
Di tengah kesibukan Munas II, Ketua Dewan Syuro PKS Ustadz Hilmi Aminuddin, yang akrab disapa Ustadz Hilmi, menyempatkan diri berbincang-bincang dengan wartawan selama kurang lebih satu jam.
Dalam-bincang yang penuh persahabatan itu, Ustadz Hilmi mengaku baru pertama kali berlama-lama dialog dengan wartawan. Karuan saja diskusi ringan hingga yang berat pun dijawabnya dengan renyah.
Mulai dari isu PKS menjadi partai inklusif, kehadiran kader non muslim, bahkan isu kecurigaan sejumlah jenderal soal PKS, isu asas tunggal, Pancasila hingga syariat Islam pun dipaparnya. Termasuk isu aktual soal kasus video porno 'Ariel-Luna Maya-Cut Tari, tak luput dari pengamatannya.
Untuk lebih jelasnya saya menurunkan lengkap wawancara langka ini via facebook. Berikut petikannya:
APA SAJA YANG DILAKUKAN PKS DALAM MUNAS II INI?
Pada dasarnya PKS tengah melakukan rekonsiliasi dan koordinasi yang intensif terhadap mesin partai, tepatnya 5.000 lebih kader inti dari daerah, desa dan kecamatan-kecamatan di seluruh Indonesia plus 17 utusan PKS di luar negeri, hadir di Munas II PKS ini.
Rekonsiliasi dan koordinasi ini diharapkan berdampak pada membesarnya dukungan suara untuk PKS. Kita ingin melakukan ekspansi lebih luas lewat rekonsiliasi dan koordinasi umat ini. Tentu saja semua dinisbahkan untuk memberikan sumbangan positif bagi bangsa dan negara tercinta ini.
Intinya lewat Munas II ini PKS tengah merancang kebijakan yang komprehensif untuk kebajikan umat manusia di bumi pertiwi ini.
Lewat rekonsiliasi dan koordinasi ini kami ingin menargetkan dukungan suara PKS dari ranking keempat hingga masuk ketiga besar. Entah ranking satu, dua atau tiga.
Itulah mimpi yang kami rangkai dan rencanakan lewat Munas II ini. Prestasi yang kami raih sekarang ini adalah hasil mimpi kami 10 tahun lalu.
Kami tidak sekadar mimpí ingin menjadi besar, tapi yang lebih penting dari itu semua adalah bisa berkontribusi positif bagi bangsa dan tànah air ini.
Doakan saja mimpi ini akan terealisasi.
MENGAPA MIMPI ITU DIREALISASIKAN DENGAN MENGUBAH MINDSET DARI PARTAI KADER ATAU PARTAI DAKWAH MENJADI PARTAI TERBUKA? DARI PARTAI ESKSKLUSIF JADI PARTAI INKLUSIF?
Untuk kami masalah inklusivitas ini bukan taktis bahkan bukan pula strategis. Tapi muncul dari konsekuensi keimanan kita selama in, yakni sebagai ummatan wasathan, umat moderat, umat pertengahan.
Konsekuensinya, PKS memang harus menerima pluralitas, Allah sengaja menciptakan keberagaman agar kita bisa saling menghormati dan menghargai.
Cuma kita menginginkan bahwa keberagaman itu mendorong dinamika di masyarakat. Justru kalo seragam masyarakat akan statis. Jadi pluralitas itu sudah sunnatullah dan inklusivitas menjadi suatu keharusan bagi PKS.
Kenapa harus terbuka, karena memang Islam agama terbuka, agama yang inklusif. PKS sebagai partai Islam harus melaksanakan rahmatan lil alamin, hasil upaya dan perjuangan kader PKS harus bisa dinikmati oleh semua golongan, muslim dan non muslim.
Kalau sebelumnya PKS dianggap eksklusif itu memang benar, karena saat itu PKS tengah membangun identitas diri, dan dari identitas diri itu muncullah integritas sehingga kita dihormati. Karena sulit bagi kita berinteraksi dengan orang yang tak punya identitas, apalagi tak punya integritas.
Setelah identitas dan integritas diri kita miliki dengan solid, PKS mencanangkan diri sebagai partai terbuka, kita dapat bergaul dengan dunia luar. Dalam Munas ini PKS mengundang Dubes AS, Dubes Jerman dan Dubes Australia, mereka semua hadir dam menghormati PKS.
PKS sudah membuat MoU dengan partai-partai di Australia dan China, ini bukti bahwa PKS sudah menjadi partai inklusif. Jadi PKS tak hanya ingin berinteraksi dengan partai dan tokoh di Indonesia saja, tapi juga dengan dunia internasional. Kita punya sumber daya manusia yang memadai untuk hal tersebut.
Itu semua menunjukkan bahwa PKS tengah meningkatkan identitas diri dari partai eksklusif menjadi lebih inklusif.
MENGAPA PKS MENGGUNAKAN HOTEL RITZ CARLTON SEBAGAI AJANG MUNAS II PADAHAL KITA TAHU HOTEL INI ADALAH SIMBOL AS DAN AS SAHABAT ISRAEL, SEMENTARA PKS KITA JUGA TAHU SANGAT PRO PALESTINA?
Ciri ke-Islaman itu adalah rahmatan lil alamin, universal, memayungi. Islam tidak datang untuk memberangus kemanusiaan, apalagi yang akan diberangus itu adalah komponen umat Islam itu sendiri.
PKS memandang persoalan Palestina adalah persoalan umat manusia, masalah HAM. Apalagi konstitusi kita mengecam penjajahan di atas dunia, bahkan dunia juga mengakui bahwa Palestina saat ini tengah dijajah Israel.
Kalau mau jujur, Negara-negara Barat justru lebih maju ingin mendobrak blockade oleh Israel, sebagaimana 40 negara yang tergabung dalam kapal perdamaian Mavi Marmara. Sedangkan beberapa negara Tumur Jauh seperti Indonesia, Malaysia, ikut berupaya dalam mendobrak blokade ekonomi tersebut, sementara negeri-negeri Arab justru kalah gigih memperjuangkan Palestina.
Jadi soal Palestina sudah menjadi konsumsi masyarakat internasional, bahwa kita urun rembug di dalamnya, selain sebagai rasa keprihatinan sesama manusia juga sesama umat Islam.
Soal posisi AS, PKS ingin melihat AS sebagai sebuah bangsa, bukan sebuah rezim. Kita berhubungan dengan bangsa AS dan tidak ingin terjebak dengan rezim yang sedang berkuasa. Artinya AS sebagai bangsa adalah kumpulan manusia yang harus dihormati, tetap AS sebagai rezim bisa saja baik dan bisa
juga tidak baik. Karena itu kualitas hubungan ini jauh lebih bermutu dan jauh lebih tulus, kalau rezimnya anti HAM ya kita tidak ingin bersahabat dengan rezim yang berkuasa tersebut. Tapi bukan berarti tidak ada interaksi, dengan berinteraksi kita bisa mengkritik, mengevaluasi dan member saran dan masukan.
Ini adalah bagian dari sikap inklusivitas PKS.
BAGAIMANA MEYAKINKAN KADER SOAL INI?
Kader PKS adalah kader yang terbina, PKS seperti universitas terbuka, terus menerus melakukan kaderisasi. Struktur terkecil di PKS bukan Depera, tapi unit-unit pembinaan kader yang terdiri dari 5-12 anggota yang rutin bertemu minimal tiap pekan. Mereka melakukan kajian, musyawarah, mendengar
pengumuman, dan bahkan berolah raga. Jadi kader PKS adalah kader yang sangat rasional dan tahu arah dari kebijakan partai.
MENGAPA PKS MENGUNDANG KADER NON MUSLIM? APAKAH INI AGENDA ISLAMISASI INDONESIA?
Kita mempunyai stelsel kaderisasi yang terbagi dalam delapan level kaderisasi, dua level kaderisasi yang bisa menampung siapa saja, di sana akan terjadi sebuah proses pembinaan.
Mengapa kita memberi ruang itu? Karena memang di daerah-daerah yang mayoritas non muslim ada yang datang ke DPP ingin membentuk kepengurusan PKS, pencalonan dari PKS, dan terjadi dibanyak DPD di Kawasan Timur Indonesia.
Ini kita sahkan, ke depan banyak calon kader non muslim di KTI juga ingin bergabung dan kita tidak akan menolak. Ini menjadi relevan dengan misi PKS sebagai partai terbuka.
Dalam pembinaan kader di PKS kita membentuk semacam rizalul Islam (tokoh Islam), rizalud dakwah (tokoh dakwah), rizalul ummah (tokoh masyarakat), rizalud daulah (negarawan), dan tokoh lainnya. Jadi dalam kaderisasi partai itu ada proses pembinaan.
Tapi harus digarisbawahi, dalam kaderisasi PKS tidak mengharuskan yang non muslim masuk Islam. Karena itu ada konteks kehidupan berbangsa, bernegara, berinteraksi, berkontribusi buat bangsa dan negara.
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan sering member bantuan baik ke masjid maupun gereja. Jadi kita sebagai partai sudah mengantisipasi ke sana, kalau tidak begitu kita tidak akan pernah menjadi negarawan.
Mukernas PKS di Bali 2008 kita sudah mendeklarasikan sebagai partai terbuka. Tapi sejak didirikan PKS sudah ada interaksi dengan orang-orang Tionghoa yang tergabung dalam Inti, Ikatan Tionghoa Indonesia. Di dalamnya ada yang beragama Hindu, Budha, Kristen, Katholik dan lainya. Mereka sahabat kita sejak masih menjadi PK, karena masyarakat memang menunggu aktivitas yang benar-benar bermanfaat buat semua.
Bukan awal-awal yang kita kedepankan Islamnya, kita bisa bersahabat dalam bingkai kemanusiaan, kebangsaan, maupun keumatan.
MENGAPA PKS TIDAK MENCALONKAN KADER SEBAGAI PEMIMPIN NEGARA INI KE DEPAN?
Bagi PKS pemimpin itu konteksnya ada dua, pemimpin formal dan pemimpin informal. Pimpinan formal itu mulai dari Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota hingga ke RT RW. Sementara pemimpin non formal adalah pemimpin organisasi, partai, dan lembaga non pemerintahan lainnya.
Kaderisasi di PKS adalah kaderisasi yang ingin mencetak leader dalam arti yang luas, tak terfokus pada lembaga kepresidenan saja. Itu memang salah satu, mungkin pada waktunya akan sampai ke sana.
BAGAIMANA MEKANISME NON MUSLIM YANG INGIN MASUK PKS?
Kita perlakukan sama dengan yang muslim, mereka harus mengisi formulir dan mengikuti pengkaderan. Silakan datang ke unit-unit Depera untuk mengikuti Training Orientasi Partai. Setelah itu kontrak komitmen sebagai kader partai.
BAGAIMANA DENGAN ARIEL PETERPAN JIKA INGIN BERGABUNG KE PKS, APAKAH BISA DITERIMA?
Kita ini partai dakwah, kalaui integritas pribadinya masuk sebagai bagian dari komponen dakwah silakan. Apakah masuk kategori itu. Siapapun pada prinsipnya akan diberlakukan sama. Siapapun bisa, yang penting ada komitmen untuk membina diri untuk lebih baik lagi.
Coba aja daftar, ka nada persyaratan yang harus dipenuhi, kalau belum terpenuhi yang perbaiki diri agar bisa terpenuhi.
PKS SEJAK AWAL MENGKLAIM SEBAGAI PARTAI BERSIH, BAGAIMANA KOMITMEN PKS DALAM PEMBERANTASAN KORUPSI?
Saya garis bawahi partai bersih, bersih disini dalam perspektif manusia, bukan malaikat, apalagi jin. Sebagai manusia wajar jika ada kesalahan, karena ada mekanisme untuk memperbaiki diri.
Mekanisme besarnya ada proses amar makruf nahi mungkar, yakni menganjurkan perbuatan baik dan melarang perbuatan yang mungkar.
Amar makruf, bagi PKS adalah mengkonsolidasilkan potensi positif umat untuk memobilisasi sebesar mungkin kebaikan. Jika potensi positif dominan, maka potensi negatif jadi marjinal. Potensi positif jika tidak dibina maka yang dominan adalah potensi negatif.
Sementara nahyi mungkar adalah, upaya mempersempit ruang gerak potensi negative dari manusia. Menghilangkan tak bisa, tapi mempersempit bisa.
Jadi komitmen PKS soal pemberantasan korupsi tak diragukan lagi, karena amar makruf nahyi mungkar sudah berjalan secara harian, sudah built in. Ada nggak ada KPK, PKS sudah anti korupsi. Bagi PKS amar makruf nahyi munkar sudah built in , baik bagi kader PKS maupun simpatisan, apalagi pengurus.
KOK PEMILIHAN PRESIDEN PKS ADEM AYEM?
Di PKS tidak ada yang namanya balapan mengejar jabatan. Tapi yang ada adalah lebih kepada pembagian peran. Jadi di PKS tidak ada hura-hura mengejar jabatan, jauh lebih efektif itu adalah bagaimana mendistribusikan peran kepada setiap kader secara efektif dan efisien.
BAGAIMANA KOMITMEN PKS DALAM BERKOALISI?
Kami sudah menegaskan koalisi PKS-SBY adalah koalisi permanen. Hanya saja permanen disini dibatasi oleh UU, sesuai aturan UU bahwa seorang berhak memerintah sebagai Presiden itu dua periode atau 10 tahun. Itu bukan hal baru, tapi sudah sejak awal koalisi kita tegaskan.
PUASKAH PKS BERKOALISI DENGAN SBY?
Menurut saya kalau kita ingin berkoalisi tidak boleh didasarkan pada subyektivitas, tapi harus melihat lebih jauh apa manfaatnya bagi bangsa ini.
Kita juga tidak boleh mengukur dari puas atau tidak puasnya hubungan itu, tapi seberapa besar manfaat itu dapat dirasakan oleh bangsa dan negara ini. Sampai sekarang ini Alhamdulillah masih ada manfatnya dan cukup besar manfaat itu buat bangsa dan negara
Terasuk peran strategis PKS di Satgas, semua didasarkan pada MoU koalisi di awal. Poin-poin dari koalisi itu sangat jelas, Alhamdulillah semua berjalan sangat produktif dan member manfaat bagi bangsa ini.
Adapun perselisihan yang ada di dalam Satgas, prinsipnya PKS tidak ingin terjebak dalam manuver politik, provokasi dan aksi tidak bersahabat lainnya, sehingga hingga detik ini PKS masih setia dalam koalisi. Dalam koalisi ini semua sangat teratur dan terukur dengan jelas, sehingga sulit untuk digoyahkan.
BAGAIMANA PENDAPAT USTADZ SOAL DANA ASPIRASI DPR?
Istilahnya belum nampak, manuver di DPR sudah begitu marak, tapi belum jelas substansinya. Kalau substansinya bermanfaat untuk rakyat, kita akan dukung.
Kita juga lihat respon publik, mungkin momentum dan istilah yang digunakan masih debatable. Pemahaman publik adalah, tiap anggota dewan dapat jatah Rp15 miliar, kalau sudah dapat stempel publik jelek, kita tinggalkan aja deh.
Pembahasaan dan pelaksanaan belum jelas, tapi yang difahami sekarang jatah anggota dewan dikasih ke konstituen. Kalau itu ditolak PKS.
Lalu belakangan muncul istilah Program Percepatan Otonomi Daerah, melalui alur apa, kalau lewat individu anggota DPR sendiri-sendiri kita tidak setuju. Karena khawatir tak sampai ke rakyat, tapi kalau lewat alur-alur anggaran yang teratur dan mudah dikontrol mungkin kita dukung.
Biasanya kalau ada hal-hal yang sangat strategis, Pak SBY ngajak bicara, soal ini Pak SBY nggak ada ngajak bicara. Kalau serius biasanya ngajak ngomong, ini baru manuver individu-individu partai saja.
BAGAIMANA SIKAP PKS TERHADAP PENEGAKKAN SYARIAT ISLAM?
Saya pernah ditanya soal yang sama oleh sejumlah Jenderal yang mewakili keluarga besar TNI, tepatnya Pepabri, soal ini, yakni pasca Mukernas PKS di Bali. Pada saat Jenderal Sutrisno sedang sakit menyempatkan mengundang saya untuk makan malam, sebelumnya Pimpinan Pepabri Syaiful Sulun juga menanyakan hal yang sama, saya khusus diundang dan disaksikan Pangdam Jaya.
Pertanyaan mereka, bagaimana PKS akan menerapkan syariat Islam? Jawaban saya, tak mungkin kita sebagai umat Islam tak menegakkan syariat Islam.
Shalat harus pakai syariah, shaum, zakat, haji, hingga mati pun harus pakai syariah. Kita tidak bisa menyerahkan zakat tanpa menggunakan syariah. Nikah juga harus pakai syariah, kalau nggak pakai syariah kan nggak sah nikah kita.
Jadi, bertetangga pakai syariah, haji pakai syariah, bahkan mohon maaf silaturahmi kita ini juga adalah bagian dari syariah. Saya bilang, Bapak-Bapak Jenderal juga melaksanakan syariat itu kan? Iya jawabnya. Jadi tidak mungkin kita disuruh untuk melepaskan syariat dalam hidup kita.
Pada dasarnya syariat itu dibagi dua, bagian terbesar atau bahkan sampai 98% dari syariat Islam itu tidak tergantung oleh negara dan tidak membutuhkan UU.
Mau shalat, haji, zakat, umroh boleh saja tanpa ada UU nya, itu bisa kita kerjakan kapanpun dan oleh siapapun tanpa melihat ada atau tidaknya UU.
Syariat seperti ini berlaku bagi individual, keluarga dan masyarakat dan tak perlu ada UU. Dan untuk melaksanakannya tidak perlu negara, negara mau melaksanakannya boleh-boleh saja. Yayasan boleh, partai boleh, ormas juga boleh, entitas apapun boleh, dan tidak harus negara.
Sementara sisanya 2% dinamakan hudud, atau hukum, itulah yang suka ditakuti seperti qishos, rajam, potong tangan, hukum qital, cuma sedikit. Nah ini pelaksananya harus negara dan didukung oleh UU, tidak boleh individual, ormas, partai, yayasan, atau entitas lain melaksanakannya. Untuk yang ini harus negara yang melaksanakannya.
Karena harus negara yang melaksanakan, berarti harus ada UU, karena harus ada UU, berarti harus ada kesepakatan publik. Kalau publik tidak sepakat ya sudah, kita tidak boleh melaksanakan, gugur kewajiban kita melaksanakannya. Masa PKS mau menyelenggarakan sendiri potong tangan, rajam dan sebagainya,
nggak bisa itu.
Ketika saya jelaskan seperti itu, para jenderal itu sepakat dan merasa jelas dengan uraian saya. Saya bertemu tiga kali, di Bali, di hotel Syahid dan di Jakarta, setelah itu di rumah Pak Try Sutrisno.
Yang menarik pernyataan Pak Syaiful Sulun, Ketua Fraksi TNI terakhir, mengatakan, dulu kami sebelum Mukernas PKS di Bali, kami keluarga besar TNI merasa tidak serumah dengan PKS. Setelah di Bali dan mendengar langsung penjelasan-penjelas an soal syariah, kami benar-benar merasa serumah dengan
PKS. Setalah dialog terakhir itu, kami tak hanya merasa serumah, bahkan merasa sekamar dengan PKS, itu kata Pak Syaiful Sulun.
LANTAS BAGIMANA PANDANGAN USTADZ SOAL PANCASILA?
Saya ingat benar yang bertanya waktu itu Jenderal Kiki Syachnakri, Ustadz bagaimana sikap PKS soal Pancasila? Saya bilang begini, pertanyaan Bapak ini dilatarbelakangi oleh Orde Baru, dimasa itu yang ditolak sebenarnya bukan Pancasilanya, bahkan non muslim pun menolak, yakni masalah tafsir tunggal
soal Pancasila. Apalagi BP7 itu tafsirnya kejawen, kan gak boleh ada yang menafsirkan kesundaan, kejawen kek, tidak boleh seperti itu.
Biar saja Pancasila sebagai ideologi terbuka menjadi kesepakatan kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Biarkan orang Islam menafsirkan Pancasila menurut versi Islam, biar orang Kristen, Hindu, Katolik sesuai tafsirnya sendiri-sendiri, biarkan PKS menafsirkan sendiri.
Tidak boleh ada penafsiran tunggal daerah tertentu atau agama tertentu, ini semacam common platform, rujukan bersama. Jadi yang ditentang waktu itu adalah soal tafsir tunggal Pancasila, dan Alhamdulillah sudah dihapus. Jadi Pancasila sekarang milik bersama, dulu Pancasila ada semacam dominasi suatu
kelompok untuk menafsirkannya secara nasional. Sekarang sudah tidak ada lagi penafsiran sempit seperti itu. Ini penting, sehingga kerangka kebersamaan itu bisa ditopang oleh Pancasila.
Kalau ada tafsir tunggal lagi soal Pancasila dikemudian hari, saya jamin bakal ribut, pasti ribut. Wah para Jenderal itu mengacungkan jempol, benar Ustadz.
TAPI TETAP ADA KECURIGAAN BAHWA TUJUAN AKHIR PKS ADALAH PENEGAKKAN SYARIAT ISLAM? DAULAH ISLAMIYAH?
Saya tidak bicara tujuan akhir, tujuan awal PKS itu memegang syariat Islam untuk urusan sehari-hari. Jadi tak ada tujuan awal tujuan akhir, hari-hari PKS itu dengan syariat sebagaimana saya uraikan sejak awal tadi.
NEGARA ISLAM?
Itu terlalu diterjemahkan masalah politik, termasuk pertanyaan mengapa PKS tidak mau bicara soal Piagam Jakarta. Karena bagi PKS Piagam Jakarta sudah politis, PKS jauh lebih tertarik bicara Piagam Madinah, Rasulullah bisa bekerja sama dengan Yahudi, Nasrani. Piagam Madinah jauh lebih universal dan
lebih berhasil.
Jadi kita bicara syariah untuk urusan yang substansial saja, kita shalat, shaum, zakat, haji, dan seterusnya.
Catatan Facebook Partai Keadilan Sejahtera

Kata amanah satu akar dengan kata iman, aman. Dalam surah Al-Mu’minun:8 Allah menyebutkan bahwa di antara ciri ahli surga adalah menjaga amanah. Ustadz Sayid Quthub menjelaskan dalam tafsirnya, maksud amanah dalam ayat tersebut adalah amanah iman. Dari sini kita mendapatkan beberapa pelajaran:
Pertama, bahwa menjaga amanah adalah bagian dari iman. Sungguh dipertanyakan iman seseorang yang sering berbuat khianat, tidak menjalankan amanah sebagaimana mestinya. Karena itu Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam, menjelaskan bahwa di anatara ciri manusia munafiq adalah: “Bila berbicara berdusta, bila berjanji melanggar dan bila dipercaya mengkhianati.” Dari sini nampak bahwa masalah amanah –apapun namanya- : jabatan, harta, anak dan lain sebagainya, itu kelak pasti akan dipertanggungjawabkan di sisi Allah swt.
Itulah yang membuat Umar bin Khaththab tidak enak tidur ketika diberikan kepadanya amanah kepemimpinan. Umar masih selalu menagis, sekalipun semua rakyatnya telah menikmati buah keadilan yang ia tegakkan. Menangis karena takut kalau kelak di hari Kiamat ketahuan bahwa ada seekor kuda yang tergelincir jatuh disebabkan sebuah lubang di jalan yang belum ia perbaiki. Umar merasa bahwa semua itu pasti Allah mintai pertanggungjawabannya. Kesadaran seperti inilah seharusnya yang dimiliki oleh setiap pemimpin terhadap amanah ya ia pikul.
Ingat bahwa rakyat memilih supaya disejahterakan, bukan dibikin semakin menderita. Maka setiap penderitaan rakyat kelak di hari kiamat pasti akan dipikulkan oleh Allah kepada pemimpinnya.
Kedua, bahwa untuk menjalankan amanah secara jujur dibutuhkan iman yang kokoh. Iman bahwa Allah melihat segala perbuatannya, maka ia hati-hati karena takut kepada-Nya. Iman bahwa dunia bukan segala-galanya, melainkan akan dihancurkan dan akan diganti dengan alam Akhirat. Di sanalah setiap insan akan diadili di hadapan Allah yang Maha Mengetahui, maka ia bersungguh-sungguh menjalankan amanah tersebut. Bila seseorang benar-benar mengimani makna amanah ini, maka tidak ada amanah yang dikhianati.
Sungguh telah terbukti dalam sejarah, bahwa hancurnya sebuah negeri dan terlantarnya kemanusiaan adalah kerana kebusukan akhlak pemimpinnya dalam menjaga amanah. Ingat bahwa segala fasilitas untuk memenuhi kebutuhan manusia sudah Allah sediakan secara seimbang. Tidak mungkin Allah mendzalimi makhluk-Nya. Maka jika ternyata ditemukan ketimpangan di sana-sini itu pasti terjadi karena adanya kedzaliman yang diperbuat oleh manusia sendiri.
Benar, dunia ini tidak butuh banyak kehebatan dan keahlian manusia. Dunia ini sudah Allah lengkapi segala fasilitasnya. Bertahun-tahun manusia telah menjalani hidup di muka bumi. Dan terbukti bahwa memang Allah sediakan segala kebutuhan manusia. Berdasarkan ini, sebenarnya dunia ini hanya butuh satu kata: “kejujuran” (menjaga amanah). Bila kualitas ini hilang dari perilaku manusia, jangan di harap keseimabangan hidup akan berjalan dengan baik, apapun keahlian dan kehebatan teknologi yang dicapai manusia.
Ketiga, kata amanah identik dengan kata aman. Ini menunjukkan bahwa menjaga amanah dan menjalankannya dengan baik itu identik dengan memberikan rasa aman kepada kemanusiaan. Sebaliknya mengkhianati amanah adalah identik dengan menyebarkan kegelisahan bagi kemanusiaan.
Bila seorang kepala rumah tangga tidak amanah pasti penghuni rumah tangga tersebut tidak akan mendapatkan rasa aman. Istri dan anak pasti akan tercekan kegelisahan sepanjang masa. Lebih luas lagi, bila seorang pemimpin desa tidak amanah, pasti seluruh penduduk desa tersebut akan merasa menderita. Lebih besar lagi, bila seorang pemimpin kabupaten atau propinsi tidak amanah, sungguh bisa dipastikan bahwa seluruh rakyat di kabupaten atau di propinsi tersebut akan terseok-seok, jatuh dalam jurang penderitaan tak terhingga. Lalu bayangkan apa yang akan menimpa sebuah negeri bila sang pemimpin negeri dan seluruh jajaran kebinetnya tidak amanah? Wallahu a’lam bishshawab.
dakwatuna
Oleh: Saud Alba Radinas, LcA. Pendahuluan
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan berbagai macam kenikmatan kepada kita, terutama nikmat islam dan nikmat iman. Nikmat yang patut selalu kita syukuri, karena kehidupan ini hanyalah cobaan bagi manusia untuk menentukan pilihan pribadinya di kehidupan abadi kelak, kehidupan surga atau kehidupan neraka.
Untuk menjalankan pilihan tersebut, Allah telah menurunkan risalahnya kepada manusia melalui para Rasul yang ditutup oleh Rasul mulia Muhammad Saw. Kepada beliau Al-Quran diturunkan beserta As-Sunnah sebagai penduan perjalanan hidup manusia
Orang yang sukses dalam kehidupan ini dan mampu menguasai dunia adalah mereka yang berpegang dengan dua pedoman ini. Tidak heran apabila benyak kedengkian manusia kepada orang-orang yang berpegang dengan Al-Quran dan As-Sunnah, kemudian melakukan konspirasi dan maker terhadap dua pedoman ini, Al-Quran dan As-Sunnah. Melalui tulisan kecil ini kita akan melihat sekilas bagaimana propaganda musuh islam menyebarkan fitnah terhadap As-Sunnah, sehingga terjadi kesalahpahaman umat islam dalam memahami Al-Quran, dan menjalankan syariat sebagaimana mestinya, serta jauhnya umat islam dari agama mereka.
B. As-Sunah
1. Defenisi
Ringkasnya, defenisi As-Sunnah menurut ulama hadits adalah perkataan, perbuatan, pernyataan, dan sifat-sifat atau keadaan-keadaan yang disandarkan keoada Nabi Muhammad Saw.
Pemberitaan tentang unsur-unsur tersebut yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw. disebut hadits yang marfu'. Adapun yang disandarkan kepada para sahabat disebut hadits mauquf.Dan berita yang disandarkan kepada tabi'in disebut hadits maqthu'.Banyak refrensi buku hadits yang bisa kita temukan dalam membahas defenisi As-Sunnah, hadits, atsar dan lainnya.
2. Sejarah Ringkas Perkembangan As-Sunnah
Secara ringkas kita melihat para ulama membagi masa perkembangan hadits sebagai berikut:
a. Masa turunnya wahyu pada zaman Rasulullah (13 SH-10SH ).
b. Masa Khulafa ar-Rasyidin (11-40 H ).
c. Masa pencarian dan pengumpulan As-Sunnah pada masa tabi'in (41 H-akhir abad 1 H ).
d. Masa pembukuan As-Sunnah (Awal abad II H ).
e. Masa penyaringan As-Sunnah(abad III H )
f. Masa penyusunan kitab-kitab As-Sunnah(Abad IV H-VII H ).
g. Masa pembuatan kitab syarah hadits, kitab-kitab takhrij dan penyusunan kitab-kitab lainnya(Abad VII H dan seterusnya ).
Kita tidak akan membahas secara rinci sejarah perkembangan tersebut. Tapi yang jelas, pada zaman Rasulullah As-Sunnah belum ditulis karena:
a. Umat Islam sedang dikonsentrasikan kepada Al-Qur'an.
b. Agar Al-Quran tidak bercampur dengan selainnya
c. Nabi sendiri pernah melarangnya, kecuali bagi sahabat-sahabat tertentu yang diizinkan oleh beliau sebagai catatan pribadi.
d. Rasulullah berada ditengah-tengah ummat Islam sehingga dirasa tidak sangat perlu untuk dituliskan pada waktu itu.
e. Kemampuan tulis baca di kalangan sahabat sangat terbatas.
f. Kesibukan umat Islam dalam menghadapi perjuangan da'wah yang sangat penting.
Diantara sahabat-sahabat yang masyhur dalam meriwayatkan hadits adalah Abu Hurairah yang meriwayatkan hadits sekitar 5374 hadits. Abdullah bin Umar bin Khattab meriwayatkan sekitar 2630 hadits. Anas bin Malik sebanyak 2286 hadits. Abdullah bin Abbas sekitar 1160 hadits. Aisyah Ummul Mukminin meriwayatkan sebanyak 2210 buah. Jabir bin Abdillah meriwayatkan sebanyak 1540 buah. Abu Sa'id al-Khudri sebanyak 1170 hadits.Banyak sahabat lainnya yang meriwayatkan hadits.
Pada zaman-zaman berikutnya ternyata As-Sunnah belum sempat dibukukan karena sebab-sebab tertentu. Baru pada zaman Khalifah Umar bin Abdul Azis dari Bani Umayyah (99-101 H) timbul inisiatif dari beliau untuk menulis dan membukukan As-Sunnah secata resmi dari negara yang diamanahkan kepada imamAbu Bakar bin Muhammad Az-Zuhri. Sebelumnya As-Sunnah atau hadits hanya disampaikan melalui periwayatan dan hafalan-hafalan para sahabat yang kebetulan hidup lama setelah Nabi wafat dan pada masa tabi'in.
Berkat jasa-jasa dari para ulama, hadits-hadits kemudian sempat dibukukan dalam berbagai macam buku seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan An-Nasa’i dan ratusan buku lainnya. Semua itu dilalaksanakan dengan seleksi-seleksi dansyarat yang ketat serta manhaj (metode) yang benar dan jelas yang kemudian melahirkan disiplin ilmu tersendiri yang disebut Ilmu Musthalah Hadits, Jarah wat Ta’dil, Ilalul Hadits, Ikhtilaful Hadits, Takhrij dan ilmu lainnya yang kemudian berkembang dengan berbagai macam cabang-cabangnya sampai saat ini.
3. Kedudukan As-Sunnah
As-Sunnah menempati posisi kedua terpenting setelah Al-Quran dalam menetapkan hukum dalam Islam.As-Sunnah datang sebagai penjelas, perinci dan penguat dari hukum yang ada dalam Al-Quran, seperti shalat yang tata caranya hanya dijelaskan di dalam As-Sunnah.Ataupun perintah zakat dimana Al-Quran hanya menyebutkan hukumnya secara umum tanpa menjelaskan tata cara dan nishab serta hal lainnya yang berkaitan dengan zakat, kemudian dijelaskan oleh As-Sunnah.
Hal ini tak terlalu sulit dipahami, sebab Al-Quran adalah Kitab Allah yang hanya memuat ketentuan-ketentuan umum, prinsip-prinsip dasar dan garis-garis besar masalah.Sedangkan rinciannya dituangkan di dalam Sunnah Nabi.Dan memang harus demikian. Sebab jika tidak, sulit dibayangkan Al-Quran akan menjadi setebal apa,karena ia harus mencantumkan semua masalah kecil dan parsial yang tak ada batasnya, apalagi masalah yang dihadapi umat manusia tak pernah berhenti dari waktu ke waktu. Oleh karena itu As-Sunnah menjadi penting keberadaannya bagi syariat islam yang selalu relevan di setiap masa dan tempat.
C. Orientalisme
Melihat betapa urgensinya As-Sunnah dan perannya yang esensial dalam Islam, tidak mengherankan kenapa kalangan yang tidak senang pada Islam berupaya dengan gigih untuk mencari-cari kelemahannya, walaupun dengan cara mengada-ada. Tujuannya adalah untuk menggoyahkan kepercayaan umat Islam pada As-Sunnah ini. Sebab mereka memahami bahwa jika Sunnah dapat disingkirkan dari kehidupan umat Islam, maka otomatis Islam tidak akan dapat tegak. Karena, mustahil mempraktekkan Islam tanpa Sunnah Nabi. Dan seandainya Sunnah Nabi sudah dapat mereka sisihkan, terbukalah peluang untuk menyimpangkan Al-Qur`an dan memahaminya menurut selera masing-masing.
Beginilah siasat musuh-musuh Islam.Sebab selama ini, yang menjadi penghalang utama mereka untuk menyimpangkan pemahaman Al-Quran adalah petunjuk-petunjuk Sunnah yang membingkai pemahaman terhadap Al-Quran secara benar. Selama umat Islam berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah, maka upaya-upaya pihak luar akan senantiasa mengalami kegagalan
1. Defenisi
Banyak pengertian yang disebutkan oleh para ulama tentang arti orientalis dan orientalisme.Dalam bahasa inggris, kata Oerintalis merupakan kata bentukan dari kata Orient (kata benda) oriental (kata sifat) dan orientalis. Kata oriental dari bahasa Prancis, yaitu orient yang secara bahasa berarti timur. Orient secara geografis berarti dunia belahan timur.
Orientalis dalam bahasa arab adalah mustasyriq dengan timbangan isim fa’il dari istisyraq yang memiliki arti orientalisme, terambil dari bab istif’al. Ringkasnya orientalisme berarti ilmu ketimuran yang berkaitan dengan penduduknya, tanahnya, kekayaan, ekonomi, agama, pemikiran, tabiat manusia, lingkungan, dan lainntya yang berhubungan dengan ketimuran.Sedang pelakunya adalah orientalis.
2. Perang Salib dan Munculnya Orientalis
Berakhirnya perang salib yang telah berlangsung selama 2 abad yang terjadi di eropa dan asia, dan dimenangkan oleh umat islam mengokohkan satu makna bagi Negara barat, bahwa umat islam tidak bisa dikalahkan dengan kekuatan militer selama mereka berpegang teguh dengan ajaran agamanya. Oleh karena itu para politisi barat membuat konspirasi untuk melemahkan keyakinan umat islam dan menjauhkan mereka dari agama mereka yang benar. Timbullah usaha untuk mengenal dunia islam dan mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan islam dan Negara timur yang kemudian dinamakan orinetalisme. Semua itu dilakukan untuk menjauhkan umat islam dari agama mereka kemudian baru barat dapat menguasai dunia islam beserta kekayaannya.
Konspirasi ini meliputi bidang politik, militer, ekonomi, pemikiran, akhlak dan lainnya selama menguntungkan bagi barat.Konspirasi yang paling berbahaya adalah pemikiran yang sering disebut dengan Ghazwul Fikri, namun semua garapan konspirasi ini sangat berbahaya.Mereka merekrut tenaga dari kaum Kristen dan yahudi. Bahkan juga anak orang islam yang lemah imannya yang rela bekerja demi kepentingan barat.
3. Ciri-ciri Riset Orientalis
Dalam praktek risetnya, para orientalis memakai metode yang tidak layak sebagai metode ilmiah yang hilang dari nilai objektif. Ustadz Mustafa As-Siba’iy menyebutkanbeberapa ciri-ciri riset yang mereka lakukan diantaranya:
a. Didasari sikap buruk sangka (Su’u Azh-Zhan) dan pemahaman yang salah (Su’u Al-fahmi)baik terhadap landasan-landasan, nilai-nilai, maupun hal lainnya yang berkaitan dengan Islam, sehingga hasil-hasil penelitian dan karya-karya mereka adalah keraguan terhadap Islam serta kesimpulan-kesimpulan yang mereka buat keliru.
b. Didasari sikap buruk sangka terhadap para ulama-ulama Islam serta para pemimpin-pemimpin Islam, sehingga tidak ada ajaran Islam yang dapat diterima oleh mereka.
c. Memberikan gambaran bahwa masyarakat Islam adalah masyarakat yang senang berselisih, berpecah belah dan saling membunuh. Kesan ini terutama ditujukan pada masa-masa awal Islam
d. Melukiskan kebudayaan dan peradaban Islam dengan gambaran yang tidak sesuai dengan kenyataan, ditambahi penyimpangan-penyimpangan dan khayalan-khayalan mereka disana-sini.
e. Masa bodoh terhadap sifat masyarakat Islam yang hakiki. Mereka melihat masyarakat Islam dan menyamakannya dengan bangsa-bangsa mereka zaman dahulu.
f. Menjadikan nash-nash Islam tunduk sesuaidengan keinginan hawa nafsu mereka.
g. Sering melakukan penyimpangan terhadap nash-nash islamdari maksud sebenarnya. Salah memahami ibarat-ibarat ketika mereka tidak menemukan pentimpangan.
h. Memberikan status hukum sendiri terhadap referensi-referensi Islam, seperti menshahihkan kitab al-Hayawan karangan Ad-Damiri sebagai kitab hadits shahih, dan mendustakan kitab al-Muwaththa’ karangan Imam Malik padahal kitab ini merupakan kitab induk hadits shahih. Dan kitab lainnya yang tidak luput dari konspirasi mereka.
4. Tuduhan-tuduhan Orientalis
Sebenarnya banyak tuduhan yang disampaikan oleh para orientalis terhadap As-Sunnah. Diantara orientalis yang paling gencar dan berwawasan luas tentang keislaman adalah Prof. Ignas Goldziher, yang bukunya menjadi refrensi penting bagi para orientalis, Gostown Wite, A. J. Vensinck dan lainnya. Diantaranya tuduhan yang dipropagandakan oleh Goldziher adalah:
a. Sebagian besar hadits merupakan produk perkembangan Islam di bidang politik dan Sosial.
b. Para sahabat dan tabi’in berperan dalam pemalsuan hadits.
c. Ada rentang waktu dan jarak yang jauh dari masa Rasulullah Saw, membuka peluang bagi para tokoh berbagai kelompok untuk membuat hadits dengan tujuan memperkuat kelompok mereka, bahkan tidak satupun kelompok yang tidak memperkuat pendapat mereka dengan hadtis-hadits yang tampaknya asli dalam bidang akidah fiqh dan politik.
d. Sudut pandang para kritikus dikalangan Islam berbeda dengan sudut pandang para kritikus non muslim yang tidak menerima banyak hadits yang diakui kebenarannya oleh umat Islam.
e. Dia menggambarkan enam kitab hadits yang disusun para ulama sebagai himpunan dari hadits-hadits yang tercecer yang oleh para penghimpunnya dinilai sebagai hadits-hadits shahih.
Berikut adalah bantahan terhadap tuduhan-tuduhan Ignas Goldziher:
1. Sebagian besar hadits merupakan produk perkembangan Islam di bidang politik dan sosial sepanjang dua abad pertama adalah tidak benar. Karena sejak masa sahabat (abad pertama) umat Islam telah melakukan penyelidikan terhadap hadits-hadits dan “memburu” para pendusta dan pemalsu hadits. Mereka mengetahui mana hadits yang sahih dan mana yang palsu. Al-Quran mengajarkan prinsip-prinsip yang universal yang sesuai dengan segala tempat dan waktu. Ia tidak mengajarkan cara-cara pelaksanaan yang berubah-ubah sesuai dengan situasi dan kondisi. Allah memberikan kebebasan kepada para penguasa untuk berkreasi tentang pelaksanaannya. Oleh karena itu mereka tidak perlu membuat-buat hadits untuk melegitimasi tindakan mereka. Prinsip-prinsip universal tersbeut sudah cukup bagi mereka dalam menjalankan segala urusan mereka.
2. Umat islam terdahulu (sahabat dan tabi’in) berperan dalam pemalusan hadits, itu tidak benar, karena para sahabat dan tabi’in itu sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Mereka sangat takut terhadap ancaman Rasulullah yang menyatakan bahwa “Barang siapa yang mendustakan ajaranku maka hendaklah ia menempati tempat duduk di neraka.”Oleh karena itu mereka memilih sedikit meriwayatkan hadtis bahkan ada yang tidak meriwayatkan satu haditspun.
3. Adanya kemungkinan pihak-pihak tertentu membuat-buat hadits guna menopang pendapat mereka, itu bisa-bisa saja. Akan tetapi tidaklah berarti bahwa tokoh-tokoh aliran fiqh, teologi, dan politik telah membuat-buat hadits. Hal itu tidak lebih dari buruk sangkanya Goldziher terhadap tokoh aliran-aliran tersebut. Barangkali yang tidak dipahaminya adalah bahwa perbedaan pendapat diantara para sahabat dan ulama fiqh dilatar belakangi oleh banyak faktor, bukan karena kehendak hawa nafsu atau sikap fanatik. Mereka berhukum dengan hadits-hadits yang sampai kepada mereka, dan mereka berbeda dalam memberikan penilaian. Sebahagian menilanya dapat dijadikan dalil (hujjah) dan yang lain menilai tidak, atau boleh jadi hadits-hadtis itu dipegang sebagai dalil oleh semua mereka namun hasil istinbat mereka tidak sama.
Oleh karena itu tidak logis kalau dikatakan mereka telah membuat-buat hadits atau mendustakan Rasulullah untuk mendukung pendapat-pendapat mereka. Mereka semua sepakat untuk mengikuti sunnah atau hadits Rasulullah.
4. Perbedaan sudut pandang antara kritikus muslim dnegan kritikus non muslim sangat berbeda. Kritikus muslim melakukan kritik terhadap hadits dengan kaidah-kaidah dan prinsip yang telah dirumuskan dengan baik, dalam rangka mencari dan meneliti keshahihan suatu hadits guna memelihara kemurnian ajaran yang dibwah oleh Muahmmad yang di imani sebagai Rasulullah. Sedangkan kritikus non muslim melakukan kritik terhadap hadits dengan motivasi mencari-cari titik lemah dari sumber ajaran Islam kedua ini. Sasaran akhirnya tidak lain agar syari’at Islam itu tidak bisa ditegakkan.
Dengan titik tolak yang berbeda, tujuan yang berbeda jelas akan mengahasilkan hal yang berbeda pula. Hal itu sekali-kali tidaklah akan merugikan kita sepanjang metode serta kaidah-kaidah yang digunakan itu dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Namun mereka-mereka yang mau bersikap objektif selalu akan menerima dan mengakuinya.
5. Bahwa keenam kitab hadits yang disusun oleh para ulama itu merupakan kumpulan dari hadits-hadits yang tercecer. Pendapat itu tidak bisa diterima, karena dengan begitu berarti tidak menghargai jerih payah para ulama dalam memelihara hadits selama abad pertama dan kedua. Hadits tidak pernah tercecer karena sebahagian besarnya telah dipraktek umat Islam. Hadits-hadits itu hidup dalam praktek sehari-hari. Dan hal itu tidak terbatas hanya dalam masa sahabat dan tabi’in saja. Hadits-hadits telah tersebar keberbagai wilayah taklukan selama abad pertama dan kedua itu. Hadits-hadits itu berpindah dari suatu generasi ke generasi berikutnya dan terpelihara dalam hafalan para penghafalnya. Catatan-catatan mereka terkumpul dalam kitab-kitab himpunan hadtis dengan juz-juz serta bab-bab yang telah sistematis oleh para ulama pada abad pertengahan abad kedua. Hadits-hadits yang dapat dihimpun oleh Bukhari dan Muslim serta para penghimpun lainnya itu merupakan hasil sortiran dari beribu-ribu hadits yang tersimpan dalam hafalan-hafalan para penghafal hadits.
Demikianlah penuturan Syeikh Ajaj al-Khatib memberikan bantahan.Dan bayak syubhat dan tuduhan lainnya yang disampaikan oleh Goldziher sebagaimana yang disebutkan oleh Ustadz Mustafa As-Siba’iy seperti kritikan Goldziherterhadap imam Az_Zuhri yang ditugaskan oleh Umar bin Abdul Aziz untuk mengumpulkan dan membukukan hadits Nabi sebagi seorang yang pembohong dan mengikuti hawa nafsunya dan kaki tangan pemerintah saat itu.
Dia juga menyebutkan bahwa Imam Az-Zuhri sendiri mengaku bahwa dirinya dipaksa untuk melakukan permintaan khalifah untuk mengumpulkan hadits.
Itu baru dari seorang orientalis, banyak lagi orientalis lainnya yang juga melemparkan tuduhan-ruduhan yang tidak berdasar.Bahkan diantara mereka ada yang berkumpul untuk membuat karya guna memudahkan mereka memutar balik lafaz hadits seperti Mu’jam Al-Mufahras Li Alfazh Al-Hadits An-Nabawy yang merupakan hasil kerja kolektif sejumlah orientalis, yang diketuai oleh A. J. Vensinck. Meskipun karya ini termasuk spektakuler dikalangan orientalis, tetapi ensiklopedi ini tidak ada apa-apanya dibanding karya ulama islam yang telah lebih dahulu berabad sebelum mereka membuat ensiklopedi hadits. Seperti imam Al-Mizziy dengan Tuhfahnya, imam zailay dan lainnya.
Paling tidak ada lima kitab yang secara detail mengupas kekeliruan orientalis dalam memahami sejarah kodifikasi sunnah ini, antara lain : (1) “Dirasat fi al-Hadits an-Nabawy” oleh al-A’zhamy yang terdiri dari dua jilid, merupakan salah satu referensi penting dalam pembukuan sunnah pada masa awal, (2) “As-Sunnah Qabla at-Tadwin” yaitu kitab yang pada awalnya merupakan thesis “Master” di Darul-Ulum, Universitas Kairo, (3) “As-Sunnah wa Makanatuha fi at-Tasyri’ al-Islamy” oleh Musthafa as-Siba’i, disertasi “doktor” di Al-Azhar dan telah dicetak berulangkali, (4) “Tawtsiq as-Sunnah fi al-Qarni ats-Tsani al-Hijry” (Autentikasi Sunnah pada Abad Kedua Hijrah) oleh Rif’at Fawzy, dari Darul ‘Ulum, Kairo yang mulanya merupakan disertasi “doktor” penulisnya. (5) “Difa’ ‘an as-Sunnah” oleh Muhammad Abu Syahbah dari Al-Azhar. Bagi yang ingin lebih mendalam silakan merujuk kedalam buku-buku tersebut.
D. Penutup
Para orientalis hanya menghabiskan waktu dan tenaga serta financial mereka untuk mencari kelemahan di dalam As-Sunnah guna menjauhkan umat islam dari agamanya. Untuk diketahui usaha itu tidak akan berhasil Karena mereka harus tahu bahwa Allah sudah berjanji akan menjaga agama ini wallaupun dengan seorang yang pendosa seperti kitab Mu’jam Al-Mufahras yang akhirnya memberikan manfaat bagi umat islam.
Wallahu A’lam
Disarikan dari
1. As-Sunnah wa Makanatuha fi at-Tasyri’ al-Islamy” oleh Musthafa as-Siba’I cetakan 3 darusslam Kairo tahun 2006
2. Ithar Islami Lil Fikri Al-Mu’ashir oleh Anwar al-jundy cetakan maktabah al-islami Beirut tahun 1980
3. Dr. Daud Rasyid di http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/23/sunnah-dan-orientalis/
4. http://dotproductions.wordpress.com/2010/02/09/orientalis-barat/

Sedekah bisa menjadi obat bagi penyakit Anda! Rasulullah n bersabda :
دَاوُوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ
“Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.” (HR. Baihaqi)
فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَ مَالِهِ وَ نَفْسِهِ وَ وَلَدِهِ وَ جَارِهِ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلاَةُ وَالصَّدَقَةُ وَاْلأَمْرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ
“Ujian yang menimpa seseorang pada keluarga, harta, jiwa, anak, dan tetangganya bisa dihapus dengan puasa, shalat, sedekah, dan amar makruf nahi munkar.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah kisah-kisah nyata yang akan membuat semua orang beriman terpana. Betapa
sedekah memiliki keajaiban tiada tara. Namun, mengapa masih banyak orang yang tidak gemar melakukannya?
Baca dulu kisahnya, dan semoga akan segera tergugah jiwa Anda. Bagi saudaraku yang masih terbaring sakit, walaupun Anda mungkin masih menjalani pengobatan medis, tak mengapa, tetaplah bersedekah. Dengan keikhlasan niat dan kemantapan iman, sedekah yang Anda keluarkan itu insya’ Allah akan mempercepat kesembuhan Anda. Simak baik-baik kumpulan kisah nyata di bawah ini!
Bisul di Wajahnya Sirna
Disebutkan di dalam kitab Shahihut Targhib wat Tarhib 964 M, dari Imam Baihaqi v, bahwa ia berkata, “Ada kisah Syaikh Hakim Abi ‘Abdillah v, bahwa ia memiliki bisul di wajah dan telah diobati dengan berbagai macam obat, tapi tak kunjung sembuh juga. Sudah hampir satu tahun lamanya bisul tersebut menghinggapi wajahnya. Kemudian ia meminta kepada Ustadz Imam Abu ‘Utsman Ash-Shobuni untuk mendoakannya di majelis beliau pada hari Jumat. Beliau pun mendoakannya dan diamini oleh banyak orang.
Pada hari Jumat berikutnya ada seorang wanita yang menyampaikan selembar surat yang mengatakan bahwa sesampainya di rumah, ia kemudian bersungguh-sungguh dalam mendoakan Hakim Abu ‘Abdillah pada malam harinya. Lalu dalam tidurnya, ia bermimpi bertemu dengan Rasulullah n yang seakan-akan bersabda kepadanya, “Katakan kepada Abu ‘Abdillah agar melapangkan air bagi kaum muslimin.” Kemudian aku membawa surat tersebut kepada Hakim. Lalu Hakim memerintahkan agar membuat galian di depan pintu rumahnya. Setelah galian tersebut selesai dikerjakan, beliau memerintahkan agar memenuhi galian tersebut dengan air dan kerikil. Orang-orang pun mulai mengambil air tersebut untuk minum. Tidak sampai satu pekan, tanda-tanda kesembuhan telah nampak pada Abu ‘Abdillah. Maka wajahnya telah kembali tampan seperti sedia kala. Setelah peristiwa itu beliau masih hidup selama beberapa tahun.[1]
Galilah Sumur, dan Sakitmu Akan Sembuh
Di dalam Siyar A’lamin Nubala’ 8/407 disebutkan bahwa ada seorang laki-laki yang bertanya kepada ‘Abdullah bin Mubarak v tentang luka bernanah (bisul) yang keluar dari lututnya sejak tujuh tahun yang lalu. Ia telah mengobatinya dengan berbagai macam obat dan banyak bertanya kepada para dokter, tetapi belum sembuh juga. Maka beliau pun menjawab, “Pulanglah, lalu galilah sumur di tempat orang-orang yang membutuhkan air. Sesungguhnya aku berharap akan keluar mata air di sana, dan darahmu akan berhenti.” Lelaki itu pun melaksanakan perintah Ibnul Mubarok, maka ia pun sembuh.[2]
Penyakit Kanker Sembuh Dengan Sedekah
Disebutkan bahwa ada seorang laki-laki yang mengidap penyakit kanker. Ia sudah berkeliling dunia untuk mencari obat, namun ia belum mendapatkannya. Maka, ia pun bersedekah kepada ibu anak yatim, sehingga Allah memberikan kesembuhan kepadanya.[3]
Sembuh Karena Berinfak kepada Anak Yatim
Ada seorang wanita yang tinggal di Arab Saudi bercerita, “Aku menderita penyakit kanker beberapa tahun, dan aku yakin maut telah mendekat. Aku menginfakkan penghasilanku dari menjadi tukang bordir kepada anak-anak yatim. Setiap harta yang aku infakkan kepada mereka, maka Allah membalasku dengan berlipat ganda, dan akhirnya Dia memberikan kesembuhan dari penyakitku, karena disebabkan infakku kepada anak-anak yatim.”[4]
Wanita Mandul Itu Bisa Hamil
Ada seorang wanita yang mendapat cobaan dengan kemandulan, ia tak dikaruniai anak. Para dokter telah berputus asa dari kemungkinan ia bisa hamil, dan bahwa penyakit itu memang tidak ada obatnya. Maka, Allah Ta’ala memberikan taufik kepadanya agar ia bersedekah kepada seorang wanita fakir. Sesudah ia bersedekah kepada wanita itu, ia meminta kepadanya agar mendoakan dirinya dikaruniai anak shalih. Setelah berlalu tiga bulan, wanita itu pun mengandung dua anak kembar!![5]
Penglihatannya Kembali Normal Seperti Sedia Kala
Seorang anak kecil bermain bersama saudaranya, tangannya membawa pisau. Tiba-tiba saja, ia memukulkan pisau tersebut ke mata saudarinya. Dengan cepat saudarinya tersebut dilarikan ke rumah sakit. Kemudian ia dipindahkan ke Riyadh. Setelah diperiksa dan dirongent, tim dokter memutuskan bahwa harapan kornea matanya bisa kembali normal amat tipis, sehingga sangat mustahil ia bisa melihat kembali seperti sedia kala.
Suatu hari sang ibu yang menemani anak perempuannya (yang sedang sakit) tersebut teringat tentang keutamaan sedekah. Maka, ia meminta kepada suaminya agar membawakan batangan emas yang dimilikinya, di mana ia tidak memiliki kekayaan selain barang tersebut. Ia ingin mensedekahkannya, meski sebenarnya secara materi ia juga kekurangan. Ia berdoa kepada Allah seraya berucap, “Wahai Robbku, Engkau tahu bahwa aku tidak memiliki harta selain barang itu, maka jadikanlah sedekahku ini sebagai sarana kesembuhan anak putriku ini.”
Keesokan harinya dokter datang untuk kembali memeriksa anak tersebut, ternyata perkataan dokter tetap seperti kemarin, anaknya tidak ada harapan sembuh. Beberapa hari kemudian, datang dokter lain dan memeriksanya, ia berpikir dan memperhatikan dengan cermat. Tiba-tiba saja, dokter itu menginstruksikan untuk mengadakan operasi. Ternyata operasi itu berhasil, semata-mata karena karunia Allah. Al-hamdulillah, akhirnya sang anak perempuan itu bisa kembali ke rumahnya dengan selamat, tanpa ada sedikit pun bekas luka di wajahnya, dan penglihatannya kembali normal seperti sedia kala.[6]
Putrinya Sembuh Lantaran Sedekah
Ada sebuah kisah yang disampaikan oleh Syaikh Sulaiman Al-Mufarraj –-semoga Allah memberinya taufik–, bahwa seseorang telah bercerita kepada Syaikh perihal kisah ajaib yang dialaminya, ia mengatakan, “Aku memiliki anak perempuan yang masih kecil, yang terkena penyakit di tenggorokannya. Aku telah pergi bersamanya ke beberapa rumah sakit dan telah membeberkan jenis penyakit yang dialami anakku kepada banyak dokter, namun semuanya tidak bermanfaat. Sakitnya menjadi semakin bandel. Aku hampir saja ikut sakit lantaran memikirkan sakit anakku, yang menjadikan semua anggota keluarga tak bisa tidur. Kami telah menempuh langkah-langkah untuk meringankan sakitnya, hingga akhirnya kami merasa putus asa dari semua itu, kecuali dari rahmat Allah Ta’ala.
Sampai suatu ketika datanglah secercah harapan dan terbukalah pintu solusi. Ada seorang yang shalih menghubungiku dan mengingatkanku akan hadits Nabi n :
دَوُّوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ
“Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.” (HR. Thabrani dan Baihaqi)
Aku berkata kepadanya, “Sungguh, aku telah banyak bersedekah.” Ia kembali berkata, “Bersedekahlah saat ini dengan niat agar putrimu mendapatkan kesembuhan.” Akhirnya, aku pun bersedekah dengan dilandasi kerendahan hati kepada salah seorang fakir, namun segala sesuatunya tak ada perubahan. Aku menginformasikan hal ini kepada orang shalih itu, dan ia berkata, “Anda termasuk orang yang memiliki banyak harta. Hendaklah sedekahmu seukuran dengan hartamu.”
Aku pun pergi untuk kedua kalinya, dan mobilku kupenuhi dengan beras, ayam dan barang yang baik-baik dalam jumlah yang besar, lalu kubagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Mereka pun bergembira dengan sedekahku. Dan subhanallah, tiba-tiba putriku menjadi sembuh total, alhamdulillah.
Aku yakin bahwa sedekah merupakan faktor penyebab kesembuhan yang terbesar. Sekarang, berkat anugerah Allah, putriku selama tiga tahun ini tidak pernah terkena penyakit apa pun. Sejak itulah aku memperbanyak sedekahku, khususnya pada waktu-waktu yang baik. Dan, aku setiap hari merasakan kenikmatan, keberkahan dan kesehatan dalam hal harta dan keluargaku. Aku pun menasihati setiap orang yang sakit agar bersedekah dengan harta yang paling berharga yang ia miliki. Hendaknya ia ulangi sedekahnya itu, niscaya Allah Ta’ala pasti akan menyembuhkannya. Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”[7]
Emas yang Disedekahkan Membawa Kesembuhan Anaknya
Seorang pemuda masuk ke rumah sakit karena penyakit parah yang dideritanya -–semoga Allah memberikan keselamatan dan kesehatan kepada kita dan menyembuhkan kaum muslimin yang sedang sakit-–. Setelah diperiksa, tim dokter menetapkan bahwa harapannya untuk sembuh sangat tipis. Dokter berkata kepada sang ibu yang menemaninya, “Penuhilah keinginan-keinginannya, sepertinya ia tidak mempunyai harapan sembuh lagi, namun Allohlah yang paling mengetahui.”
Sang ibu sangat terpukul dengan informasi tersebut. Ia teringat dengan belahan hatinya, ia khawatir jangan-jangan harus berpisah dengannya selama-lamanya. Maka, ia pun menjual semua emas yang dimilikinya, kemudian mensedekahkan seluruh uang hasil penjualannya. Beberapa hari kemudian, dokter memberitahukan kepada sang ibu bahwa anaknya ada harapan untuk sembuh, dan keadaannya membaik sedikit demi sedikit. Akhirnya beberapa hari kemudian, keluarlah pemuda itu dari rumah sakit dalam keadaan sehat wal afiat. Semuanya memuji kepada Allah l atas kesembuhan dan kasih sayang-Nya.[8]
Terkena ‘Ain, Sembuh Dengan Sedekah
Syaikh Sulaiman Al-Mufarraj mengatakan bahwa ada seseorang bercerita kepadanya, orang itu berkata, “Saudaraku pergi ke suatu tempat, lalu berhenti di salah satu jalan. Tatkala sampai di tempat itu, ia tidak mengeluhkan apa pun, namun tiba-tiba ia jatuh pingsan, seperti terkena tembakan senapan di kepalanya. Kami memprediksi bahwa ia terkena penyakit ‘ain atau mengidap penyakit tumor atau terjadi pembekuan pada pembuluh darah di otak.
Kami segera pergi ke beberapa rumah sakit dan klinik pengobatan, lalu ia diperiksa dan dirontgen. Hasil pemeriksaan mengatakan bahwa kepalanya sehat, namun ia terus mengeluhkan rasa sakit di saat akan tidur, sehingga ia sering memilih untuk tidak tidur. Namun, di saat yang lain ia merasa sehat.
Apabila sakitnya kambuh, ia tak mampu bernafas dan berbicara. Syaikh Sulaiman pun berkata, “Apakah Anda memiliki harta yang bisa kami sedekahkan untukmu, semoga Allah menyembuhkanmu!” Ia menjawab, “Ya. Saya memiliki harta kira-kira jumlahnya 7.000 riyal.” Maka, sang Syaikh segera menghubungi seorang yang shalih yang mengetahui keadaan orang-orang miskin, untuk membagi-bagikan sedekah itu kepada mereka.
Orang itu berkata, “Aku bersumpah demi Allah yang Maha Agung, bahwa saudaraku itu sembuh dari sakitnya pada hari yang sama sebelum harta itu sampai ke tangan orang-orang miskin!! Dan, aku benar-benar tahu bahwa sedekah memang memiliki pengaruh yang besar dalam pengobatan berbagai penyakit.”[9]
Penyakit Demam Tak Berdaya Melawan Sedekah
Syaikh Sulaiman Al-Mufarraj mengatakan bahwa kisah ini diceritakan oleh pelakunya sendiri, orang itu berkata kepada Syaikh, “Anakku mengeluhkan penyakit demam dan panas, serta ia tak mau makan. Aku pun pergi bersamanya ke beberapa klinik pengobatan, namun panasnya tak kunjung turun dan keadaannya semakin memburuk.
Aku masuk ke dalam rumah disertai perasaan gelisah, tidak tahu apa yang harus aku perbuat. Isteriku berkata kepadaku, “Hendaklah kita bersedekah untuknya.” Aku pun segera menghubungi via telepon seseorang yang memiliki jalinan hubungan dengan orang-orang miskin, aku berkata kepadanya, “Aku berharap Anda mau shalat ‘Ashar di masjid, dan mau mengambil dari tempatku 20 kantong beras dan 20 boks ayam, lalu hendaklah Anda membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan.”
Aku bersumpah demi Allah, tidak sampai lima menit sesudah aku menutup gagang telepon, tiba-tiba anakku telah berlari-lari, bermain-main, berlompatan di atas sofa, dan makan-makan hingga kenyang, serta ia telah sembuh total berkat karunia Allah dan selanjutnya berkat keutamaan sedekah. Dan, aku berpesan kepada orang banyak agar memberikan perhatian kepada sedekah, saat terkena berbagai penyakit.”[10]
Sedekah Mengobati Penyakit Jiwa
Ada seorang wanita yang menderita penyakit jiwa yang parah. Salah seorang kerabatnya bangkit dan segera bersedekah dengan meniatkan kesembuhan untuknya kepada seorang yang shalih namun fakir yang menanggung beban hidup dua keluarga, dan ia meminta agar orang shalih itu mendoakan saudaranya. Maka, Allah pun menyelamatkan wanita itu dari bala’, dan sedekah itu menjadi penyebab kesembuhannya.
Saudara yang bersedekah itu mengatakan, “Demi Allah, tidak ada seorang pun dari keluargaku yang tahu tentang sedekahku. Sesungguhnya aku ingin menjadikan sedekah itu ikhlas untuk menggapai keridhaan Allah Ta’ala.” Segala puji bagi Allah, yang telah menyembuhkan kerabatnya dari penyakit jiwa yang dideritanya.[11]
Sakitnya Hilang Tanpa Bekas
Ada seorang wanita yang mengalami gagal ginjal -–kita memohon kepada Allah, semoga Dia memberikan keselamatan, kesehatan, dan kesembuhan bagi kaum muslimin yang sakit–. Ia sudah berulang kali memeriksakan dan mengobatkan sakit yang dideritanya tersebut. Akhirnya, ia mencari-cari sekiranya ada orang yang mau merelakan ginjalnya untuk disumbangkan kepada dirinya, ia siap membayar dengan uang sejumlah 20.000 riyal.
Tersebarlah berita tersebut di kalangan orang-orang ketika itu, hingga ada salah seorang wanita yang mendengar kabar tersebut yang akhirnya langsung menuju ke rumah sakit untuk mendonorkan ginjalnya. Ia menyetujui seluruh ketentuan-ketentuan yang diajukan kepadanya sebelum menjalani operasi. Di hari yang telah ditentukan, perempuan yang sakit tersebut menemui sang pendonor, ternyata ia sedang menangis. Karena heran melihat keadaannya, ia pun bertanya, “Apakah Anda merasa terpaksa dan keberatan dengan operasi yang akan Anda jalani?” Wanita pendonor itu berkata, “Sebenarnya tidak ada yang mendorongku untuk mendonorkan ginjalku selain kemiskinan yang menimpa diriku dan karena aku sangat membutuhkan uang.”
Wanita pendonor itu kembali menangis tersedu-sedu, maka wanita yang sedang sakit itu menenangkannya dengan mengatakan, “Silahkan engkau ambil uang ini, dan aku tidak menghendaki sesuatu pun darimu…”. Beberapa hari kemudian perempuan yang sakit tersebut kembali ke rumah sakit. Ketika tim dokter memeriksa penyakitnya, begitu terkejutnya mereka, karena tidak mendapati sedikit pun bekas sakit pada dirinya. Al-hamdulillah, ternyata Allah l telah menyembuhkannya.[12]
Sudah Masuk Ruang ICU, Mendadak Sembuh
Ada seorang wanita masuk ruang ICU (unit gawat darurat) karena penyakit parah yang dideritanya. Beberapa muhsinin (orang-orang yang suka berbuat kebaikan) mengetahui keadaannya, maka mereka pun menyembelih seekor unta dan meniatkan pahalanya untuk si wanita tersebut. Setelah itu, mereka mensedekahkan daging unta tersebut kepada para keluarga miskin untuk memenuhi kebutuhannya dengan mengharap pahala dari Allah l. Beberapa hari kemudian, akhirnya Allah memberikan kesembuhan kepada wanita tersebut. Hanya bagi Allohlah segala pujian dan karunia.[13]
Sedekah Menolak Gangguan Sihir
Dikisahkan, ada beberapa wanita yang berbincang-bincang tentang keajaiban sedekah. Dan, belum selesai para wanita itu membicarakan tentang keutamaan sedekah, tiba-tiba salah seorang wanita yang ada di antara mereka –-yang sedang terkena sihir– melepas kalungnya yang mahal harganya. Kalung itu kemudian ia berikan kepada salah seorang temannya agar dijual dan uangnya diberikan kepada para keluarga miskin.
Ketika temannya tersebut pergi ke tempat penjual emas dan sang penjual ingin menimbangnya, maka sang penjual mengeluarkan mata batu yang terletak di tengah kalung tersebut. Sang penjual begitu terheran-heran dan kebingungan dengan apa yang dilihatnya. Karena ia menyaksikan ada buhul sihir di dalam mata batu kalung itu. Sang penjual kemudian mengeluarkannya, dan alhamdulillah, akhirnya sembuhlah perempuan pemilik kalung tersebut dari penyakit yang selama ini dideritanya.[14]
Suami Bersedekah Emas, Isterinya Sembuh Seketika
Seorang dokter menelepon suami seorang wanita yang sedang terbaring sakit di sebuah rumah sakit. Dokter itu memberitahukan bahwa istrinya sedang mengalami masa kritis, dan dari tinjaun medis harapan untuk sembuh sangatlah tipis. Sang suami sangat terpukul dengan berita tersebut. Maka ia segera bergegas mengeluarkan sedekah berupa emas milik istrinya. Setelah itu, ia pergi ke rumah sakit. Beberapa saat kemudian, sang dokter memberitahukan kepadanya bahwa beberapa saat yang lalu (yakni saat bersamaan waktu sang suami bersedekah), nampak tanda-tanda membaik dan kesembuhan pada diri sang istri. Kemudian ia dipindahkan dari ruang ICU ke kamar perawatan biasa. Beberapa hari kemudian, ia telah keluar dari rumah sakit tersebut. Segala puji bagi Allah, Pemilik Keutamaan dan Kebaikan.
Gigi Gerahamnya Sembuh Total
Seorang juru dakwah wanita yang terkenal bercerita, “Aku berada di Al-Haram sejak beberapa tahun yang lalu. Suatu ketika gigi gerahamku sakit, yang aku agak terlambat dalam mengobatinya. Aku bahagia dengan keberadaanku di Al-Haram dan aku ingin menyibukkan diri dengan Al-Quran. Akan tetapi, jikalau penyakit itu terus terjadi, maka aku akan pergi ke dokter dan aku akan meluangkan waktuku.
Terlintas dalam benakku sebuah pikiran untuk menolak penyakit ini dengan sedekah. Akhirnya, aku pun bersedekah kepada seorang anak perempuan di Al-Haram. Demi Allah, hanya dalam waktu singkat, penyakitku menjadi sembuh. Dan sejak itu hingga waktu ini, aku tidak lagi membutuhkan dokter untuk mengobati penyakitku ini, karena penyakit itu tidak pernah lagi menyerangku.[15]
Diprediksi Mati, Allah Menyelamatkannya Dengan Sekedah
Syaikh ‘Abdul Hadi Badlah, Imam Masjid Jami’ur Ridhwan di Halab Syiria, pernah bercerita, “Di awal pernikahanku, Allah telah menganugerahkan kepadaku anak yang pertama. Kami sangat bergembira dengan anugerah ini. Akan tetapi, Allah l berkehendak menimpakan penyakit yang keras kepada anakku. Pengobatan seakan tak berdaya untuk menyembuhkannya, keadaan sang anak semakin memburuk, dan keadaan kami pun menjadi buruk karena sangat bersedih memikirkan keadaan buah hati kami dan cahaya mata kami. Kalian tentu tahu, apakah artinya anak bagi kedua orang tuanya, terutama ia adalah anak yang pertama!!
Perasaan buruk itu menyeruak di dalam hati, karena kami merasa tak berdaya memberikan pengobatan bagi penderitaan anak kami!!
Sehatnya kita memang merupakan perintah Allah dan ketentuan-Nya, namun kita memang harus mengambil langkah-langkah pengobatan dan tidak meninggalkan kesempatan atau sarana apa pun untuk mengobatinya.
Seorang yang baik menunjukkan kepada kami adanya seorang dokter yang berpengalaman dan terkenal, maka aku pun pergi bersama anakku kepadanya. Anakku mengeluhkam demam yang sangat tinggi, dan dokter itu berkata kepada kami, “Apabila panas anak Anda tidak turun malam ini, maka ia akan meninggal esok hari!!”
Aku kembali bersama sang anak dengan kegelisahan yang memuncak. Sakit menyerang hatiku, hingga kelopak mataku tak mampu terpejam tidur. Aku pun mengerjakan shalat, lalu pergi dengan wajah muram durja meninggalkan isteriku yang menangis sedih di dekat kepala anakku.
Aku terus berjalan di jalanan, dan tidak tahu apa yang harus aku perbuat untuk anakku!! Tiba-tiba aku teringat dengan sedekah, dan ingat dengan hadits Rasulullah n, tatkala beliau bersabda, “Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.” Namun, siapa yang akan aku temui di waktu malam seperti ini. Aku bisa saja mengetuk pintu seseorang dan bersedekah kepadanya, tapi apa yang akan ia katakan kepadaku jika aku melakukan hal itu?
Tatkala aku berada dalam kondisi bimbang seperti itu, tiba-tiba ada seekor kucing lapar yang mengeong di kegelapan malam. Aku menjadi ingat dengan sabda Rasulullah n tatkala ditanya oleh seorang sahabat, “Apakah berbuat baik kepada binatang bagi kami ada pahalanya?” Beliau n menjawab, “Di dalam setiap apa yang bernyawa ada pahalanya” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim). Aku pun segera masuk ke rumahku, mengambil sepotong daging, dan memberi makan kucing itu.
Aku menutup pintu belakang rumahku, dan suara pintu itu bercampur dengan suara istriku yang bertanya, “Apakah engkau telah kembali kepadaku dengan cepat?” Aku pun bergegas menuju ke arahnya. Dan, aku mendapatkan wajah isteriku telah berubah, dari permukaan wajahnya telah menyiratkan kegembiraan!
Ia berkata, “Sesudah engkau pergi, aku tertidur sebentar masih dalam keadaan duduk. Maka, aku melihat sebuah pemandangan yang menakjubkan!!”
Dalam tidurku, aku melihat diriku mendekap anakku. Tiba-tiba ada seekor burung hitam yang besar dari langit yang terbang hendak menyambar anak kita, untuk mengambilnya dariku. Aku menjadi sangat ketakutan, dan tidak tahu apa yang harus aku perbuat? Tiba-tiba muncul kepadaku seekor kucing yang menyerang secara dahsyat burung itu, dan keduanya pun saling bertempur. Aku tidak melihat kucing itu lebih kuat daripada burung itu, karena si burung badannya gemuk. Namun akhirnya, burung elang itu pun pergi menjauh. Aku terbangun mendengar suaramu ketika datang tadi.
Syaikh ‘Abdul Hadi berkata, “Aku tersenyum dan merasa gembira dengan kebaikan ini. Melihat aku tersenyum, isteriku menatap ke arahku dengan terheran-heran.”
Aku berkata kepadanya, “Semoga semuanya menjadi baik.”
Kami bergegas mendekati anak kami. Kami tak tahu siapa yang sampai terlebih dulu, tatkala penyakit demam itu sirna dan sang anak mulai membuka matanya. Dan, pada pagi hari berikutnya, sang anak telah bermain-main bersama anak-anak yang lain di desa ini, alhamdulillah.
Sesudah Syaikh menyebutkan kisah menakjubkan ini, anak tadi -–yang telah menjadi pemuda berumur 17 tahun, serta telah sempurna menghafalkan Al-Quran dan menekuni ilmu syar’i–, ia menyampaikan nasihat yang mendalam kepada kaum muslimin di masjid orang tuanya, Masjid Ar-Ridhwan di Halb, di salah satu malam dari sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan yang penuh berkah.[16]
Sumber : Buku “Berobat Dengan Sedekah”, karya Muhammad Albani, Penerbit Insan Kamil, Solo, Cet. X, Juni 2009
Footnote :
[1] Min ‘Ajaibish Shadaqah, hal. 41-42.
[2] Ibid, hal. 36-37.
[3] Min ‘Ajaibil ‘Ilaj bish Shadaqah.
[4] Min ‘Ajaibil ‘Ilaj bish Shadaqah, dengan beberapa perubahan redaksional.
[5] Min ‘Ajaibil ‘Ilaj bish Shadaqah.
[6] Min ‘Ajaibish Shadaqah, hal. 48-49.
[7] Min ‘Ajaibil ‘Ilaj bish Shadaqah.
[8] Min ‘Ajaibish Shadaqah, hal. 53.
[9] Min ‘Ajaibil ‘Ilaj bish Shadaqah.
[10] Min ‘Ajaibil ‘Ilaj bish Shadaqah.
[11] Min ‘Ajaibil ‘Ilaj bish Shadaqah.
[12] Min ‘Ajaibish Shadaqah, hal. 56.
[13] Min ‘Ajaibish Shadaqah, hal. 56.
[14] Min ‘Ajaibish Shadaqah, hal. 57.
[15] Min ‘Ajaibil ‘Ilaj bish Shadaqah.
[16] Min ‘Ajaibil ‘Ilaj bish Shadaqah.
tiketsurga.wordpress.com

Does religion play role in deciding America's relation with the Jews?
Surely, there is a total change in the relation of Jews and Christians. There are some changes in the traditional relation between Jews and Christians. History tells us about an enmity relation between both of them that backs to old time. Jews received Jesus in the worst way. They accused his mother, Mary the virgin, of fornication. They asked the Roman king of Jerusalem to kill Jesus. Needless to say, that Christians believe that Jesus, peace be upon him, was crucified and killed. However, we – Muslims – firmly believe that he was neither crucified nor killed; rather Allah raised him to heavens. Allah says: {And they did not kill him, nor did they crucify him; but [another] was made to resemble him to them.} [Surah An-Nisâ': 157] Christians believe in Jesus' crucifixion, a matter that led to mass doctrinal distortion in Christianity. Christians deem the Jews responsible for the crucifixion of Jesus. Such blame was not confined to the Jews who lived at the time of Jesus, but was also for all Jews through history. Jews were known in the Christian heritage as "Cursed Nation". The following incident witnesses to this fact. Upon making a treaty with the Muslims, Christian bishop of Jerusalem asked `Umâr Ibn al-Kattaâb – the Emir of the Believers – not to allow any Jew to enter or dwell in this holy city, no matter what were the circumstances.
There is a mutual hatred between Christians and Jews. Allah says in the Qur'ân: {The Jews say, "The Christians have nothing [true] to stand on," and the Christians say, "The Jews have nothing to stand on''} [al-Baqarah: 113]
Days pass and situations change. Nowadays, we witness a strange agreement between Christians and Jews. Moreover, we witness a Christian defense of Jews - in other words Christian defense of Jewish lies -, mutual religious visits, and Church Support for many Jewish issues, especially for those Jews who live in Palestine.
What is the secret behind this strange change?
We may not understand the reason beyond such change until we refer to history, while reading some events thoroughly to get an explanation of the current situation that we witness.
European Jews … Persecuted and forced to convert to Christianity
Jews lived under a series of European persecution. The polytheist Byzantines invaded Jerusalem in 70 AC. The Byzantines, under the leadership of Titus, massacred the Jews. This tragedy was repeated in 132 AC. at the hands of the Byzantine leader Elijah Hadrian. The Byzantine Empire adopted Christianity when its emperor Constantine converted to it. Then the whole Europe converted to Christianity. Consequently, there was a new series of persecution against Jews, but with a new ideology. This ideology is represented in the Christian persecution of the Cursed Nation that killed the Messiah, according to the Christian belief. This continued during most of the eras of the old European history. Moreover, Christians used to call the Jews "Infidels".
In the year 1290, there was a great escalation of such persecution. Edward I, the king of England, expelled all Jews from England. In 1306 Philip of France declared that the Jews of France had to choose one of the following: either to get out of France and never come back, or be killed, or convert to Christianity. Upon this the Jews divided into two groups. One group immigrated to al-Andalus (Spain) where Muslims were ruling there. Through ages, Muslims are famous for their respect of religious freedom as well as allowing religious minorities to practice their rituals.
The second group of Jews, however, converted publicly to Christianity, but kept their Judaism secretly. They did what the Jewish Rabbi of France at that time advised them. This group remained like this, hiding in the garment of Christianity. Moreover, some of them assumed some posts in the Church, and were promoted till they assumed leadership positions in the Church!
Jews and the Establishment of Protestantism
In the sixteenth century Jews took a very serious move that led to a strategic change in Europe and the world as whole. This move was nothing but altering the Christianity – which already was altered and distorted before – with the aim of changing it into a religion that serves the Jewish interests in the name of new Christianity. This new Christianity is called "Protestantism".
The German priest, Martin Luther – driven by the Jews – initiated the revolution against the Catholic Church that was dominating West Europe. He called for reform and was supported by all Jewish priests who controlled most of important positions in European churches. Martin Luther expressed his deep love of Jews in the book he wrote in 1523, which entitled "That Jesus Christ was Born a Jew". Although, Martine Luther was not a Jew – in order not to stir suspicions – but he writings show his love of Jews. For example, in his book "That Jesus Christ was Born a Jew", he said: "The Jews are of the best blood on earth" (Luther, l.c. xxv. 409); "through them alone the Holy Ghost wished to give all books of Holy Scripture to the world; they are the children and we are the guests and the strangers; indeed, like the Canaanitish woman, we should be satisfied to be the dogs that eat the crums which fall from their master’s table" (xxv. 260).
Jewish Priests & Jewish Ideas
Martine Luther did not only glorify Jews, but also spread - along with the Jewish priests – new ideas that ensure more support for Jews. The most important two ideas, that directly affected the European policy in general and that of the Protestants in specific, are as follows:
First Idea: He rejected some of the books of New Testament, believing that the New Testament witnessed a big distortion and alter, while advising his followers to depend mainly on the Old Testament. He views that the Old Testament (Torah) was not distorted (This is not true, because studies show that Old Testament also witnessed some distortion and alter. Moreover there are some Jewish writings in the field of biblical criticism that deal with this issue).
Luther managed to make the Bible (Torah), the Holy book of Jews, the book of the Protestants too.
The Second Idea: Jews inserted such idea in Protestantism. This idea is that the coming of the Messiah will never occur until the Jews have their national home in Palestine. According to this, Christians who love the Messiah and wait for his coming must help the Jews to have this national home. Moreover this turned into a protestant doctrine. Jews were deemed holy by the Protestants and that made them to be forgiven for their mistakes as well as receiving no criticism.
Catholic Rejection & European Disagreement
The Catholic Church absolutely refused such Protestant ideas. For Martine Luther's movement was deemed as a revolution against the Pope and the Catholic Church. There were a lot of conflicts between the Pope and Martine Luther. As a result Europe was divided into two. One part supports the Catholic Pope. The head of this part was France, the biggest catholic country in the world, and the Pope's most close ally, as well as Spain and Italy. As to the second part, it went against the pope militarily and politically, headed by Germany and England. This part held fast to the movement of Martine Luther, merely because it contradicts the pope, no matter if it is convincing or not.
In 1538 Henry VIII of England officially declared the separation of the Church of England from the Roman Catholic Church, and adopted some protestant ideas. Moreover, he allowed the Jews to enter England after the ban of Edward I in 1290 AC. England turned into a protestant country that supports Jews with all its power.
Martine Luther – during his last years - denied his praise of Jews and wrote a book in 1544 which entitled "On the Jews and their Lies". But his first thought was already spread in most European countries, and started to appear in the writings of thinkers, philosophers, and scholars who adopted Protestantism. For example, Isaac Newton wrote in his book entitled "Observations Upon the Prophecies of Daniel and the Apocalypse of St. John" about prophesies that Jews will come back to their home, saying: "The manner I know not. Let time be the Interpreter." [page 41] Also the German philosopher Kant referred to European Jews as 'Palestinians living among us'.
Discovery of America & French Revolution
European Protestants were subject of Catholic prosecution in Europe. So the Protestants, who bear the Jewish thought, directed the new country (America). By the passing of the time they outnumbered the Spanish Catholics who came to America earlier.
Then the French revolution took place in 1789 AC. The revolution attacked all old traditions in France. It got rid of Monarchy and everything related to it. Consequently, it declared its opposition to Catholicism and its adoption of Protestantism, despite the fact that it is a secular revolution that does not care about religion. This happened as a kind of rejection of everything old. When Napoleon invaded Palestine in 1799 AC. he called the Jews to come to Palestine from all over the world in order to establish their state. This act was in cope with the Protestantism which he believes in. However, his attempt failed as the Othman State along with England and Russia drove him out of Palestine. France adoption of Protestantism was a temporal one and France remained Catholic country.
Protestants & Jewish State
There were many calls from Protestants calling for glorifying Jews and establishing a state for them in Palestine. There were some American voices among these calls. For example, William Blackstone – a Protestant – sent the American president Benjamin Harrison in 1891 a petition entitled "Palestine for the Jews" He urged the start of Jewish return to Palestine. Note that such call was earlier than that of Theodor Herzl (it was in 1897).
Doctrines of Americans & British
After this historical background, let us have a deep look.
American Protestants are the biggest of Christian sects in America (more than 65% of American Christians), while Catholics are 30%. In England, the Protestants are 76%, while the Catholics are 24%. In German they are equal. In France, Italy, and Spain the majority are Catholics.
We notice the dominion of England then America as well as the Jewish effect in most political and economic systems of the world. Moreover, there is the unprecedented declaration which the catholic Pope was pressured to issue in 1966 that Jews are innocent of the charge of killing Jesus. This act, in my view, is political rather than religious one. For Catholics still worry from the Jews and their history.
Based on this, it is evident that the American and British love Jews, and defend their issues. This shows from the British facilitating of the establishment of a Jewish state. American continuous support of Jews is also clear. Such support is due to the American and British belief in the holiness of the Jews and their belief that the coming of the Messiah will not happen except if Jews return to Palestine. So there is no possibility that such countries may give up helping Jews unless a new doctrinal change happens!
This is the attitude of the peoples. Will the rulers and presidents act different? Or will they adopt the same attitude?
This is another topic.
I ask Allah to glorify Islam and Muslims.
Dr. Ragheb El Sergany

Menjadi pemimpin bukan semata-mata kemenangan karena terpilih, tapi lebih dari itu, sebagai amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Banyak hal yang harus diejawantah sebagai pemimpin orang beriman.
Pertama, teladan dalam ketakwaan dan paham kitabullah dan sunah (QS 65: 2). Sangat sulit disebut pemimpin jika tidak ada keteladanan dalam pencarian ridha Allah. Abu Bakar ash-Shiddiq menyeru ketika dilantik jadi khalifah, ''Jika kepemimpinanku benar menurut Alquran dan as-sunnah , maka ikuti aku. Tapi jika salah, tinggalkan aku.''
Kedua, wara' (berhati-hati dengan hukum Allah) dan istikamah. Tidak ada niat melabrak hukum Allah, bahkan konsisten dengan keimanan dan istikamah di jalan-Nya. (QS 41: 30-33).
Ketiga, sehat, kuat, cerdas, dan visioner. Seorang pemimpin harus punya visi dalam membangun dan menyejahterakan rakyat (QS 59: 18). Karena itu, daya tunjang kesehatan, fisik yang kuat dan kemampuan mengeksplorasi kecerdasan menjadi hal mutlak bagi seorang pemimpin. (QS 2: 247).
Keempat, ahli ibadah, zikir, tadabbur Quran, berjamaah di masjid, puasa sunah, dan ahli tahajjud. Memimpin butuh efektivitas dan kearifan. Hal ini akan didapatkan jika pemimpin itu ahli ibadah, gemar berzikir, suka membaca Alquran, kaki dibawa ke masjid, berlapar-lapar dengan puasa sunah, serta mau menyingkap selimut di waktu malam untuk bertahajud menghadap Allah. (QS 17: 79).
Kelima, tsiqah (bisa dipercaya), adil, jujur, amanah, tepat janji, tegas, dan berani. ''Sesungguhnya Allah memerintahkanmu memberikan amanah kepada yang berhak menerimanya. Jika hendak menetapkan hukum di antara manusia, berilah hukuman dengan adil ....'' (QS 4: 58).
Keenam, rendah hati, merakyat, tulus mencintai rakyatnya, serta dekat dengan anak yatim piatu dan fakir miskin (QS 4: 10). ''Hendaklah rendahkan hatimu kepada orang-orang yang beriman yang mengikutimu ....'' (QS 26: 215).
Ketujuh, jabatan menjadi washilah dakwah (QS 41: 34). Kedudukannya sebagai pemimpin bukan sebagai kehormatan, tetapi untuk kepentingan dakwah, yaitu mengajak umat dan rakyat makin dekat dengan Allah.
Kedelapan, sangat mendengar nasihat ulama, siap dikritik, terus belajar, dan tidak mudah tersinggung apalagi marah (QS 11: 88).
Terakhir, selalu berdoa untuk rakyatnya disertai tawakkal yang kuat. Indah sekali jika ada pemimpin, di siang hari ia berjibaku melayani rakyat, sedangkan malamnya ia tahajjud lalu mengangkat tangan dan berserah diri kepada-Nya. ''Maka jika kamu telah bertekad mengerjakan sesuatu (setelah berusaha) maka serahkan kepada Allah ....'' (QS 3: 159). Wa Allahu a'lam.
Oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham
republika

Oleh : Ustaz Hilmi Aminuddin"Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan ingkar kepada Allah dan menjatuhkan kaumnya ke negeri kebinasaan?" (QS Ibrahim: 28).
Setiap anak bangsa, terutama
para dai, semestinya menjunjung tinggi idealisme dan cita-cita bagi perbaikan negeri Indonesia ini dengan sesuatu yang bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Kenyataannya, hampir setiap hari, kita disuguhkan dengan peristiwa-peristiwa yang mencoreng negeri ini.
Pertunjukan drama abuse of power (penyalahgunaan kekuasaan), yang dilakukan oleh aparat pemerintah dan para penegak hukum, sangat menyesakkan dada. Mulai dari kriminalisasi KPK, kasus Century, makelar kasus dalam penggelapan pajak yang melibatkan aparat penegak hukum, hingga tertangkapnya sejumlah pengacara dan hakim PTUN oleh KPK.
Bangsa ini benar-benar tertinggal dalam persaingan dunia, bahkan oleh negara tetangganya. Kondisi negeri ini sangat memprihatinkan, menghinakan, dan menjadi bahan tertawaan negara-negara tetangga karena korupsi dan kemiskinan.
Kenyataan tersebut seakan mencerminkan firman Allah dalam QS 14:28 di atas, yakni negeri yang terancam menjadi daarul bawaar (negeri yang binasa) karena kesalahan dalam manajemen nikmat (baddallu ni'matallahi kufran).
Bila tak ingin negeri ini menjadi daarul bawar , terpuruk dalam kebinasaan, para dai sebagai kekuatan moral (force of power) harus memiliki peran konstruktif dan mengoreksi langkah-langkah salah para pemimpin negeri ini, temasuk para penegak hukumnya.
Tugas para dai adalah mengajak segenap anak negeri untuk melakukan harakatul inqadz (gerakan penyelamatan), dengan langkah awalnya adalah melakukan perubahan dalam memperlakukan nikmat Allah.
Rasulullah mengingatkan para dai agar memberikan peringatan kepada para pemimpin yang berada di pusat-pusat kedaulatan, kekuasaan, regulasi, serta perubahan agar rahmatan lil alamin menyebar lebih cepat. Karena, konsep perubahan tidak bisa dilepaskan dari upaya membuka kunci-kunci keberkahan dari Allah SWT untuk membawa masyarakat negeri ini ke arah yang lebih baik. (QS 7:96).
Jika para pemimpin negeri ini yang memiliki tanggung jawab mau bergerak dengan alur kehendak Allah, dukungan-Nya dalam segala aspek pasti akan datang. Selama ini, manajemen kufur nikmat yang dilakukan, telah menyebabkan kekayaan negeri ini digerogoti bangsa lain juga para pemimpinnya yang khianat.
Akibatnya, bangsa ini tidak memiliki izzah karena mengemis dan mengharap belas kasihan bangsa lain untuk mendapatkan kredit atau hibah. Padahal, bila bangsa ini makin bersyukur (QS 14:7), Allah akan melipatgandakan potensi nikmat bagi rakyatnya sehingga dapat menyebarkan kebajikan bagi bangsa lain di muka bumi.
republika

Zakat berarti bersih, berkah, tumbuh, dan berkembang. Artinya, setiap orang yang berzakat dari harta yang didapatkannya secara halal dan benar, dipastikan akan bersih, berkah, tumbuh, dan berkembang. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS Attaubah: 103.
"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan serta menyucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Juga, firman-Nya dalam QS Arruum: 39. "Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya)."
Zakat ditetapkan berdasarkan nas-nas Alquran dan Hadis Nabi yang bersifat qath'i sehingga kewajibannya bersifat mutlak dan sepanjang masa. Yusuf al-Qaradhawi menyatakan, zakat adalah kewajiban yang bersifat tetap dan terus-menerus. Ia akan berjalan terus selama Islam dan kaum Muslimin ada di muka bumi ini. Kewajiban tersebut tidak dapat dihapuskan oleh siapa pun.
Seperti halnya shalat, zakat merupakan tiang agama dan pokok ajaran Islam. Ia merupakan ibadah taqarrub kepada Allah. Maka itu, diperlukan keikhlasan saat menunaikannya. Zakat juga merupakan ibadah utama dalam rangka meningkatkan kesejahteraan umat.
Sementara itu, pajak keberadaannya sangat bergantung pada kebijakan pemerintah. Di negara kita, hukum pajak bersumber pada UUD 1945 dan undang-undang turunannya, seperti UU No 17 Tahun 2000 tentang Perubahan Ketiga atas UU No 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan.
Tentu saja, selain memiliki kewajiban membayar zakat, setiap Muslimin juga berkewajiban membayar pajak. Seperti dikemukakan dalam UU No 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat Bab IV Pasal 14 ayat (3) bahwa zakat yang telah dibayarkan kepada badan atau lembaga amil zakat dikurangkan dari laba (pendapatan) sisa kena pajak dari wajib pajak yang bersangkutan sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Meskipun antara zakat dan pajak terdapat perbedaan yang bersifat prinsip, keduanya merupakan harta amanah yang harus disalurkan tepat sasaran dan sesuai ketentuan.
Amil zakat yang menyelewengkan dana zakat, berdosa besar kepada Allah SWT dan khianat kepada sesama manusia. Dan, petugas pajak yang menyelewengkan dana pajak untuk memperkaya diri sendiri merupakan orang yang berbuat dosa besar di sisi Allah SWT. Hal tersebut adalah pengkhianatan yang sangat menjijikkan.
Kasus manipulasi pajak yang melibatkan oknum para penegak hukum merupakan sebuah bentuk pengkhianatan yang pelakunya harus dihukum sangat berat. Sehingga, hukuman itu memiliki efek jera agar pelakunya tidak melakukannya kembali. Wa Allahu A'lam
Oleh KH Didin Hafidhuddin