad)
Bahkan menurut kesaksian Anas bin Malik ra. sebagai perawi hadits ini bahwa Rasulullah tidak pernah berkhutbah melainkan menyertakan hadits tentang ketiadaan iman bagi yang tidak menjalankan amanat.
Pengkhianatan amanat dalam beragam bentuknya merupakan hal yang terlarang dan sangat dibenci oleh siapapun. Menurut Zamakhsyari, khianat secara bahasa berarti An-Nuqshan (kurang), sedangkan anonimnya amanat diartikan dengan At-Tamam (sempurna). Ini berarti segala bentuk amanat agar tidak termasuk mengkhianatinya haruslah dilaksanakan dengan sempurna dan sesuai dengan tuntunan dan tuntutan sang pemberi amanat. Jika dilaksanakan apa adanya, cenderung asal-asalan dan tidak sungguh-sungguh meskipun ia telah menjalankannya, maka tetap saja berlaku istilah khianat untuknya berdasarkan makna bahasa yang cukup tajam ini.
Pengurutan amanat yang Allah sebutkan di ayat ini tidak sekedar untuk memenuhi syarat keindahan bahasa dan redaksi Al-Qur’an, lebih dari itu tentu, pengurutan ini memberi pesan bahwa amanat Allah dan Rasul-Nya adalah yang paling tinggi, besar dan berat tanggung jawab dan konsekuensinya. Dapat dikatakan seseorang yang mampu menjaga amanat Allah dan Rasul-Nya, pastinya ia akan mampu juga menjaga kepercayaan sesamanya. Namun jika tidak, tentu sangat berat baginya untuk melaksanakan kepercayaan manusia karena kepercayaan Allah dan Rasul-Nya sendiri yang lebih tinggi nilai dan urgensinya sangat mudah ia abaikan.
Dalam konteks menjaga kepercayaan Allah, Ibnu Katsir memaknainya dengan menjaga kewajiban yang diperintahkannya dengan sebaik-baiknya. Seseorang yang mampu menjaga shalatnya, puasanya, zakatnya, baktinya dan ibadah yang lainnya maka ia tentu akan dipercaya untuk menjalankan amanat yang lainnya. Namun jika seseorang tidak mampu menjalankan kepercayaan pada satu jenis ibadah, jangan harap ia akan mendapat kepercayaan Allah untuk menjalankan ibadah yang lainnya. Dengan demikian, berusaha menjalankan seluruh kewajiban Allah dengan sebaik-baiknya tanpa terkecuali merupakan bukti bahwa ia layak mendapat kepercayaan Allah pada seluruh aturan dan syariat-Nya. Dan berbahagialah ia dengan penghargaan tersebut. Namun jika sebaliknya, maka tidak akan mungkin Allah akan memberikan kepercayaan untuk menjalankan syariat-Nya di muka bumi ini. ‘Sekali lancing ke ujian, selamana ia tidak akan dipercaya’.
Menjaga kepercayaan Rasul adalah dengan menjalankan sunnah-sunnahnya secara komprehensif dalam seluruh praktik kehidupan nyata Rasulullah; dalam beribadah, dalam berdakwah, menjaga amanat keluarga, masyarakat dan menjalankan amanat kepemimpinan umat. Seluruhnya akan menjadi barometer apakah kita termasuk yang mampu menjaga kepercayaan Rasulullah saw. pasca kewafatan baginda. Justru komprehensifitas kehidupan Rasul yang telah ditentukan oleh Allah adalah pertanda bahwa sunnahnya memang mencakupi seluruh kehidupan manusia, tidak dibatasi pada wilayah ibadah mahdhah dan sebagainya.
Bangsa yang mayoritas muslim ini sedang diuji dengan ujian kepercayaan. Sejauh mana mereka lulus dan baik menjalankannya, akan semakin besar perlindungan dan rahmat Allah terhadap bangsa ini. Tentu masih terbuka bagi kita untuk terus mengintrospeksi dan mengevaluasi tingkat ‘kepercayaan’ kita di mata Allah, Rasul-Nya dan masyarakat secara umum. Sebelum terjadi hal yang lebih buruk lagi di bangsa ini, sebelum segalanya terjadi seperti yang diprediksikan oleh Rasulullah saw: “Jika amanat diabaikan maka tunggulah kehancurannya.” (H.R. Bukhari).
Sungguh setiap kita, sebagai apapun terutama sebagai orang yang beriman seharusnya senantiasa memperhatikan aspek kepercayaan ini dengan sepenuh hati sehingga keimanan kita benar-benar dapat dipercayai dan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah swt. Allahu a’lam
Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA