Oleh: Saud Alba Radinas, LcA. Pendahuluan
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan berbagai macam kenikmatan kepada kita, terutama nikmat islam dan nikmat iman. Nikmat yang patut selalu kita syukuri, karena kehidupan ini hanyalah cobaan bagi manusia untuk menentukan pilihan pribadinya di kehidupan abadi kelak, kehidupan surga atau kehidupan neraka.
Untuk menjalankan pilihan tersebut, Allah telah menurunkan risalahnya kepada manusia melalui para Rasul yang ditutup oleh Rasul mulia Muhammad Saw. Kepada beliau Al-Quran diturunkan beserta As-Sunnah sebagai penduan perjalanan hidup manusia
Orang yang sukses dalam kehidupan ini dan mampu menguasai dunia adalah mereka yang berpegang dengan dua pedoman ini. Tidak heran apabila benyak kedengkian manusia kepada orang-orang yang berpegang dengan Al-Quran dan As-Sunnah, kemudian melakukan konspirasi dan maker terhadap dua pedoman ini, Al-Quran dan As-Sunnah. Melalui tulisan kecil ini kita akan melihat sekilas bagaimana propaganda musuh islam menyebarkan fitnah terhadap As-Sunnah, sehingga terjadi kesalahpahaman umat islam dalam memahami Al-Quran, dan menjalankan syariat sebagaimana mestinya, serta jauhnya umat islam dari agama mereka.
B. As-Sunah
1. Defenisi
Ringkasnya, defenisi As-Sunnah menurut ulama hadits adalah perkataan, perbuatan, pernyataan, dan sifat-sifat atau keadaan-keadaan yang disandarkan keoada Nabi Muhammad Saw.
Pemberitaan tentang unsur-unsur tersebut yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw. disebut hadits yang marfu'. Adapun yang disandarkan kepada para sahabat disebut hadits mauquf.Dan berita yang disandarkan kepada tabi'in disebut hadits maqthu'.Banyak refrensi buku hadits yang bisa kita temukan dalam membahas defenisi As-Sunnah, hadits, atsar dan lainnya.
2. Sejarah Ringkas Perkembangan As-Sunnah
Secara ringkas kita melihat para ulama membagi masa perkembangan hadits sebagai berikut:
a. Masa turunnya wahyu pada zaman Rasulullah (13 SH-10SH ).
b. Masa Khulafa ar-Rasyidin (11-40 H ).
c. Masa pencarian dan pengumpulan As-Sunnah pada masa tabi'in (41 H-akhir abad 1 H ).
d. Masa pembukuan As-Sunnah (Awal abad II H ).
e. Masa penyaringan As-Sunnah(abad III H )
f. Masa penyusunan kitab-kitab As-Sunnah(Abad IV H-VII H ).
g. Masa pembuatan kitab syarah hadits, kitab-kitab takhrij dan penyusunan kitab-kitab lainnya(Abad VII H dan seterusnya ).
Kita tidak akan membahas secara rinci sejarah perkembangan tersebut. Tapi yang jelas, pada zaman Rasulullah As-Sunnah belum ditulis karena:
a. Umat Islam sedang dikonsentrasikan kepada Al-Qur'an.
b. Agar Al-Quran tidak bercampur dengan selainnya
c. Nabi sendiri pernah melarangnya, kecuali bagi sahabat-sahabat tertentu yang diizinkan oleh beliau sebagai catatan pribadi.
d. Rasulullah berada ditengah-tengah ummat Islam sehingga dirasa tidak sangat perlu untuk dituliskan pada waktu itu.
e. Kemampuan tulis baca di kalangan sahabat sangat terbatas.
f. Kesibukan umat Islam dalam menghadapi perjuangan da'wah yang sangat penting.
Diantara sahabat-sahabat yang masyhur dalam meriwayatkan hadits adalah Abu Hurairah yang meriwayatkan hadits sekitar 5374 hadits. Abdullah bin Umar bin Khattab meriwayatkan sekitar 2630 hadits. Anas bin Malik sebanyak 2286 hadits. Abdullah bin Abbas sekitar 1160 hadits. Aisyah Ummul Mukminin meriwayatkan sebanyak 2210 buah. Jabir bin Abdillah meriwayatkan sebanyak 1540 buah. Abu Sa'id al-Khudri sebanyak 1170 hadits.Banyak sahabat lainnya yang meriwayatkan hadits.
Pada zaman-zaman berikutnya ternyata As-Sunnah belum sempat dibukukan karena sebab-sebab tertentu. Baru pada zaman Khalifah Umar bin Abdul Azis dari Bani Umayyah (99-101 H) timbul inisiatif dari beliau untuk menulis dan membukukan As-Sunnah secata resmi dari negara yang diamanahkan kepada imamAbu Bakar bin Muhammad Az-Zuhri. Sebelumnya As-Sunnah atau hadits hanya disampaikan melalui periwayatan dan hafalan-hafalan para sahabat yang kebetulan hidup lama setelah Nabi wafat dan pada masa tabi'in.
Berkat jasa-jasa dari para ulama, hadits-hadits kemudian sempat dibukukan dalam berbagai macam buku seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan An-Nasa’i dan ratusan buku lainnya. Semua itu dilalaksanakan dengan seleksi-seleksi dansyarat yang ketat serta manhaj (metode) yang benar dan jelas yang kemudian melahirkan disiplin ilmu tersendiri yang disebut Ilmu Musthalah Hadits, Jarah wat Ta’dil, Ilalul Hadits, Ikhtilaful Hadits, Takhrij dan ilmu lainnya yang kemudian berkembang dengan berbagai macam cabang-cabangnya sampai saat ini.
3. Kedudukan As-Sunnah
As-Sunnah menempati posisi kedua terpenting setelah Al-Quran dalam menetapkan hukum dalam Islam.As-Sunnah datang sebagai penjelas, perinci dan penguat dari hukum yang ada dalam Al-Quran, seperti shalat yang tata caranya hanya dijelaskan di dalam As-Sunnah.Ataupun perintah zakat dimana Al-Quran hanya menyebutkan hukumnya secara umum tanpa menjelaskan tata cara dan nishab serta hal lainnya yang berkaitan dengan zakat, kemudian dijelaskan oleh As-Sunnah.
Hal ini tak terlalu sulit dipahami, sebab Al-Quran adalah Kitab Allah yang hanya memuat ketentuan-ketentuan umum, prinsip-prinsip dasar dan garis-garis besar masalah.Sedangkan rinciannya dituangkan di dalam Sunnah Nabi.Dan memang harus demikian. Sebab jika tidak, sulit dibayangkan Al-Quran akan menjadi setebal apa,karena ia harus mencantumkan semua masalah kecil dan parsial yang tak ada batasnya, apalagi masalah yang dihadapi umat manusia tak pernah berhenti dari waktu ke waktu. Oleh karena itu As-Sunnah menjadi penting keberadaannya bagi syariat islam yang selalu relevan di setiap masa dan tempat.
C. Orientalisme
Melihat betapa urgensinya As-Sunnah dan perannya yang esensial dalam Islam, tidak mengherankan kenapa kalangan yang tidak senang pada Islam berupaya dengan gigih untuk mencari-cari kelemahannya, walaupun dengan cara mengada-ada. Tujuannya adalah untuk menggoyahkan kepercayaan umat Islam pada As-Sunnah ini. Sebab mereka memahami bahwa jika Sunnah dapat disingkirkan dari kehidupan umat Islam, maka otomatis Islam tidak akan dapat tegak. Karena, mustahil mempraktekkan Islam tanpa Sunnah Nabi. Dan seandainya Sunnah Nabi sudah dapat mereka sisihkan, terbukalah peluang untuk menyimpangkan Al-Qur`an dan memahaminya menurut selera masing-masing.
Beginilah siasat musuh-musuh Islam.Sebab selama ini, yang menjadi penghalang utama mereka untuk menyimpangkan pemahaman Al-Quran adalah petunjuk-petunjuk Sunnah yang membingkai pemahaman terhadap Al-Quran secara benar. Selama umat Islam berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah, maka upaya-upaya pihak luar akan senantiasa mengalami kegagalan
1. Defenisi
Banyak pengertian yang disebutkan oleh para ulama tentang arti orientalis dan orientalisme.Dalam bahasa inggris, kata Oerintalis merupakan kata bentukan dari kata Orient (kata benda) oriental (kata sifat) dan orientalis. Kata oriental dari bahasa Prancis, yaitu orient yang secara bahasa berarti timur. Orient secara geografis berarti dunia belahan timur.
Orientalis dalam bahasa arab adalah mustasyriq dengan timbangan isim fa’il dari istisyraq yang memiliki arti orientalisme, terambil dari bab istif’al. Ringkasnya orientalisme berarti ilmu ketimuran yang berkaitan dengan penduduknya, tanahnya, kekayaan, ekonomi, agama, pemikiran, tabiat manusia, lingkungan, dan lainntya yang berhubungan dengan ketimuran.Sedang pelakunya adalah orientalis.
2. Perang Salib dan Munculnya Orientalis
Berakhirnya perang salib yang telah berlangsung selama 2 abad yang terjadi di eropa dan asia, dan dimenangkan oleh umat islam mengokohkan satu makna bagi Negara barat, bahwa umat islam tidak bisa dikalahkan dengan kekuatan militer selama mereka berpegang teguh dengan ajaran agamanya. Oleh karena itu para politisi barat membuat konspirasi untuk melemahkan keyakinan umat islam dan menjauhkan mereka dari agama mereka yang benar. Timbullah usaha untuk mengenal dunia islam dan mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan islam dan Negara timur yang kemudian dinamakan orinetalisme. Semua itu dilakukan untuk menjauhkan umat islam dari agama mereka kemudian baru barat dapat menguasai dunia islam beserta kekayaannya.
Konspirasi ini meliputi bidang politik, militer, ekonomi, pemikiran, akhlak dan lainnya selama menguntungkan bagi barat.Konspirasi yang paling berbahaya adalah pemikiran yang sering disebut dengan Ghazwul Fikri, namun semua garapan konspirasi ini sangat berbahaya.Mereka merekrut tenaga dari kaum Kristen dan yahudi. Bahkan juga anak orang islam yang lemah imannya yang rela bekerja demi kepentingan barat.
3. Ciri-ciri Riset Orientalis
Dalam praktek risetnya, para orientalis memakai metode yang tidak layak sebagai metode ilmiah yang hilang dari nilai objektif. Ustadz Mustafa As-Siba’iy menyebutkanbeberapa ciri-ciri riset yang mereka lakukan diantaranya:
a. Didasari sikap buruk sangka (Su’u Azh-Zhan) dan pemahaman yang salah (Su’u Al-fahmi)baik terhadap landasan-landasan, nilai-nilai, maupun hal lainnya yang berkaitan dengan Islam, sehingga hasil-hasil penelitian dan karya-karya mereka adalah keraguan terhadap Islam serta kesimpulan-kesimpulan yang mereka buat keliru.
b. Didasari sikap buruk sangka terhadap para ulama-ulama Islam serta para pemimpin-pemimpin Islam, sehingga tidak ada ajaran Islam yang dapat diterima oleh mereka.
c. Memberikan gambaran bahwa masyarakat Islam adalah masyarakat yang senang berselisih, berpecah belah dan saling membunuh. Kesan ini terutama ditujukan pada masa-masa awal Islam
d. Melukiskan kebudayaan dan peradaban Islam dengan gambaran yang tidak sesuai dengan kenyataan, ditambahi penyimpangan-penyimpangan dan khayalan-khayalan mereka disana-sini.
e. Masa bodoh terhadap sifat masyarakat Islam yang hakiki. Mereka melihat masyarakat Islam dan menyamakannya dengan bangsa-bangsa mereka zaman dahulu.
f. Menjadikan nash-nash Islam tunduk sesuaidengan keinginan hawa nafsu mereka.
g. Sering melakukan penyimpangan terhadap nash-nash islamdari maksud sebenarnya. Salah memahami ibarat-ibarat ketika mereka tidak menemukan pentimpangan.
h. Memberikan status hukum sendiri terhadap referensi-referensi Islam, seperti menshahihkan kitab al-Hayawan karangan Ad-Damiri sebagai kitab hadits shahih, dan mendustakan kitab al-Muwaththa’ karangan Imam Malik padahal kitab ini merupakan kitab induk hadits shahih. Dan kitab lainnya yang tidak luput dari konspirasi mereka.
4. Tuduhan-tuduhan Orientalis
Sebenarnya banyak tuduhan yang disampaikan oleh para orientalis terhadap As-Sunnah. Diantara orientalis yang paling gencar dan berwawasan luas tentang keislaman adalah Prof. Ignas Goldziher, yang bukunya menjadi refrensi penting bagi para orientalis, Gostown Wite, A. J. Vensinck dan lainnya. Diantaranya tuduhan yang dipropagandakan oleh Goldziher adalah:
a. Sebagian besar hadits merupakan produk perkembangan Islam di bidang politik dan Sosial.
b. Para sahabat dan tabi’in berperan dalam pemalsuan hadits.
c. Ada rentang waktu dan jarak yang jauh dari masa Rasulullah Saw, membuka peluang bagi para tokoh berbagai kelompok untuk membuat hadits dengan tujuan memperkuat kelompok mereka, bahkan tidak satupun kelompok yang tidak memperkuat pendapat mereka dengan hadtis-hadits yang tampaknya asli dalam bidang akidah fiqh dan politik.
d. Sudut pandang para kritikus dikalangan Islam berbeda dengan sudut pandang para kritikus non muslim yang tidak menerima banyak hadits yang diakui kebenarannya oleh umat Islam.
e. Dia menggambarkan enam kitab hadits yang disusun para ulama sebagai himpunan dari hadits-hadits yang tercecer yang oleh para penghimpunnya dinilai sebagai hadits-hadits shahih.
Berikut adalah bantahan terhadap tuduhan-tuduhan Ignas Goldziher:
1. Sebagian besar hadits merupakan produk perkembangan Islam di bidang politik dan sosial sepanjang dua abad pertama adalah tidak benar. Karena sejak masa sahabat (abad pertama) umat Islam telah melakukan penyelidikan terhadap hadits-hadits dan “memburu” para pendusta dan pemalsu hadits. Mereka mengetahui mana hadits yang sahih dan mana yang palsu. Al-Quran mengajarkan prinsip-prinsip yang universal yang sesuai dengan segala tempat dan waktu. Ia tidak mengajarkan cara-cara pelaksanaan yang berubah-ubah sesuai dengan situasi dan kondisi. Allah memberikan kebebasan kepada para penguasa untuk berkreasi tentang pelaksanaannya. Oleh karena itu mereka tidak perlu membuat-buat hadits untuk melegitimasi tindakan mereka. Prinsip-prinsip universal tersbeut sudah cukup bagi mereka dalam menjalankan segala urusan mereka.
2. Umat islam terdahulu (sahabat dan tabi’in) berperan dalam pemalusan hadits, itu tidak benar, karena para sahabat dan tabi’in itu sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Mereka sangat takut terhadap ancaman Rasulullah yang menyatakan bahwa “Barang siapa yang mendustakan ajaranku maka hendaklah ia menempati tempat duduk di neraka.”Oleh karena itu mereka memilih sedikit meriwayatkan hadtis bahkan ada yang tidak meriwayatkan satu haditspun.
3. Adanya kemungkinan pihak-pihak tertentu membuat-buat hadits guna menopang pendapat mereka, itu bisa-bisa saja. Akan tetapi tidaklah berarti bahwa tokoh-tokoh aliran fiqh, teologi, dan politik telah membuat-buat hadits. Hal itu tidak lebih dari buruk sangkanya Goldziher terhadap tokoh aliran-aliran tersebut. Barangkali yang tidak dipahaminya adalah bahwa perbedaan pendapat diantara para sahabat dan ulama fiqh dilatar belakangi oleh banyak faktor, bukan karena kehendak hawa nafsu atau sikap fanatik. Mereka berhukum dengan hadits-hadits yang sampai kepada mereka, dan mereka berbeda dalam memberikan penilaian. Sebahagian menilanya dapat dijadikan dalil (hujjah) dan yang lain menilai tidak, atau boleh jadi hadits-hadtis itu dipegang sebagai dalil oleh semua mereka namun hasil istinbat mereka tidak sama.
Oleh karena itu tidak logis kalau dikatakan mereka telah membuat-buat hadits atau mendustakan Rasulullah untuk mendukung pendapat-pendapat mereka. Mereka semua sepakat untuk mengikuti sunnah atau hadits Rasulullah.
4. Perbedaan sudut pandang antara kritikus muslim dnegan kritikus non muslim sangat berbeda. Kritikus muslim melakukan kritik terhadap hadits dengan kaidah-kaidah dan prinsip yang telah dirumuskan dengan baik, dalam rangka mencari dan meneliti keshahihan suatu hadits guna memelihara kemurnian ajaran yang dibwah oleh Muahmmad yang di imani sebagai Rasulullah. Sedangkan kritikus non muslim melakukan kritik terhadap hadits dengan motivasi mencari-cari titik lemah dari sumber ajaran Islam kedua ini. Sasaran akhirnya tidak lain agar syari’at Islam itu tidak bisa ditegakkan.
Dengan titik tolak yang berbeda, tujuan yang berbeda jelas akan mengahasilkan hal yang berbeda pula. Hal itu sekali-kali tidaklah akan merugikan kita sepanjang metode serta kaidah-kaidah yang digunakan itu dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Namun mereka-mereka yang mau bersikap objektif selalu akan menerima dan mengakuinya.
5. Bahwa keenam kitab hadits yang disusun oleh para ulama itu merupakan kumpulan dari hadits-hadits yang tercecer. Pendapat itu tidak bisa diterima, karena dengan begitu berarti tidak menghargai jerih payah para ulama dalam memelihara hadits selama abad pertama dan kedua. Hadits tidak pernah tercecer karena sebahagian besarnya telah dipraktek umat Islam. Hadits-hadits itu hidup dalam praktek sehari-hari. Dan hal itu tidak terbatas hanya dalam masa sahabat dan tabi’in saja. Hadits-hadits telah tersebar keberbagai wilayah taklukan selama abad pertama dan kedua itu. Hadits-hadits itu berpindah dari suatu generasi ke generasi berikutnya dan terpelihara dalam hafalan para penghafalnya. Catatan-catatan mereka terkumpul dalam kitab-kitab himpunan hadtis dengan juz-juz serta bab-bab yang telah sistematis oleh para ulama pada abad pertengahan abad kedua. Hadits-hadits yang dapat dihimpun oleh Bukhari dan Muslim serta para penghimpun lainnya itu merupakan hasil sortiran dari beribu-ribu hadits yang tersimpan dalam hafalan-hafalan para penghafal hadits.
Demikianlah penuturan Syeikh Ajaj al-Khatib memberikan bantahan.Dan bayak syubhat dan tuduhan lainnya yang disampaikan oleh Goldziher sebagaimana yang disebutkan oleh Ustadz Mustafa As-Siba’iy seperti kritikan Goldziherterhadap imam Az_Zuhri yang ditugaskan oleh Umar bin Abdul Aziz untuk mengumpulkan dan membukukan hadits Nabi sebagi seorang yang pembohong dan mengikuti hawa nafsunya dan kaki tangan pemerintah saat itu.
Dia juga menyebutkan bahwa Imam Az-Zuhri sendiri mengaku bahwa dirinya dipaksa untuk melakukan permintaan khalifah untuk mengumpulkan hadits.
Itu baru dari seorang orientalis, banyak lagi orientalis lainnya yang juga melemparkan tuduhan-ruduhan yang tidak berdasar.Bahkan diantara mereka ada yang berkumpul untuk membuat karya guna memudahkan mereka memutar balik lafaz hadits seperti Mu’jam Al-Mufahras Li Alfazh Al-Hadits An-Nabawy yang merupakan hasil kerja kolektif sejumlah orientalis, yang diketuai oleh A. J. Vensinck. Meskipun karya ini termasuk spektakuler dikalangan orientalis, tetapi ensiklopedi ini tidak ada apa-apanya dibanding karya ulama islam yang telah lebih dahulu berabad sebelum mereka membuat ensiklopedi hadits. Seperti imam Al-Mizziy dengan Tuhfahnya, imam zailay dan lainnya.
Paling tidak ada lima kitab yang secara detail mengupas kekeliruan orientalis dalam memahami sejarah kodifikasi sunnah ini, antara lain : (1) “Dirasat fi al-Hadits an-Nabawy” oleh al-A’zhamy yang terdiri dari dua jilid, merupakan salah satu referensi penting dalam pembukuan sunnah pada masa awal, (2) “As-Sunnah Qabla at-Tadwin” yaitu kitab yang pada awalnya merupakan thesis “Master” di Darul-Ulum, Universitas Kairo, (3) “As-Sunnah wa Makanatuha fi at-Tasyri’ al-Islamy” oleh Musthafa as-Siba’i, disertasi “doktor” di Al-Azhar dan telah dicetak berulangkali, (4) “Tawtsiq as-Sunnah fi al-Qarni ats-Tsani al-Hijry” (Autentikasi Sunnah pada Abad Kedua Hijrah) oleh Rif’at Fawzy, dari Darul ‘Ulum, Kairo yang mulanya merupakan disertasi “doktor” penulisnya. (5) “Difa’ ‘an as-Sunnah” oleh Muhammad Abu Syahbah dari Al-Azhar. Bagi yang ingin lebih mendalam silakan merujuk kedalam buku-buku tersebut.
D. Penutup
Para orientalis hanya menghabiskan waktu dan tenaga serta financial mereka untuk mencari kelemahan di dalam As-Sunnah guna menjauhkan umat islam dari agamanya. Untuk diketahui usaha itu tidak akan berhasil Karena mereka harus tahu bahwa Allah sudah berjanji akan menjaga agama ini wallaupun dengan seorang yang pendosa seperti kitab Mu’jam Al-Mufahras yang akhirnya memberikan manfaat bagi umat islam.
Wallahu A’lam
Disarikan dari
1. As-Sunnah wa Makanatuha fi at-Tasyri’ al-Islamy” oleh Musthafa as-Siba’I cetakan 3 darusslam Kairo tahun 2006
2. Ithar Islami Lil Fikri Al-Mu’ashir oleh Anwar al-jundy cetakan maktabah al-islami Beirut tahun 1980
3. Dr. Daud Rasyid di http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/23/sunnah-dan-orientalis/
4. http://dotproductions.wordpress.com/2010/02/09/orientalis-barat/

Oleh : Saud Alba Radinas, lc2 A. Pendahuluan
Kehidupan sangat terasa hampa dan gersang apabila sesuatu yang bernama spiritual atau ruhiyah itu hilang dari kehidupan kita. Karena memang dia adalah ruh dalam kehidupan, motor utama pergerakan, yang menghidupkan hati yang mati, yang menjadikan orang yang memilkinya mampu bersabar dan tegar dalam menghadapi berbagai tantangan berat.
Ruhiyah atau spiritual adalah hal pertama yang disiapkan oleh Allah bagi para nabi selaku pembawa risalah-Nya. Dan hal serupa juga disiapkan bagi nabi Muhammad Saw. sebagai nabi terakhir. Bekal ini juga diberikan kepada para sahabat rasulullah yang selalu setia membela Allah dan rasul-Nya dalam menyebarkan dakwah islam ke seluruh alam.
Perjuangan aktivis muslim modern untuk menyebarkan dakwah islam dan mengembalikan kejayaan umatnya adalah sebuah amal jamai yang sangat berat, penuh cobaan dan ujian keimanan. Mereka hidup di lapangan ujian yang sebenarnya. Karena memang hidup itu adalah ujian.Allah berfirman:
الم, أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
Artinya: “Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
QS. al-'Ankabut (29) : 3
Ujian keimanan itu butuh kepada bekal. Seorang aktivis muslim butuh kepada persiapan spiritual, sebagaimana para pendahulu yang membawa risalah islam ini memiliki spiritual tersebut. Oleh karena itu spiritual ini perlu dibina dan dikembang pada setiap diri aktivis muslim yang nota benenya melakukan aktivitas amaliyah untuk kepentingan islam dan kaum muslimin, yang selanjutnya pembinaan spiritual ini sering dikenal dengan tarbiyah ruhiyah.
B. Spiritual aktivis
Mari sejenak kita melihat apa itu spiritual dan apa itu aktivis.
1. Defenisi
Spiritual adalah setiap sesuatu yang berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan (rohani, batin)
Adapun Aktivis artinya adalah (1) orang (terutama anggota organisasi politik, sosial, buruh, petani, pemuda, mahasiswa, wanita) yang bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan dl organisasinya; (2) Seseorang yamg menggerakkan (demonstrasi dsb)3 .
Jadi spiritual aktivis kurang lebih adalah Ruhaniyah yang terdapat pada diri seseorang yang bekerja dan bergerak untuk kepentingan organisasinya, yang dalam hal ini adalah jamaah islam, lembaga islam, institusi pelayanan umat, tempat dimana aktivis muslim itu melakukan aktivitasnya, kemudian spiritual itu dibina dalam bingkai tarbiyah ruhiyah dengan pensucian diri dari segala bentuk kesyirikan dan menguatkan diri tersebut dengan tauhid kepada Allah, dengan berpandukan kepada sunnah Rasullullah Saw..
2. Urgensi spiritual bagi seorang muslim
Semua muslim memerlukan kekuatan spiritual dalam menjalani kehidupan ini guna sampai kepada ketaqwaan. Sehingga ia mampu menjalankan tugasnya sebagai makhluk untuk beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya.
Apalagi seorang aktivis muslim, da’I yang mendakwahkan islam dengan bidang spesifikasi yang digelutinya, mempersembahkan hidupnya untuk kemaslahatan islam dan kaum muslimin, maka ia lebih butuh kepada kekuatan ruhiyah tersebut. Karena kekuatan ruhiyah merupakan kunci dalam menentukan berhasil atau gagalnya sebuah dakwah. Setiap da’I, aktivis dan siapa yang berjuang untuk islam ini wajib memilikinya. Allah berfirman
52وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَـٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Artinya: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu sebuah Ruh (al-Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (al-Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
QS. as-Syura (42) : 52
Para aktivis itu akan berhasil bila mereka memiliki spiritual yang membuat mereka sabar dan tegar dalam perjuangannya. Allah berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
Artinya: ”Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” QS. as-Sajdah (32) : 24
3. Karakteristik aktivis muslim
Ada beberapa karakteristik yang membuat seorang aktivis muslim berbeda dari aktivis lainnya di dunia ini. Berikut adalah beberapa karakteristik tersebut.
a. Syumuliah (integralitas)
Aktivis muslim memiliki karateristik yang sangat istimewa. Dia selalu memahami bahwa semua gerak-geriknya adalah ibadah kepada Allah. Dimanapun ia beramal dan kapanpun ia beraktivitas. Dia adalah aktivis kemanusian. Dia adalah aktivis kedokteran, aktivis pertanian, aktivis mahasiswa, aktivis koperasi, aktivis kepemudaan, aktivis remaja masjid, dan apapun bidang spesifikasinya dia adalah aktivis dalam spesifikasinya. Bahkan diatas itu semua dia adalah aktivis dakwah di setiap bidang spesifikasi yang digelutinya. Iya, kita semua adalah da'I, atau aktivis dakwah di setiap bidang spesifikasi yang kita dalami karena kewajiban menyampaikan islam adalah tugas kita semua. Karena dakwah itu adalah ibadah. Karena dakwah itu adalah sebaik-baik aktivitas yang kita lakukan.
b. Tanawwu' (inovativ)
Aktivis muslim itu adalah orang yang kreativ, cerdas dan selalu memiliki inovasi baru yang lebih mantap dan lebih baik dengan tetap menjaga hal-hal yang lama yang masih baik.
c. Istimrar (berkesinambungan)
Dan aktivis muslim itu adalah orang yang tidak kenal kata menyerah seraya berhenti melakukan amalan yang semestinya ia lakukan, ia akan selalu melaksanakan amalan kebaikan dengan tertata rapi dan terorgainisir, berkesinambungan dalam amalan tersebut meskipun itu hanya amalan kecil. Tetapi selama itu selalu dibarengi dengan niat ibadah dan ikhlas karena Allah, maka akan amalan kecil tersebut akan tetap mendapatkan pahala dari Allah. Betapa banyak amalan kecil, niat ikhlas menjadikannya amalan besar. Sebaliknya betapa banyak amalan besar, niat yang salah menjadikan amalan tersebut kmenjadi kecil
d. Indhibath (disiplin)
Harus senantiasa tetap kokoh disiplin dan mengacu kepada ketentuan hukum syara’ yamg ada di dalam al-quran an sunnah. Tidak pernah keluar dari kedisiplinan tersebut Sebagaimana Allah menyebutkan :
إِنَّ هَـٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
Artinya: “Sesungguhnya Al Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.”
QS. al-Isra' (17) : 9
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
Artinya: “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?”
QS. al-Mulk (67) : 14
e. Ikhlas
Inilah standar dimana setiap aktivitas amalan yang dilakukan seorang muslim diterima oleh Allah dan diberi ganjaran sesuai niat yang ia tanamkan. Ketika label ikhlas ini terlepas dari rangkaian amalan maka aktivitas amalan tersebut tidak akan diberi ganjaran pahala oleh Allah bahkan bisa ditolak jika amalan tersebut dilakukan karena selain Allah.
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” QS. al-Bayyinah (98) : 5
f. Berakhlaq jujur, sabar, amanah, adil
Karena seorang Aktivis adalah da’I yang yang menjadi panutan bagi semua orang yang melihatnya, karena dia adalah pionir islam yang menampilkan jati diri keislamannya.
Dia selalu benar dalam beragama, dalam perkataannya dan dalam setiap amalannya. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” QS. at-Taubah (9) : 119
Sabar dala menghadapi segala tantangan dan cobaan. Karena orang yang sabarlah yang akan berhasil mencapai semua cita-citanya. Allah berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
Artinya: ”Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” QS. as-Sajdah (32) : 24
وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا
Artinya: ”Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” QS. al-Muzzammil (73) : 10
8يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: ”Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” QS. al-Mai'dah (5) : 8
g. Memiliki obsesi, visi dan cita-cita untuk maju
Mereka adalah orang yang memiliki nilai-nilai perjuangan dan selalu maju untuk membawa estafeta perjuangan itu. Sehingga dia menjadi orang yang dipilih untuk mengemban tugas berat ini. Allah berfirman:
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
Artinya: ”Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” QS. Fathir (35) : 32
h. Amar ma’ruf dan nahi mungkar dan Memelihara diri dari batasan yang ditetapkan Allah
Karena tugas ini adalah tuas agung yang menjadikan umat islam tetap memilki label khairu ummah. Jika tidak dilakukan, maka label khairu ummah akan hilang dari umat islam sebagaimana hal itu telah hilang dari orang-orang yahudi
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya: ” Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” QS. Ali Imran (3) : 104
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya: ” Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” QS. Ali Imran (3) : 110
الآمرون بالمعروف والناهون عن المنكر والحافظون لحدود الله
4. Menggapai spiritual
Kita hanya membutuhkan komitmen yang kuat untuk mencapi nilai spiritual pada diri kita. Karena amalan yang harus kita lakukan adalah amalan yang selalu kita lakukan. Hanya saja butuh keseriusan dan kesungguhan serta komitmen.
a. Komitmen dengan ibadah fardhu
Allah berfirman: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43)
عن أبي هريرة – رضي الله عنه – قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم - إن الله تعالى قال : من عادي لي وليا فقد آذنته بالحرب ، وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضت عليه ، و لا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه ، فإذا أحببته كنت سمعه الذي سمع به و بصره الذي يبصر به ، و يده التي يبطش بها ورجله التي يمشي بها و لئن سألني لأعطينه ، و لئن استعاذني لأعيذنه -رواه البخاري
Artimya: “dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, dia berkata, “Telah bersabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , “Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman, “Barang siapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku umumkan perang terhadapnya. Tidak ada bentuk taqarrub seorang hamba kepada-Ku yang lebih Aku cintai dibanding (mengerjakan) apa yang Aku wajibkan kepadanya. Dan terus menerus seorang hamba bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada-Ku dengan nawafil (amalan sunnah) sehingga Aku mencintainya. Dan jika Aku mencintai nya maka Aku menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang dia melihat dengannya, menjadi tangannya yang dia gunakan memukul, serta menjadi kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku maka Aku pasti memberinya, dan jika dia minta tolong kepada-Ku niscaya Aku pasti menolongnya.” (HR al-Bukhari)
1. Shalat berjamaah selalu.
Dari Abdullah bin Umar, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda, “Shalat berjamaah lebih utama dari shalat sendirian dengan 27 derajat.” (HR Muttafaq 'alaihi)
Dalam riwayat lainnya, Rasulullah Saw bersabda "Barang siapa shalat Isya' dengan berjamaah, maka ia seperti mendirikan shalat selama setengah malam, barangsiapa shalat Subuh berjamaah, maka ia seperti mendirikan shalat semalam suntuk" (H.R. Muslim )
2. Shubuh selalu menjadi perhatian khusus.
Dari Abu Hurairah Rasulullahbersabda:
ِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّار
ِ
“Shalat yang dirasakan paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 141 dan Muslim no. 651)
3. Zakat, puasa, haji bila mampu,
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43)
Di dalam sebuah hadits disebutkan beberpa amalan sebagai pondasi islam.
عن ابن عمر رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول (بني الإسلام على خمس شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة وحج البيت وصوم رمضان) متفق عليه
Dari Ibnu Umar bin Al-Khottob radiallahuanhuma dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan." (Riwayat Turmuzi dan Muslim)
b. Selalu melaksanakan ibadah nawafil (sunnah)
Selalu melaksanakan shalat sunnat fajar, shalat rawatib, halat dhuha
...و لا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه ، فإذا أحببته كنت سمعه الذي سمع به و بصره الذي يبصر به ، و يده التي يبطش بها ورجله التي يمشي بها و لئن سألني لأعطينه ،ولئن استعاذني لأعيذنه رواه البخاري
روى الشيخان عن أبى هريرة رضى الله عنه قال أوصانى خليلى صلى الله عليه وسلم بثلاث صيام ثلاثة أيام من كل شهر وركعتى الضحى وأن أوتر قبل أن أنام
Artinya : Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abi Hurairah r.a., beliau berkata : Kekasihku s.a.w. memberiku wasiat dengan tiga hal; 1. Puasa selama tiga hari dalam setiap bulan. 2. Dua raka`at Shalat Dhuha. 3. Berwitir sebelum tidur.
روى أبو داود أنه صلى الله عليه وسلم صلى سُبحة الضحى ثمانى ركعات وسلم من كل ركعتين
Abu Daud meriwayatkan bahwa Rasulullah mengerjakan Shalalt Dhuha sebanyak delapan raka`at dan setiap dua raka`at beliau ber-salam.
Puasa pada siang hari yang panas
عن أبي سعيد -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: ما من عبد يصوم يومًا في سبيل الله إلا باعد الله بذلك اليوم عن وجهه النار سبعين خريفًا متفق عليه، واللفظ لمسلم
Dalam sebauh hadits disebutkan bahwa rasulullah bersabda kepada Abu Dzar :
لو أردت سفراً أعددت له عدة؟ قال: نعم، قال: فكيف بسفر طريق القيامة؟ ألا أنبئك بما ينفعك ذلك اليوم؟ قال: بلى بأبي أنت وأمي يا رسول الله، قال: - صم يومًا شديد الحر ليوم النشور. - وصلِّ ركعتين في ظلمة الليل لوحشة القبور.- وحج حجة لعظائم الأمور
c. Cinta qiyamullail
Allah befirman:
يا أيها المزمل قم الليل الا قليلاً، نصفه أو انقص منه قليلاً، أو زد عليه، ورتل القرآن ترتيلا
Dalam surat al-Muzammil terlihat sekali bagaimana Alllah memperhatikan sekali Spiritual kaum muslimin dengan mewajibkan qiyamullail pada awal dakwah islam. Qiyam semalaman dengan sedikit istirahat, atau qiyam setengah malam, atau dua pertiga malam, ataupun sepertiga malam. Demikian kewajiban ini terus berlangsung hingga turun ayat terakhir dalam surat al-Muzammil tersebut menasikhkan kewajiban ini, sebagaimana yang diriwayatkan oleh sayyidah Aisyah tentang hal tersebut.
Beratnya tantangan terhadap dakwah selalu ada sampai zaman sekarang. Ini menuntut setiap aktivis untuk selalu membekali dirinya dengan spiritual yang stabil sehingga berbagai macam tantangan yang dikhawatirkan akan dapat dilalui dengan kesabaran dan ketegaran, setiap amalan akan terlaksana dengan tanpa kejenuhan dan kesulitan. Sehingga menjadiikan para aktivis tetap eksis dan prima selalu dalam setiap aktivitasnya. Tidak berguguran dalam aktivitas kebaikan yang sedang dilakukan.
اقم الصلاة لدلوك الشمس الى غسق الليل، وقرآن الفجر، ان قرآن الفجر كان مشهوداً. ومن الليل فتهجد به نافلة لك عسى ان يبعثك ربك مقاماً محمودا
ان المتقين في جنات وعيون. آخذين ما آتاهم ربهم انهم كانوا قبل ذلك محسنين. كانوا قليلاً من الليل ما يهجعون. وبالاسحار هم يستغفرون
d. Membaca alquran plus tadabburan ayatnya
Dari sayyidah Aisyah Berkata, Rasulullah saw. Bersabda:
الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
Artinya: “Orang yang mahir dalam membaca Al-Qur’an bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Dan barangsiapa membaca Al-Qur’an, sementara ada kesulitan (dalam membacanya), maka baginya dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)
e. Memperbanyak zikir dalam setiap gerak
Allah berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Artinya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” QS. al-Baqarah (2) : 152
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
Artinya: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".QS. Thaha (20) : 124
عن ابي عبد الله قال رسول الله من اكثر من ذكر الله عز وجل احبه الله، ومن ذكر الله كثيراً كتبت له براءتان، براءة من النار، وبراءة من النفاق
قال الله عز وجل : (يراؤون الناس، ولا يذكرون اللّه الا قليلا
وفي حديث عن الصادق الذاكر للّه عز وجل في الغافلين، كالمقاتل في المحاربين
f. Senatiasa bertaubat dan melakukan istighfar
Allah Berfirman:
قُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
…وتوبوا إلى الله جميعاً أيها المؤمنون لعلكم تفلحون
Artinya: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” QS. an-Nur (24) : 31
g. Memperkuat ibadah qalbi
Merasakan muraqabatullah, takut kepada Allah.
من خاف الله تعالى خافه كل شيء ومن خاف غير الله خوفه الله من كل شيء
Mencintai Allah, Allah berfirman:
قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Artinya: “Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” QS. at-Taubah (9) : 24
Mencintai rasul
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” QS. al-Ahzab (33) : 21
1. Mencintai para sahabat
الرسول صلي الله علية وسلم " اصخابي كالنجوم بايهم اقتديتم اهتديتم
h. Bersedekah
Allah Berfirman:
لَن تَنَالُوا البِرَّ حَتَّى تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ومَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فَإنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ} [سورة آل عمران: 92]؟ وقال تعالى: {ومَا تُنفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلأَنفُسِكُمْ} [سورة البقرة: من الآية 272]، وقال تعالى: {ومَـا تُـنـفِـقـُـوا مِن شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إلَيْكُمْ وأَنتُمْ لا تُظْلَمُونَ} [سورة الأنفال: من الآية 60]
إنَّـمَـا المُـؤْمِـنُـونَ الَـذِيـنَ آمَـنُـوا بِاللَّهِ ورَسُـولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ} [سورة الحجرات: 15
5. Penyebab dan indikasi lemahnya spiritual
a. Keringnya hubungan dengan Allah, hati keras, meski tampilan wajah kelihatan lembut.
b. Lemahnya ikatan ukhuwah dan hilangnya solidaritas kesetiakawanan.
c. Kebiasaan tidak disiplin
d. Tidak bisa khusyuk sholat dan beribadah lainnya, karena hati sibukdengan dunia.
e. Tidak bisa menerima nasehat dan kritikan orang lain.
f. Tidak bisa menerima perbedaan pendapat dan idak bisa mengakui kesalahan.
g. Meninggalkan kataatan dan sibuk dengan dunia
h. Menganggap enteng dan tidak sungguh-sungguh dalam beramal
i. Ujub dan takabbur serta tidak mau menerima kebenaran dan pendapat orang lain atau jamaah lain selain pendapat jamaahnya.
C. Penutup
Sangat besar peranan dan pengaruh spiriyual dalam pembinaan, perbaikan dan pembaharuan ummat denan spiritual ini akan tersingkap makna dan hakikat. Terbukalah rahasia-rahasia yang hanya dapat di tangkap oleh orang yang cerdas dan bertakwa. Tidak ada satu batu karangpun yang menghadang kecuali dapat ditembus. Jangankan untuk menguasai Roma, semua dunia akan dapat ditaklukkan. Gunungpun akan dipindahkan jika itu adalah sebuah kemestian.
قال صلى الله عليه وسلم:" إن الله زوى لي الأرض فرأيت مشارقها ومغاربها وإن أمتي سيبلغ ملكها ما زوي لي منها " الحديث ... رواه مسلم وابن ماجه
Artinya: “Sesungguhnya Allah telah memperlihatkan kepadaku bumi ini, maka akupun melihat timur dan barat bumi tersebut. Dan sesungguhnya umatku, akan sampai kerajaan mereka kepada bumi yang aku lihat.(H.R. Muslim dan Ibnu Majah)
Bangkitlah. Masa depan itu milik islam. Berssabarlah menuju kebangkitan. Karena kemenangan itu sangat mahal dan butuh pengorbanan harta bahkan jiwa.
Wallahu A’lam
Dari berbagai sumber
1. Fiqh al-Harakah fi al-Mujtama’, oleh Ustadz Jamal Madhy. Cetakan 2004. Penerbit Dar al-Da’wah dan Dar al-Madain Alexandria –Mesir
2. Ushul al-Amal al-Khairy fi al-Islam, oleh Imam Yusuf al-Qaradhawy. Cetakan ke 2 tahun 2007. Penerbit dar al-Syuruq Cairo-Mesir
3. Qawaib al-Najah fi hayati al-Du’ah, oleh Ustadz Fathy Yakan. Cetakan 2007. Penerbit Muassasah al-Risalah Beirut–LIbanon
4. Al-Thariq ila al-Rabbaniyah, oleh Dr. Majdy al-Hilaly. Cetakan 2009. Penerbit Dar al-Andalus al-Jadidah Cairo –Mesir
5. Al-Mutasaqithun ‘ala Thariq al-Da’wah’, oleh Ustadz Fathy Yakan. Cetakan 2001. Penerbit Muassasah al-Risalah Beirut–LIbanon
6. Shuwar marfudhah ihdzarha akhy al-Da’iyah, oleh Dr. Majdy al-Hilaly. Cetakan 2007. Penerbit Dar al-Andalus al-Jadidah Cairo –Mesir
7. Kekuatn Akhlak Sang Da’i, oleh Ustadz Salman Fahd al-‘Audah. Diterjemahkan oleh H. Harjani Hefni, MA. Cetakan 2005. Penerbit Pustaka Nawaitu Jakarta–Indonesia
8. Fi Zhilal al-Quran, oleh Ustadz Sayyid Quthub. Cetakan ke 33 tahun 2004. Penerbit dar al-Syuruq Cairo-Mesir
Catatan
1 Tulisan ini disampaikan pada acara Pelatihan Leadership pada hari Jumat, 12 Maret 2010 M di Maqar DPD PPMI Zagazig-Egypt
2 Penulis adalah Mahasiswa Program S-2 Pasca Serjana Universitas Al-Azhar Cairo 2009/2010
3 Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi 3 Cetakan 2005 dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Penerbit Balai Pustaka. (Diambil dari KBBI offline di http://steven.blogs.masterweb.net/2009/05/21/kbbi-versi-stardict/)
Memilih Tetangga Sebelum Memilih Rumah (جارقبل دار)
Tetangga pada zaman kita sekarang ini, memiliki pengaruh yang tidak kecil terhadap tetangga di sebelahnya. Karena saling berdekatannya rumah-rumah dan berkumpulnya mereka dalam flat-flat, kondominium atau apartemen.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan, empat hal termasuk kebahagiaan, di antaranya tetangga yang baik. Beliau juga menyebutkan empat hal termasuk kesengsaraan, di antaranya tetangga yang jahat. Karena bahayanya tetangga yang jahat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung kepada Allah daripadanya dengan berdoa:
“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari tetangga yang jahat di rumah tempat tinggal, karena tetangga nomaden akan pindah”.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umat Islam untuk berlindung pula daripadanya dengan mengatakan:
“Berlindunglah kalian kepada Allah dari tetangga yang jahat di rumah tempat tinggal, karena tetangga yang nomaden akan berpindah daripadamu”.
Dalam buku kecil ini, tentu tak memadai untuk menjelaskan secara rinci tentang pengaruh tetangga jahat terhadap suami istri dan anak-anak, berbagai gangguan menyakitkan daripadanya, serta kesusahan hidup bersebelahan dengannya. Akan tetapi dengan mempraktekkan hadits-hadits yang telah lalu (dalam masalah bertetangga) sudah cukup bagi orang yang mau mengambil pelajaran.
Mungkin di antara jalan pemecahannya yang kongkret, yaitu seperti yang dipraktekkan oleh sebagian orang dengan menyewakan rumah yang bersebelahan dengan tetangga jahat tersebut kepada orang-orang yang sekeluarga dengan mereka, meski untuk itu harus merugi dari sisi materi, karena sesungguhnya tetangga yang baik tak bisa dihargai dengan materi, berapa pun besarnya.
Memuliakan Tetangga
Berbuat baik kepada tetangga juga menjadi perhatian serius dalam ajaran Islam. Perhatikan firman Allah Taala:
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ
“…Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,.” (An-Nisa:36)
Nabi SAW dalam beberapa hadits mengingatkan kita agar selalu berbuat baik kepada tetangga, di antaranya adalah:
Ibnu Umar dan Aisyah ra berkata keduanya, “Jibril selalu menasihatiku untuk berlaku dermawan terhadap para tetangga, hingga rasanya aku ingin memasukkan tetangga-tetangga tersebut ke dalam kelompok ahli waris seorang muslim”. (H.R. Bukhari-Muslim)
Abu Dzarr ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hai Abu Dzarr jika engkau memasak sayur, maka perbanyaklah kuahnya, dan perhatikan (bagilah) tetanggamu (H.R. Muslim)
Abu Hurairah berkata bahwa Nabi SAW bersabda, “Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman. Ditanya: Siapa ya Rasulullah? Jawab Nabi, “Ialah orang yang tidak aman tetangganya dari gangguannya” (H.R. Bukhari-Muslim)
Abu Hurairah berkata bahwa Nabi SAW bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaklah memuliakan tetangganya. (H.R. Bukhari-Muslim)
Hak-hak ketetanggaan tidak ditujukan bagi tetangga kalangan muslim saja. Tentu saja tetangga yang muslim mempunyai hak tambahan lain lagi yaitu juga sebagai saudara (ukhuwah Islamiyah). Tetapi dalam hubungan dengan hak-hak ketetanggaan semuanya sejajar:
Berbuat baik dan memuliakan tetangga adalah pilar terciptanya kehidupan sosial yang harmonis. Apabila seluruh kaum muslimin menerapkan perintah Allah Taala dan Nabi SAW ini, sudah barang tentu tidak akan pernah terjadi kerusuhan, tawuran ataupun konflik di kampung-kampung dan di desa-desa.
Beberapa kiat praktis memuliakan tetangga adalah:
1. Sering bertegur sapa, tanyailah keadaan kesehatan mereka.
2. Berikanlah kepada mereka sebagian makanan
3. Berikan oleh-oleh buat mereka, apabila kita bepergian jauh.
4. Bantulah mereka apabila sedang mengalami musibah ataupun menyelenggarakan hajatan.
5. Berikanlah anak-anak mereka sesuatu yang menyenangkan, berupa makanan ataupun mainan.
6. Sesekali undanglah mereka makan bersama di rumah.
7. Berikanlah hadiah kaset, buku bacaan yang mendorong mereka untuk lebih memahami Islam.
8. Ajaklah mereka sesekali ke dalam suatu acara pengajian atau majelis ta’lim, atau pergilah bersama memenuhi suatu undangan walimah (apabila mereka juga diundang)
Memuliakan Teman
Memuliakan teman berarti menjaga dan menunaikan hak-hak mereka. Abdullah Nasih ‘Ulwan dalam Tarbiyatul ‘aulad fil Islam menyebutkan bahwa hak-hak tersebut adalah:
1. Mengucapkan salam ketika bertemu.
Rasulullah saw. yaitu, “Kalian tidak akan masuk surga sebelum kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sebelum kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang apabila kalian kerjakan, niscaya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian”. (H.R. Bukhari-Muslim)
2. Menjenguk Teman Ketika Sakit
Bukhari meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari bahwa Rasulullah saw bersabda, “Jenguklah orang yang sakit; beri makanlah orang yang lapar dan lepaskanlah orang yang dipenjara”.
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Hak seseorang Muslim terhadap Muslim lainnya ada lima; Menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan orang yang bersin”.
3. Mendoakan Ketika Bersin
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu bersin, hendaklah ia mengucapkan, Alhamdulillah (segala puji bagi Allah), dan saudaranya atau temannya hendaknya mengucapkan untuknya, Yarhamukallah (semoga Allah mengasihimu)’ Apabila teman atau saudaranya tersebut mengatakan, Yarhamukallah (semoga Allah mengasihimu), kepadanya, maka hendaklah ia mengucapkan, Yahdikumullah wa yushlihu balakum.
4. Menziarahi karena Allah
Ibnu Majah dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa menjenguk orang sakit atau berziarah kepada seorang saudara di jalan Allah, maka ia akan diseru oleh seorang penyeru “Hendaklah engkau berbuat baik, dan baiklah perjalananmu, (karenanya) engkau akan menempati suatu tempat di surga”.
5. Menolong ketika kesempitan
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim lainnya, ia tidak boleh berbuat zhalim kepadanya dan tidak boleh menyia-nyiakannya (membiarkan, tidak menolongnya). Barang siapa menolong kebutuhan saudaranya maka Allah akan menolong kebutuhannya, barang siapa menyingkirkan suatu kesusahan dari seorang muslim, niscaya Allah akan menyingkirkan darinya suatu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan hari kiamat. Dan barang siapa menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi (aib)nya pada hari kiamat”
6. Memenuhi undangannya apabila ia mengundang
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra , bahwa Rasulullah saw. bersabda; Hak seseorang Muslim terhadap Muslim lainnya ada lima; Menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan orang yang bersin”
7. Memberikan ucapan selamat
Ad-Dailami meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, “Barang siapa bertemu saudaranya ketika bubar dari shalat Jum’at, maka hendaklah ia mengucapkan “Semoga (Allah) menerima (amal dan doa) kami dan kamu.
8. Saling memberi hadiah
At-Thabrani meriwayatkan dalam Al-Ausath dari Nabi saw, bahwa beliau bersabda, “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai”
Ad-Dailami meriwayatkan dari Anas secara marfu’, “Hendaklah kalian saling memberi hadiah karena hal itu dapat mewariskan kecintaan dan menghilangkan kedengkian-kedengkian”
Imam Malik di dalam Al-Muwaththa’ meriwayatkan, “Saling bermaaf-maafkanlah, niscaya kedengkian akan hilang. Dan saling memberi hadiahlah kalian niscaya kalian akan saling mencintai dan hilanglah permusuhan.”
Wasiat Tentang Tetangga
عن عائشة رضي الله عنها عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ما زال جبريل يوصيني بالجار حتى ظننت أنه سيورثه. رواه البخاري ومسلم وأبو داود وابن ماجه الترمذي
Dari Aisyah ra, dari Nabi Muhammad saw bersabda, “Tidak henti-hentinya Jibril memberikan wasiat kepadaku tentang tetangga sehingga aku menduga bahwa ia akan memberikan warisan kepadanya.” (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah dan At-Tirmidzi)
Penjelasan:
الوصاءة Wawu dibaca fathah, bersama dengan shad tanpa titik dan dibaca panjang, lalu hamzah sesudahnya, adalah bentuk kata lain dari الوصية wasiat, demikian juga dengan الوصاية mengganti ya’ pada posisi hamzah
يوصيني بالجار Berwasiat kepadaku tentang tetangga, tanpa dibedakan kafir atau muslim, ahli ibadah atau ahli maksiat, setia atau memusuhi, kenal baik atau masing asing, menguntungkan atau merugikan, keluarga dekat atau orang lain, dekat rumah atau jauh.
حتى ظننت أنه سيورثه Sehingga aku menyangka bahwa ia akan mewarisi, ia menyuruhku -berdasarkan perintah Allah-, bahwa tetangga itu mewarisi tetangga lainnya, dengan menjadikannya bersama-sama dalam harta, sesuai dengan bagian yang ditentukan dalam pembagian waris.
Imam Bukhari meriwayatkan juga hadits ini dari Jabir ra, dari Rasulullah saw dengan kalimat:
ما زال جبريل يوصيني بالجار حتى ظننت أنه يجعل له ميراثاً
Tidak henti-hentinya Jibril memberikan wasiat kepadaku tentang tetangga sehingga aku menyangka ia menjadikan warisan harta tertentu baginya.
At-Thabrani meriwayatkan dari Jabir ra dari Nabi Muhammad saw bersabda:
الجيران ثلاثة: جار له حق وهو المشرك: له حق الجوار، وجار له حقان وهو المسلم: له حق الجوار وحق الإسلام، وجار له ثلاثة حقوق: جار مسلم له رحم له حق الجوار والإسلام والرحم
Tetangga itu ada tiga macam: Tetangga yang hanya memiliki satu hak, yaitu orang musyrik, ia hanya memiliki hak tetangga. Tetangga yang memiliki dua hak, yaitu seorang muslim: ia memiliki hak tetangga dan hak Islam. Dan tetangga yang memiliki tiga hak, yaitu tetangga, muslim memiliki hubungan kerabat; ia memiliki hak tetangga, hak Islam dan hak silaturahim.
Aisyah ra, meriwayatkan tentang batasan tetangga, yaitu empat puluh rumah dari semua arah.
At-Thabrani meriwayatkan dengan sanad dhaif/lemah dari Ka’ab bin Malik ra, dari Nabi Muhammad saw:
ألا إن أَربَعينَ دَار جار
“Ingatlah bahwa empat puluh rumah itu adalah tetangga”
Pelaksanaan wasiat kepada tetangga ini adalah dengan berbuat baik semaksimal mungkin, sesuai kemampuan, seperti memberikan hadiah, memberi salam, berwajah lepas/cerah ketika berjumpa, mencari tahu jika tidak kelihatan, membantunya ketika memerlukan bantuan, mencegah berbagai macam gangguan, material maupun inmaterial, menghendaki kebaikannya, memberikan nasihat terbaik, mendoakannya semoga mendapatkan hidayah Allah, bermuamalah dengan santun, menutupi kekurangan dan kesalahannya dari orang lain, mencegahnya berbuat salah dengan santun –jika masih memungkinkan- jika tidak maka dengan cara menjauhinya dengan tujuan mendidik, disertai dengan mengkomunikasikan hal ini agar tidak melakukan kesalahan.
Hadits ini dengan tegas menunjukkan tentang besarnya hak tetangga. Dan bahwa mengganggu tetangga termasuk di antara dosa besar.
Dosa Orang Yang Tetangganya Tidak Aman Dari Gangguannya
عَنْ أبي شُرَيْحٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قالَ: وَاللهِ لا يُؤْمِنُ وَاللهِ لا يُؤْمِنُ وَاللهِ لا يُؤْمِنُ. قِيْلَ: مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قالَ: الَّذِي لا يَأمَنُ جَارُهُ بَوَائِقُهُ. رواه البخاري
Dari Abu Syuraih ra, bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Demi Allah seseorang tidak beriman, Demi Allah seseorang tidak beriman, Demi Allah seseorang tidak beriman.” Ada yang bertanya, “Siapa itu Ya Rasulullah?” Jawab Nabi, “Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (H.R. Bukhari)
Penjelasan:
بوائقه Bentuk jama’ dari kata بائقة –ba’ dan qaf- berarti: bencana, pencurian, kejahatan, hal-hal yang membahayakan, hal-hal yang menjadi pelampiasan kebenciannya.
عن أبي شريح Syin dibaca dhammah, ra’ dibaca fathah, diakhiri dengan ha’ tanpa titik. Khuwailid Al-Khuza’iy as-Shahabiy.
والله لا يؤمن Diulang tiga kali, artinya tidak sempurna imannya, atau hilang iman sama sekali bagi yang menganggapnya halal, atau ia tidak mendapatkan balasan seorang mukmin sehingga dapat masuk surga sejak awal, atau pengulangan ini untuk menegaskan dan memberatkan larangan.
قِيْلَ: مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ Dalam Fathul Bari, Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa dialah yang bertanya. Rasulullah saw menjawab:
الَّذِي لا يَأمَن جَارُهُ بَوَائِقُهُ
Dari hadits di atas dapat diambil pelajaran tentang pentingnya hak tetangga. Sehingga Rasulullah saw harus bersumpah tiga kali, menafikan iman orang yang mengganggu tetangganya, baik dengan ucapan maupun perbuatan.
Larangan Meremehkan Hadiah Dari Tetangga
عن أبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ:
يَا نِسَاءَ المُسْلِمَاتِ لا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسَنَ شَاةٍ. رواه البخاري ومسلم
Dari Abu Haurairah ra berkata: Nabi Muhammad saw pernah bersabda: Wahai para wanita muslimah, janganlah ada seorang tetangga yag meremehkan hadiah tetangganya meskipun kikil (kaki) kambing. (H.R. Bukhari-Muslim)
Penjelasan:
حقر أي استصغار Meremehkan, seperti kata: احتقار والاستحقار
يا نساء المسلمات Wahai wanita-wanita muslimah, bentuk إضافة الموصوف إلى صفته /idhafah (penyandaran) maushuf (yang diterangkan) kepada sifat.
Atau bermakna lain: يا فاضلات المسلمات Wahai para pemuka muslimah, seperti ungkapan Arab يا رجال القوم: أي يا أفضلهم wahai para pemimpin kaum, artinya para pemuka mereka.
لا تحقرن Qaf dibaca kasrah, artinya jangan meremehkan, menganggap kecil.
” جارة ” هديةً ” لجارتها ” tetangga memberikan hadiah pada tetangga lainnya. Atau meremehkan hadiah dari tetangganya –Lam- bermakna –min- sehingga kemungkinan makna larangan itu pada pemberi atau penerima,
” ولو ” كانت الهدية meskipun hadiah itu berupa kaki kambing ” فرسن شاة ” fa’ dibaca kasrah, ra’ dibaca sukun/mati, adalah bagian kaki di atas telapak/tumit. Larangan bagi tetangga meremehkan hadiah tetangganya, meskipun hadiah itu pada umumnya kurang berguna, atau tidak berkenan dan tidak bernilai di hati. Dari itulah tetangga dapat memberikan dan menerima hadiah yang ada meskipun kecil nilainya. Hal ini lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Dengan ini pula kebiasaan memberikan hadiah dapat terus berlangsung antara tetangga, karena dengan sesuatu yang murah dan mudah, dapat dilakukan dalam keadaan miskin maupun kaya, dapat membuahkan rasa cinta dan kasih sayang. Dengan ini pula tidak diperbolehkan bagi laki-laki meremehkan hadiah antara mereka. Penyebutan larangan secara khusus pada wanita karena merekalah yang lebih cepat bereaksi dalam cinta dan benci, sehingga mereka lebih berhak mendapatkan perhatian, agar dapat menghindarkan diri dari larangan itu, menghilangkan kebenciaan antara mereka dan mempertahankan rasa cinta antar mereka.
Dari hadits ini dapat diambil pelajaran bahwa tidak diperbolehkan meremehkan hadiah untuk mempertahankan rasa cinta antara mereka.
Barang Siapa Beriman Kepada Allah Dan Hari Akhir Maka Jangan Menyakiti Tetangga
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يؤذ جاره ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيراً أو ليصمت. رواه البخاري ومسلم وابن ماجه
Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan menyakiti tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah menghormati tamunya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau diam.” (H.R. Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah)
Penjelasan:
ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر” أي إيمانا كاملاً Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir. Artinya: iman yang sempurna.
Penyebutan hanya pada iman kepada Allah dan hari akhir, tidak dengan kewajiban lainnya, karena keduanya merupakan permualaan dan penghabisan. Maksudnya: Beriman dengan Penciptanya dan hari mendapatkan balasan amal baik dan buruknya.
فلا يؤذ جاره Maka jangan menyakiti tetangganya.
Tidak menyakiti tetangga itu bisa diaktualkan dengan mengulurkan kebaikan kepadanya, mencegah hal-hal yang membahayakannya.
فليكرم ضيفه Hendaklah memuliakan tamunya, dengan menampakkan rasa senang, menyuguhkan hidangan yang tersedia dan terjangkau.
فليقل خيراً أو ليصمت Hendaklah berkata baik atau diam dari ucapan buruk. Sebab perkataan itu hanya dapat digolongkan menjadi dua golongan, baik atau buruk.
Hadits ini berisi tiga hal penting yang menjadi kemuliaan akhlak dalam perbuatan atau perkataan. Dua pertama yang perbuatan itu adalah yang pertama berisi takhalliy (pengosongan diri) dari sifat tercela, dan yang kedua tahalliy (berhias diri) dengan akhlak mulia. Sedangkan yang ketiga berisi akhlaq qauliyah (ucapan).
Kesimpulannya bahwa kesempurnaan iman seseorang diukur dari kebaikannya kepada sesama makhluk Allah, baik dalam tutur kata kebaikan maupun diam dari kalimat buruk, dan melakukan apa yang sepatutnya dilakukan dan meninggalkan apa yang membahayakan; antara lain adalah dengan tidak menyakiti tetangga.
Dari hadits ini dapat diambil pelajaran bahwa tidak menyakiti tetangga adalah bukti kesempurnaan iman seseorang kepada Allah dan hari akhir.
Hak Tetangga Yang Lebih Dekat Pintunya
عن عائشة رضي الله عنها قالت: يا رسول الله إن لي جارين فإلى أيهما أُهدي؟ قال: إلى أقربهما منك باباً. رواه البخاري
Dari Aisyah r.a. ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki dua tetangga, kepada tetangga yang manakah aku berikan hadiah?” Jawab Nabi, “Kepada tetangga yang pintu rumahnya lebih dekat denganmu.” (H.R. Bukhari)
Penjelasan:
باب حق الجوار في قرب الأبواب Bab: hak tetangga yang lebih dekat pintunya, artinya barangsiapa yang pintunya lebih dekat maka ia yang lebih berhak. Karena ia yang melihat apa yang keluar masuk dari rumah tetangganya; berupa hadiah dan lain sebagainya, sehingga kemungkinan ada harapan dan keinginan, berbeda dengan yang jauh pintunya.
أهدى Hamzah dibaca dhammah dari kata al-ihda’
Rasulullah saw menjawab: إلى أقربهما منك باباً Kepada yang lebih dekat pintunya. Karena ia melihat keadaan tetangga dan keperluannya. Tetangga yang lebih dekat yang lebih cepat menyahut jika dipanggil, ketika tetangga sebelah memerlukan, terutama ketika terlena.
Dari hadits ini dapat diambil pelajaran bahwa hak tetangga mengikuti kedekatan pintunya, yang lebih dekat pintunya yang lebih diprioritaskan dari sebelahnya, demikian seterusnya.

Pedas, tapi tetap saja mengulanginya, mungkin itu ungkapan yang pas untuk menggambarkan kondisi manusia yang tidak bisa terlepas secara utuh dari kesalahan dan dosa. Tidak ada manusia yang tidak berdosa kecuali para Nabi yang sudah dipelihara kesucian mereka oleh Allah. Adalah wajar apabila seseorang melakukan dosa kemudian bertaubat dari dosa yang baru saja ia lakukan dan itu adalah hal yang paling baik baginya. Namun tidak wajar dan bahkan sangat celaka bila ia berkesinambugan dalam melakukan dosa tersebut tanpa ada sedikitpun merasa bersalah, berlalu tanpa taubat kepada Penciptanya. Hadits berikut menjelaskan bahwa Allah sangat gembira dengan keridhaanNya ketika seorang hamba bertaubat kepada Allah dari dosa yang ia lakukan. Berikut haditsnya
وعن أبي حمزة أنس بن مالك الأنصاري خادم رسول الله صلى الله عليه وسلم رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لله أفرح بتوبة عبده من أحدكم سقط على بعيره وقد أضله في أرض فلاة متفق عليه .
وفي رواية لمسلم لله أشد فرحاً بتوبة عبده حين يتوب إليه من أحدكم كان على راحلته بأرض فلاة ، فانفلتت منه وعليها طعامه وشرابه فأيس منها ، فأتى شجرة فاضطجع في ظلها ، وقد أيس من راحلته ، فبينما هو كذلك إذ هو بها قائمة عنده ، فأخذ بخطامها ثم قال من شدة الفرح : اللهم أنت عبدي وأنا ربك ، أخطأ من شدة الفرح
Artinya: “Dari Abu Hamzah Anas bin Malik al-Anshari Ra, pelayan Rasulullah Saw ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh Allah lebih bahagia dengan taubat hambaNya daripada bahagianya
seseorang dari kamu yang jatuh dari atas untanya dan Allah telah menyesatkan untanya di tanah yang luas." (Muttafaq 'alaih)
Dalam riwayat Muslim disebutkan
Dalam riwayat imam Muslim "Sungguh Allah sangat bahagia dengan taubat hambaNya ketika dia bertaubat kepadaNya.daripada kebehagian seseorang diantara kamu, yang sedang berada diatas kendaraaannya (untanya) di tengah padang pasir, kemudian unta tersebut hilang dari hadapannya sedangkan di atas unta itu terdapat perbekalan makanan dan minuman sehingga ia merasa putus asa. Lalu dia mendatangi sebuah pohon dan berbaring dibawah naungannya. Dia merasa putus asa terhadap untanya. Ketika dia dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba untanya telah berdiri di dekatnya dan segeralah ia meraih tali kekangnya. Kemudian berkata dengan kegirangannya; “Ya Allah,Engkau adalah hambaKu dan aku adalah Tuhanmu!’ dia salah ucap karena kegirangannya“
Bahasa Hadits
لله Jawab qasam (sumpah) dari lafaz sumpah “wallahi”yang disembunyikan pada awal kalimat hadits
أفرح Sangat bahagia. Alfarhu apabila dipakaikan untuk manusia adalah kegembiraan dan kesenangan hati karena tercapainya apa yang ia inginkan.
Adapun alfarhu bagi Allah adalah satu dari sekian banyak sifat Allahyang pantas bagi keagungan dan kesempurnaanNya tapi berbeda dari alfarhu bagi makhluk.
سقط Jatuh dari ontanya tanpa sengaja.
أضله Meyesatkannya.
فلاة Tanah luas yang tidak memiliki tanaman dan air.
الراحلة Sesuatu yang dikendarai oleh seorang musafir seperti onta dan lainnya.
Makna Hadits
Betapa luasnya rahmat Allah. Manusia diciptakan dengan tabiat dan susunan yang sangat mengagumkan, yang terdiri dari ruh yang memiki sifat baik dan sifat jahat, dan juga terdiri dari jasad yang memiliki banyak keinginan.
Manusia selalu berusaha untuk melakukan hal yang baik semata tanpa ada kesalahan, namun ini tidak bisa tercapai kecuali bagi orang-orang yang benar-benar dijaga Allah selalu. Dan selamanya manusia tidak bisa terlepas dari segala factor kesalahan. Sehingga manusia memang akan tetap melakukan kesalahan baik sengaja ataupun tidak sengaja. Maka yang terbaik bagi manusia yang bersalah adalah bertaubat kepada Allah Rabbnya. “Setiap anak Adam itu melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang bertaubat” Karena itu kita melihat betapa Rasulullah sangat menekankan agar kita selalu bersegera bertaubat setiap kali melakukan dosa. Pintu taubat selalu terbuka dan kesmpatan itu selalu tersedia. Bersegera bertaubat adalah perkara wajib dan meninggalkan taubat adalah dosa.
Allah selalu menanti dengan kerrinduan kedatangan taubat seorang hamba yang beriman. Maka apabila seorang hamba bertaubat dari suatu kesalahan, Allah sangat bergembira karena ridha terhadapnya, dan Allah akan menerima taubatnya. Kemudian Allah akan membalasi hamba tersebut dengan ampunan dan kebaikan.
Kita tahu bahwa Allah sangat suci dari menyerupai makhluk dan Allah maha sempurna tidak ada kekurangan apapun. Maka apabila Rasulullah menyebutkan “Allah sangat bahagia”, maksud bahagia yang disebutkan dalam hadits bukan termasuk bahagia yang biasa ada pada manusaa biasa. Hanya saja maksud bahagia Allah dalam hadits tersebut menunjukkan keridhaan Allah terhadap hambanya yang bertaubat, dan kebaikan Allah dengan mengampuni mereka dari segala dosa, serta menutup segala aib dan kekurangan hamba tersebut.
Rasulullah menjelaskan bagaimana seseorang yang bermaksiat kepada Allah keluar melakukan perjalanan dengan ontanya, kemudian onta tersebut tersesat dan hilang dari hadapannya di tengah padang pasir yang luas. Pada dasarnya orang yang berdosa itu tersesat karena dosa yang ia lakukan terhadap Rabnya. Dengan dosanya ia tersesat jauh dari jamaah kaum muslimin. Dengan ketersesatan itu hilanglah akhiratnya dan dunia yang sedang dihadapinya. Apabila ia meghadap kapada Allah dengan sepenuh hati niscaya Allah akan menerimanya da mengampuni dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Kecuali dosa yang berhubung dengan hak-hak manusia, maka mesti ia selesaikan dengan orang yang bersangkutan, baik harta, kezhaliman ataupun hal lainnya
Demikianlah Allah menyeru hambanya yang menyimpang dari jalan yang lurus untuk kembali kepadaNya. Menyeru para mukmin yang berdosa untuk melepaskan diri dari maksiat seraya menghadapkan wajah kepada Allah. Karena Allah maha kaya dan para hamba sangat butuh kepadaNya. Dia maha kuat dan hambaNya sangat lemah.
Bersegeralah memohon ampunan kepada Allah dan kita akan mendapatkan penerimaan dan pengampunan tersebut. Karena Allah sudah menjadikan pengampunan bagian dari kemestian yang akan Ia berikan bagi siapa saja yang bertaubat kepadaNya. Hendaklah setiap orang yang tersesat dari petunjuk Allah kembali kepada jalanNya yang benar, dan setiap orang yang berdosa untuk kembali kepadaNya dan memperbaiki kesalahannya
Faidah Hadits
1. Allah sangat ridha terhadap orang yangbersegera bertaubat kepadaNya dari dosa apapun dan Allah akan menerima selalu taubat hamba tersebut dan memaafkannya.
2. Apabila ada kesalahan dari seorang hamba baik berupa perkataan ataupun perbuatan yang tidak disengaja karena kekagumannya atau kealpaannya yang membuat ia lupa, maka dia tidak terhitung berdosa. Kita melihat laki-laki yang disebutkan dalam riwayat sampai mengatakan sesuatu yang dianggap bisa membuat seseorang jatuh dalam kekufuran. Perkataan itumeluncur dari mulutnya karena kekaguman yang ia rasakan ketika melihat kembalinya onta yang ia miliki. Karena itu Rasulullah tidak mengangap perkataan yang muncul dari laki-laki tersebut sebgai sebuah kesalahan besar yang pantas dihukum
3. Menyampaikan cerita yang salah seperti dalam hadits, untuk pembelajaran dan mengambil manfaat yang disyariatkan adalah boleh. Hal ini terjadi dalam riwayat diatas ketika Rasulullah menceritakan cerita yang salah dalam sabdanya “Ya Allah Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhan-Mu”. Tetapi tidak boleh menceritakan cerita yang salah dengan sia-sia tanpa ada tujuan atau sekedar untuk cerita obrolan saja tanpa ada aspek pembelajaran dan manfaat yang diambil
4. Hadits ini menelaskan keberkahan menerima segala ketentuan Allah. Ketika laki-laki tersebut telah berputus asa dengan hilangnya onta dan bekal bawaannya, lalu ia tidur dengan menyerahkan segala urusannya kepada Allah, maka Allah mnolongnya dengan mengembalikan onta dan barangnya yang hilang tersebut. Subhanallah..
5. Hadits ini juga menjelaskan urgensi menggunakan contoh dan perumpamaan dalam menyampaikan pelajaran dengan sesuatu yang menyentuh serta mengena sehingga setiap orang bisa mencerna dan memahami maksud yang diinginkan .
Wallhu A’lam
Oleh: Saud Alba Radinas
Menghadirkan Niat dalam Setiap Amalan Kehidupan terus bergulir mengiringi aliran sungai yang terus berjalan tanpa henti. Setiap manusia bertanggung jawab menentukan tempat kembalinya. Surga atau neraka. Pilihan itu ada ditangannya. Yang memilih neraka adalah manusia bodoh yang kehabisan pilihan. Sedangkan yang memilih surga adalah pilihan agung yang butuh perjuangan dan pengorbanan. Disanalah Allah akan menilai layakkah seseorang masuk surga atau tidaknya. Manakah amalannya yang terbaik sehingga ia layak untuk masuk surga. Mana amalan yang benar-benar ikhlas semata karena Allah.
Berikutadalah diantara hadits yang bisa merefresh dan meluruskan kembali niat kita dalam setiap amalan.
عن أبي موسىالاشعرى رضى الله عنه قال سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الرجل يقاتل شجاعة، والرجل يقاتل حمية، والرجل يقاتل رياء، أي ذلك في سبيل الله؟ قال: من قاتل لتكون كلمة الله هى العليا فهو في سبيل الله
(متفق عليه)
Artinya : Dari Abu Musa al-Asy’ary Ra beliau berkata : Rasulullah Saw ditanya tentang seorang laki-laki yang berperang karena keberanian dan laki-laki yang berperang karena kebangsaan serta laki-laki yang berperang karena riya, yang manakah berperang di jalan Allah? Rasulullah bersabda “Barang siapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah maka dia fi sailillah” (HR. Muttafaq Alaih)
Secara umum hadits ini menerangkan bahwa ikhlas dalam setiap amalan yang zhahir dan yang tersembunyi merupakan pondasi dasar tegaknya bangunan amalan seorang insan Muslim. Semua tindak-tanduknya bergerak dari pondasi tersebut. Ikhlas adalah Ruh (spirit) sebuah amalan. Apabila sebuah amalan kosong dari ruh maka tiadalah artinya amalan tersebut betapapun besarnya.
Kita adalah umat yang memiliki aktivitas yang sangat agung sebgaimana disebutkan dalam hadits, Berjihad fi sabilillah. Tetapi Rasulullah telah meggariskan masalah tersebut dengan bahasa yang ringkas dan dalam maknanya, “Barang siapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah maka dia fi sabilillah”
Disini kita melihat bahwa yang ditolak oleh islam adalah berperang karena menunjukkan keberanian, berperang karena kebangsaan dan ke tiga berperang karena riya. dimana dia menunjukkan bahwa dirinya adalah orang yang memiliki sifat baik padahal sebaliknya yang terjadi. Maka segala bentuk amalan yang disebutkan dalam hadits sangat ditolak dalam islam. Pondasi utama sebuah amalan adalah untuk meninggikan kalimat Allah. Kita melihat bahwa faktor utama orang yang berperang karena keberaniannya bukanlah karena untuk meninggikan kalimat Allah tetapi ingin menunjukkan keberanian dan kemampuan serta keahliannya di medan perang. Orang yang berperang karena suku dan kebangsaan dan rasa nasionalisme, penggerak utamanya adalah fanatisnenya. Betapa banyak orang yang fanatisme dengan karib kerabatnya berperang menghadapi manusia yang selalu berusaha komitmen dengan syariat Allah, ini terjadi karena fanatisme telah membutakannya. Dan yang ke tiga orang yang berperang karena riya agar manusia mengetahui dan memandang posisi dan jabatannya serta dimnita pendapatnya, penggerak utamanya adalah agar manusia melihatnya dan menyebut-nyebutnya.
Ulama kita berkata “Pada hari kiamat orang yang riya dipanggil dengan empat sebutan, hai orang yang riya, hai penipu, hai fajir dan hai pembohong. Pergilah.. ambillah pahala kalian dari orang-orang yang kalian beramal kerena mereka. Maka tiada pahala bagi kalian disisi Kami”
Ulama-ulama salaf berkata “Pelajarilah niat yang baik sebagaimana kalian memelajari ilmu. Para sahabat terdahulu adalah pedagang niat”
Maksudnya baghwa para sahabat berniat dengan niat yang banyak karena Allah. Yang terpenting adalah membenarkan niat kita karena sangat besar urgensi dan posisinya disisi Allah, dan sangat besar pengaruhnya dalam realita kehidupan kita. Contonhnya jelas, orang-orang yang telah bersusah payah pergi perang namun mereka berperang karena menunjukkan keberaniannya, karena fanatisme kebangsaan dan karena riya maka tidak ada hasil apapun yang mereka dapatkan.
Lihatlah orang-orang yahudi, mereka mnguasai negara-negara kita, menebarkan permusuhan di kampung-kampung kaum muslimin, menginjak-injak kehormatan kita serta mengotori tempat-tempat suci kita, semua itu karena kita berperang didorang oleh semangat fanatisme dan kebangsaan. Sungguh merugi kita karena pertolongan Allah tak kunjung datang, kita merugi karena kekutan dan potensi jutaan kaum muslimin terpecahkan dengan fanatisme dan kebangsaan yang tidak jelas. Bahkan terkadang dibawah yel=yel kebangsaan dan nasionalisme kita berperang melawan kaum muslimin lainnya. Itu semua karena kita memahami nasionalisme dan kebangsaan dengan pemahaman yang sangat-sangat sempit. Orang bijak berkata “Agamaku islam. Dimanapun ada orang islam itulah negaraku, itulah tanah airku, itulah nasionalisme ku”.
Beramallah dan berjuanglah hanya untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini.
Wallahu A’lam
Ibnu Radinas
Dari fns dan berbagai sumber